DIBALIK KENIKMATAN GAIB SELERA MAKAN HINGGA KOITUS

Sajak ini penuh rangsangan yang dahsyat, seperti ereksi alat vital untuk pemenuhan kenikmatan, saat selera pembangkit rasa dan karsa untuk melakukan mesum, padahal dahulu itu suci.

Sajak ini awal dari cerita erotis "ale deng beta" tentang daging mentah yang dipanggang dan ditaburi rempah, sehingga nikmat sekali saat dilumat seorang lelaki kelas atas; yang ternyata seperti sedang bersenggama dengan perawan yang memiliki belahan dada berisi.

Sajak ini tertuang seperti warna anggur yang memikat dipandang mata, saat pertama kalinya diteguk mengeluarkan aroma surgawi, sehingga sang pangeran terkejut dan menanyakan dari mana gerangan sumber rasa ini.?

Sajak ini membungkam prestasi nilai berlian dan emas, saat dahulu para saudagar kaya raya dan juga bangsawan mempertaruhkan kehormatannya untuk berkudis-kudisan di daratan bahkan harus mati diterpa gelombang laut, demi sekantong Cengkih, Pala, Kayu Manis bahkan Lada tiga warna.

Dan bahkan sajak ini penuh emosi, namun tak menyombongkan diri atau bahkan untuk menepuk dada, tentang jalur Spice islands sebagai tonggak sejarah dunia, yang kini telah kabur dan lenyap termakan usia.


Kudamati, 16 November 2013
Jimmy Pattiasina    

» Read More...

DI PUNCAK "HUA" MENYELAMATKAN



http://kabargress.com/2013/01/15/awas-penderita-hivaids-di-surabaya-terbanyak-se-jatim/
Mereka bilang ada yang hebat,
Mereka bilang ada yang tak terhingga,
Dan mereka juga bilang ada yang tak berujung,

Yah…  Aku mulai mendengar, mengerti dan memahami arti tentang hidup.
Yaitu diawali sebuah tangisan dialam fana;
dan diakhiri pula dengan banyak tangis perpisahaan sebagai tanda.

Mereka bilang yang tak kelihatan itu ada,
Mereka bilang yang tak berwujud sejatinya memiliki wujud,
Dan mereka juga bilang, jika ada tiga di dalam satu,

Yah…..  Adapun realitas “three in one”; dan aku mulai memahami apa artinya
sebuah tulisan tanpa seorang penulis atau sebuah kisah tanpa seorang pengarang yang menaskahi cerita.

» Read More...

#bukti; TRADISI NA'HAS itu masih terjaga di Maluku

Saya memang pernah menulis tentang "TRADISI NA'HAS", dan posting kali ini adalah salah satu bentuk pembuktian secara material bahwa Tradisi ini benar-benar masih terpelihara sampai hari ini.

Dari beberapa sumber yang pernah saya temui, dan dalam upaya pencarian data dan informasi tentang Tradisi ini, semakin menambah keingintahuan saya, ketika saya mendapatkan beberapa "catatan Na'has" dari beberapa sumber secara terpisah (dari orang-orang dengan latar belakang negeri-negeri yang berbeda pula), sehingga mengarahkan temuan saya kepada kesamaan dalam catatan Na'has sebelumnya. Tetapi ada asumsi saya, bahwa pasti ada catatan Na'has yang berbeda dari lazimnya yang sudah saya temui.

Dan pada tanggal 20 Oktober 2013, saya bertemu dengan salah seorang kepala Tukang di Negeri Booi, beliau (Burmanus Nanulaitta, umur 78 Tahun) menjelaskan tentang posisi sentral dari Tradisi Na'has, dengan diberikan kepada saya juga suatu catatan Na'has yang sudah berusia di atas 50 tahun (dapat anda lihat gambarnya di samping ini), sebagai salah satu panduan dasar bagi beliau yang kesehariannya menjadi seorang (salah satu) kepala tukang Senior di Negeri Booi, untuk menentukan mana waktu atau saat yang baik dalam memulai suatu pekerjaan pertukangan, membangun rumah, membangun gedung (sekolah, puskesmas, gereja), memotong bahan kayu untuk bangunan, mendirikan tiang bermula, membuat "adat bunu peng" (adat syukuran atas pembangunan sebuah bangunan rumah maupun gedung), dll. Artinya posisi dan pengaruh Tradisi Na'has begitu berpengaruh dan turut menentukan sukses dan tidaknya suatu pekerjaan.

» Read More...

