oleh : Jimmy Pattiasina
Setiap negeri adat di Maluku yang tersebar di seribu pulaunya memiliki keberagaman dan karakater yang khas tentang tradisi dan budaya masing-masing negeri adat yang dipimpin oleh seorang Raja atau Orang Kaya.
Demikian halnya dengan orang Booi (negeri Booi), yang berada di
wilayah administrasi Kabupaten Maluku Tengah, yaitu di Pulau Saparua; yaitu sebagai
salah satu pulau yang bersejarah dalam konteks perjuangan pra
kemerdekaan Indonesia melawan Penjajah. Yaitu Kapitan Pattimura dengan para
Kapitan lainnya di Lease, yang bersekutu untuk menumbangkan keperkasaan benteng
Duurstede pada tahun 1817.
Negeri Booi dan masyarakatnya sejak kemenjadian mereka dari jaman pra sejarah
hingga kini di tahun 2016, telah menyimpan banyak sekali keunikan dari dasar-dasar tradisi
dan kebudayaan mereka sendiri. Sehingga produk-produk budaya sebagai wujud nyata warisan leluhur kepada generasi penerusnya di masa kini, masih
tersimpan, dan juga sejumlah bukti warisan budaya leluhur negeri Booi, hingga sekarang masih terlestari. Meskipun begitu dengan perkembangan jaman, sejumlah warisan budaya leluhur orang Booi, mulai berangsur-angsur sengaja dirubah oleh sebagian kelompok masyarakat yang berada di negeri Booi di hari ini.
» Read More...
"Ingatang ale ana e balajar bae-bae, supaya dong dapa hidop; biar deng kurang-kurang musti dong jadi Orang. Sebab lebe bae pikol tas par pi kantor, mar jang dudu di muka tungku".
Mungkin kalimat ini, beta mencoba mereduksi gaya bicara orang tatua dulu-dulu (khusus di Maluku) yang mendorong anak-anak gadis mereka, untuk bersekolah hingga ke perguruan tinggi. Sebab ada juga semacam budaya diskriminatif lainnya dari orang Tatua dulu-dulu kepada anak-anak perempuan mereka yang begitu membatasi hak-hak (khusus di bidang pendidikan) mereka, dan menariknya fakta inipun masih berlangsung sampai hari ini dikampung-kampung. Sebagai contoh ada suatu pernyataan seperti ini, yang pernah beta dengarkan dari salah satu orang tua, yaitu "lebe bae katong kas skolah katong pung ana-ana laki-laki, dong abis skola, dong bisa karja, kaweng bawa masuk keturunan par katong dan masi pulang pokok; dari pada kas skola ana-anak parampuang, abis skola dong kaweng par orang pung untung, meski dong su jadi manusia". tapi pada bagian ini, mungkin beta akan membuat lagi sebuah posting secara terpisah untuk membahas tentang produk budaya dalam pola pikir yang mendiskriminasi semacam ini, yang perlu diadvokasi dalam tulisan-tulisan yang bersifat solutif lainnya.
Oke kembali lagi pada pernyataan yang pertama diatas, bahwa mereka orang tatua selalu mengingatkan kepada anak-anak mereka agar selalu belajar dengan tekun, sehingga pada akhirnya mampu mendapatkan masa depannya; dengan semacam analogi yang ditambah-tambahkan, seperti tercermin dari kalimat diatas yaitu : lebih baik pikul tas (ada semacam prestise tersendiri), dari pada hanya duduk di muka tungku api (semacam sindiran untuk anak-anak perempuan yang gagal, dan katanya hanya bisa menjadi pekerja di dapur, saat menjadi ibu rumah tangga).
Tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat semacam ini, tapi ada yang harus digaris bawahi, bahwa kalimat diatas mungkin relevan pada masa lalu, tetapi pada masa sekarang ini harus dikritisi kembali. Karena sangat disayangkan sekali dengan adanya budaya berpikir semacam ini (lihat pernyataan diatas) yang masih diterjemahkan secara utuh dan harafiah, sudah pasti menimbulkan sejumlah permasalahan baru sehingga banyak generasi Muda Maluku menjadi tidak produktif dewasa ini. Kenapa?
Mari beta memberikan beberapa contoh riil yang beta amati dan teliti selama ini, saat melakukan diskusi dengan sejumlah Jujaro-mungare (anak muda perempuan dan anak muda laki-laki) di Maluku yang berada di beberapa daerah, dan begitupun dengan para orang tua. Semoga saja membantu memberikan perspektif lain bagi generasi kita di Maluku saat ini.
» Read More...
Mereka
bilang ada yang hebat,
Mereka
bilang ada yang tak terhingga,
Dan mereka juga
bilang ada yang tak berujung,
Yah… Aku
mulai mendengar, mengerti dan memahami arti tentang hidup.
Yaitu
diawali sebuah tangisan dialam fana;
dan diakhiri
pula dengan banyak tangis perpisahaan sebagai tanda.
Mereka
bilang yang tak kelihatan itu ada,
Mereka
bilang yang tak berwujud sejatinya memiliki wujud,
Dan mereka
juga bilang, jika ada tiga di dalam satu,
Yah….. Adapun realitas “three in one”; dan aku mulai
memahami apa artinya
sebuah
tulisan tanpa seorang penulis atau sebuah kisah tanpa seorang pengarang yang
menaskahi cerita.
» Read More...