OPINI: Semangat Baru, Generasi Baru, Para Kapitang Malesi Baru

Tulisan ini sengaja dibuat menjelang perayaan hari Pattimura, yang begitu gigih berjuang bersama masyarakat Maluku yang hidup di kepulauan Lease, dan juga yang datang membantu dari pulau Seram 200 tahun silam, yang bertepatan jatuh pada tanggal 15 Mei 2017 besok.

Jika saja ada mesin waktu seperti di film-film holywood dapat diputar ulang untuk mengecek kembali bagaimana semangat yang dibangkitkan oleh para Kapitang dan Malesi yang mengatasnamakan kekuatan bangsa Maluku bagian selatan ini, yang berhasil menciptakan rasa ngeri dan rasa takut yang kuat bagi para kompeni dan serdadu VOC yang ada di Ambon dan terutama bagi mereka yang sedang bertugas di residen perwakilan Honimoa (baca: Saparua) yang ada pada saat itu.

Mungkin opini ini sengaja ditujukan untuk melihat sisi inferior (sebagai auto kritik terhadap BUDAYA DOMINAN) yang sengaja tidak diakomodir, sama seperti yang terjadi kurang lebihnya di 200 tahun yang lalu, bahwa jika tanpa dukungan para Kapitang, para Malessi, dan arahan para Latu-Patti, Orang Kaya, dan bijiruku-bijiruku dari masyarakat Maluku yang berperang melawan VOC di Honimoa (sebagai kekuatan aliansi pasukan yang sangat besar), mungkin saja tanggal 15 mei 1817 tidak akan pernah dicatat dalam sejarah bangsa Maluku. Dan kemudian kisah ini lalu disadur dalam konteks sejarah pra kemerdekaan NKRI, dimana memposisikan kapitan Pattimura sebagai pahlawan yang sangat heroik (yang katanya) dengan deretan para pahlawan pra kemerdekaan lainnya, memposisikan pahlawan asal Maluku bagian Selatan ini lantas dikenal secara umum dan diajarkan di sekolah-sekolah dasar, dari dulu hingga sekarang sebagai seorang pahlawan besar dengan nama Thomas Matulessy yang berasal dari satu negeri adat yang beragama Sarane (Kristen).

» Read More...

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!