GENDERANG PERANG ARU

Aku mungkin hanya mendengar cerita yang dihembuskan angin tentangmu Aru,

tetapi angin yang terhembus itu membuat bulu kudukku terus berdiri hingga kini, dan entah kenapa belum tertidur kembali, sebab aku tahu persis semangat solidaritas nenek moyang kita satu, sama-sama Kabaresi.

Aku mungkin belum menginjakkan kaki dan berdiri diatas tanahmu Aru,

tetapi jika aku berdiri di tanah Ambon, salah satu tanah raja, begitupun juga tanahmu itu tanah raja, pemberian nenek moyang kita, yang memiliki bau nafas yang sama, sebagai orang-orang Malenesia.

Aku mungkin mengangkat pena untuk melawan dengan tinta atau juga berteriak dengan keras, tetapi bagi kamu Aru,

angkatlah panah dan lawanlah sampai tumpah darah penghabisan,  jika ada orang dagang yang punya muka dua, atau yang memiliki lidah bercabang dua, yang berdesis siap mematukmu dari belakang, dapatilah mereka disekitarmu lalu potong putus bage dua.

» Read More...

Teknologi; Aku tergantikan

Impian yang terajut dalam tidur,
telah bermain dalam kata-kata ataupun benda
kini teruai dalam serat-serat nadimu; teknologi.

Bayangan setiap orang yang buram dan abstrak
nampak rapi dan terukur dalam kadiahmu,
yang memberikan jaminan akan arti sebuah kemudahan

» Read More...

Orang Ullath Pung Kapata

Selamat bertemu lagi saudara-saudari (basudara) tercinta, kali ini beta mau posting sesuatu yang agak berbeda, dan tentunya untuk menjawab penasaran para pembaca Tradisi Maluku yang mungkin saja menunggu posting terbaru. Kali ini ada tiga buah kapata dari orang Ullath di Pulau Saparua, yang sempat beta dapat 2 tahun kemarin dari salah satu sumber.

Sedikit penjelasan tentang kapata; menurut Leunard Heppy Lelapary
Tradisi lisan kapata, yaitu bentuk bahasa yang secara khusus digunakan oleh masyarakat dalam upacara adat, dengan irama tertentu, tersusun dalam larik-larik dan disampaikan dalam bentuk monolog maupun dialog. Bentuk tersebut hanya digunakan pada upacara-upacara adat pada masyarakat pemakai, seperti pada upacara panas pela, upacara pelantikan raja, upacara perkawinan dan upacara-upacara lainnya yang sejenis, dan digunakan oleh orang-orang tertentu, seperti kepala desa atau tua adat (sesepuh desa) yang menguasai adat.

» Read More...

ORANG PORTO-HARIA; Percakapan damai


"Ari Sahertian (Porto) dan Abraham Souisa (Haria) bercerita tentang persahabatan mereka yang terjalin semenjak kecil semasa bersekolah di kampung. 
Persahabatan yang terus bertahan bahkan semakin kokoh di tengah gejolak hubungan Porto-Haria yang menyeret banyak orang ke dalam tindakan-tindakan negatif.
Semoga kita bisa belajar dari mereka untuk tetap menjadi orang Porto dan orang Haria yang bisa “hidop bakusayang”. Sama orang tatua jaga bilang: “Baku bae lebe bae”." ~ lewat Media Center GPM 
Klik Link ini, anda bisa langsung melihat "Video Percakapan Mereka Berdua"
Posting Wesly Johannes

» Read More...

HITAM BETA HITAM

Menggambarkan isi otak ini, yang tertulis dengan tinta hitam, tentang hitam beta hitam;
dengan gambar berwarna hitam putih.


Hitam Beta Hitam..
Sebuah rahasia seperti kotak hitam
yang terletak di ujung timur yg berkulit hitam
persis dengan buah mangustang.


Hitam Beta Hitam..
Cengkeh kering dan Pala telah menghitamkan dunia, sejak dahulu sekitar laut hitam sampai benua biru. Dengan harga melebihi emas permata atau mutiara Hitam. 


Hitam Beta Hitam..
Palung Pulau Banda dengan hitam sejarahnya
terasa sulit ditembusi dengan mata hati hitam putih
dan nyaris terkubur rapat dalam peti mati berwarna hitam.


» Read More...

TENTANG BETA DENG ANTUA TERCINTA






Izinkan kalimat ini istori;
Yaitu tentang kisah yang batumbu indah, semenjak warna rambut putih satu-satu, sampe akang su pono anteru saat ini.

Izinkan kalimat ini berandai;
Jika bisa, waktu tolong kas bale beta kombali dolo, yaitu di taong yang sudah-sudah.

Izinkan kalimat ini mengenang;
Saat antua pulang pasar hari tiga, beta salalu dapa nasi pulut bulu, cucur, deng beta pung makanan cinta; nasi katang yang baliling-baliling.

» Read More...

TRADISI “BAWA TANGAN” dan “BAWA KARIMANG” DI ULLATH

“Tradisi Bawa Tangan” yang baru saja beta temukan dan saat mendengar tuturan cerita yang beragam dari pengalaman riil masyarakat Negeri Ullath (di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku), rasa-rasanya tidak sabar dan menjadi pilihan tepat sebagai salah satu posting menarik  edisi kali ini bagi pembaca setia Tradisi Maluku. 

Sebelum beta menjelaskan lebih lanjut, tujuan  menulis tradisi ini, adalah murni mengekspose realitas masyarakat Negeri Ullath, yang sampai hari ini, mayoritas masyarakat disana masih menjalankan dan mempercayai tradisi “bawa tangan” tersebut. Sehingga dalam penjelasan selengkapnya dari posting ini, tidak dinterpretasi secara berlebihan dari sisi norma agama konvensional kita masing-masing. Sebab hakekatnya, tradisi dan budaya adalah semacam kodrat masing-masing (dari masyarakat/komunitas yang menjalankannya) yang perlu di hargai oleh masyarakat lainnya yang tidak menjalankannya.

LATAR BELAKANG 

              Bagi Orang Ullath hubungan intim dari sebuah keluarga adalah segala-galanya. Sehingga relasi yang terbangun dari suatu ikatan keluarga (Geneologi) semenjak semasa hidup, tidak dapat dibatasi sampai kapanpun, termasuk kematian yang pada umumnya dianggap manusia, sebagai pembatas hubungan makhluk hidup di dalam dunia dengan segalanya. Yaitu ketika seseorang telah ”meninggal dunia”/mati  sama artinya hubungan kekeluargaan semasa hidup telah berakhir, tetapi bagi sebagian besar masyarakat Ullath, itu hanya perpindahan ruang dan waktu; sehingga roh dan arwah orang-orang yang telah meninggal dunia itu masih tetap ada seperti selayaknya di masih hidup. Sebagai contoh untuk mempermudah cara pandang masyarakat Ullath terkait hal ini adalah begini; jika semasa hidup sesorang terkenal sebagai seorang pemimpin paduan suara (di gereja), maka di alamnya sesudah ia meninggal dunia, orang tersebut dikenal oleh masyarakat (di dunia orang mati) juga sebagai pemimpin paduan suara. Ataupun saat semasa hidup seseorang terkenal sebagai kepala Kewang (Kepala Divisi perlindungan Petuanan Negeri, Hutan dan Pantai), maka di dunia orang matipun jabatan itu masih dimiliki olehnya.
  

» Read More...

"OOM JO"; Dr. Johanes Leimena

Johannes Leimena (anak kedua dari empat anak pasangan Dominggus Leimena dan Elizabeth Sulilatu) lahir tanggal 6 Maret 1905 di Ambon. Ia keturunan keluarga besar Leimena dari Desa Ema di Pulau Ambon dan dikenal dengan nama panggilan "Oom Jo". Ia seorang Kristen yang berbudi luhur. Ayahnya seorang guru, dengan demikian ia terhitung keturunan golongan menengah (pada saat itu). Pada usia lima tahun Johannes telah menjadi yatim. Kemudian ibunya menikah lagi, dan ia diasuh oleh pamannya.
Johannes kecil awalnya bersekolah di "Ambonsche Burgerschool" di Ambon karena paman yang mengasuhnya menjadi kepala sekolah di sana. Kemudian pamannya dipindahkan ke Cimahi. Keberangkatannya ke Cimahi merupakan titik balik dan kisah tersendiri bagi Johannes. Sebenarnya ibunya bersikeras tidak mengizinkan Johannes pergi, namun ia nekat menyelinap ke kapal dan baru menampakan diri saat kapal hendak bertolak. Tindakan nekatnya itu membuat ibunya pasrah dan berpesan agar pamannya mau menjadi pelindung baginya. Didikan pamannya yang penuh disiplin berhasil menempa Johannes dan menjadikannya murid yang berprestasi.

Tahun 1914, Johannes hijrah ke Batavia bersama pamannya. Di Batavia, Johannes melanjutkan studinya di "Europeesch Lagere School" (ELS), namun studinya hanya beberapa bulan saja, lalu ia pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (sekolah untuk anak asli orang Belanda, kini PSKD Kwitang), dan tamat tahun 1919. Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, Johannes memilih sekolah campuran dari berbagai golongan, yaitu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan tamat tahun 1922.

» Read More...

"UPULERU"; BAPAK ATOM MALUKU

Gerrit A. Siwabessy ( Lahir di Saparua, Maluku, 19 Agustus 1914 – meninggal di Jakarta, 11 November 1982 pada umur 68 tahun) adalah Menteri Badan Tenaga Atom Nasional dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1965 hingga 1978 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto.)

Masa kecil.    Gerrit Augustinus Siwabessy terlahir sebagai bungsu dari empat bersaudara pada 19 Agustus 1914 di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Enoch Siwabessy, ayahnya, seorang petani cengkeh, meninggal dunia ketika Gerrit baru berusia satu tahun. Ibunda Naatje Manuhutu kemudian menikah lagi dengan Yakub Leuwol, seorang guru sekolah dasar terpandang. Hal ini memungkinkan Gerrit menjalani pendidikan dasar dan menengah dengan baik. "Beta selalu menyertai tuan guru Leuwol yang berturut-turut ditempatkan sebagai guru di Larike, Tawiri dan Lateri," begitu tulis Siwabessy dalam memoarnya.

» Read More...

#satubaris; TANAH AIR BETA

Beta rekomendasi bagi semua basudara yang mengakui dirinya sebagai Orang Maluku di hari ini, dapat membaca tulisan ini "TANAH AIR BETA" oleh Wesly Johannes.

Tulisan ini membantu kita sebagai Masyarakat Maluku untuk memahami dengan benar siapakah kita di hari ini, dan gambaran fakta-fakta sejarah yang sangat terang untuk lebih menjelaskan lagi apakah beta dan ale di hari ini adalah orang Indonesia.?

Berikuti ini adalah tulisan yang saya kutip di salah satu forum, dimana Wesly Johannes membuatnya disana :

» Read More...

Bahasa Ambon hari-hari; Kata-kata Mutiara

Pisang tongka langit deng aer gula (merah), Jakarta tu apa?
Pisang tongkat langit dengan air gula merah, Jakarta itu apa? (Terjemahan Bahasa Indonesia)


Kalimat ini berasal dari orang Ullath di Pulau Saparua (Maluku Tengah); yang berarti jika mengenang salah satu makanan khas mereka, yaitu makan pisang tongkat langit dicampur dengan air gula merah rasanya sangat enak sekali, jika dibandingkan dengan rasa hendak berpergian ke Jakarta. hehehe

» Read More...

Tradisi Na'has

Ini adalah posting pertama di tahun 2013 dari beta bagi pembaca setia; tentang salah satu tradisi masyarakat Maluku. Tradisi ini beragam sebutannya, ada yang menyebutnya "Na'has" tetapi ada pula menamakannya "Nanaku", dan di Maluku Utara, Maluku Tenggara, atau di daerah lainnya memiliki sebutan yang berbeda juga. Tetapi tradisi yang beta namakan pada judul posting ini yaitu TRADISI NA'HAS, pada prakteknya memiliki kesamaan substansial.

Yaitu bagi mereka (yang masih mempercayai Tradisi Na'has ini) untuk menentukan atau menandai dalam hitungan-hitungan waktu tertentu sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, perjalanan, atau kegiatan; berdasarkan pada kalender waktu yang telah mereka dapatkan dari generasi terdahulunya. Sehingga biasanya untuk sebagian masyarakat di negeri-negeri Salam maupun Sarane yang ada di Maluku Tengah, atau yang ada di Maluku Utara, Maluku Tenggara, Buru,dll sebelum seseorang membuat kebun singkong (Kabong Kasbi) misalkan, mereka harus menyesuaikan pada waktu yang ada pada kalender Na'has; sebelum segala sesuatu dikerjakan.

» Read More...

SAMAHU TERUS BERJALAN



Kokoh, kuat, dan unik ada pada undak-undakmu
Sehingga keindahan menjadi pujian kini melekat padamu
Samahu; kau tahu aku adalah kau.
Samahu; bagi orang asing aku adalah kaum-mu.

Tahun ini inginku bercerita tentang pengalamanku
mulai dari Sasi sampai Ur-Puti;
dari Waihuhu di dusung pantai sampai di Hu’u dusung di gunung.
Pijakan kakiku mengikutimu sampai terngiang terus di perantauan.

» Read More...

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!