DI PUNCAK "HUA" MENYELAMATKAN



http://kabargress.com/2013/01/15/awas-penderita-hivaids-di-surabaya-terbanyak-se-jatim/
Mereka bilang ada yang hebat,
Mereka bilang ada yang tak terhingga,
Dan mereka juga bilang ada yang tak berujung,

Yah…  Aku mulai mendengar, mengerti dan memahami arti tentang hidup.
Yaitu diawali sebuah tangisan dialam fana;
dan diakhiri pula dengan banyak tangis perpisahaan sebagai tanda.

Mereka bilang yang tak kelihatan itu ada,
Mereka bilang yang tak berwujud sejatinya memiliki wujud,
Dan mereka juga bilang, jika ada tiga di dalam satu,

Yah…..  Adapun realitas “three in one”; dan aku mulai memahami apa artinya
sebuah tulisan tanpa seorang penulis atau sebuah kisah tanpa seorang pengarang yang menaskahi cerita.

Mereka bilang sama seperti bintang di langit,
Mereka bilang sama seperti pasir di tepi laut,
Dan mereka juga bilang, seperti udara yang kita tarik dan hembus saat hidup,

Yah… Semuanya itu tak gratis, meskipun yang kita ketahui dan pahami semenjak dahulu semuanya ini  gratis; tetapi aku mulai belajar tentang arti sebuah harga, saat aku sadar tak ada yang murah di bawa kolong langit ini.

Mereka bilang semua orang itu sama; seperti sepasang anak kembar,
Mereka bilang bukan lagi dua, tetapi tetapi satu; seperti suami isteri
Dan mereka juga bilang, keadilan itu seharusnya di bagi sama rata,

Yah….. Tetapi aku mulai berharap dan belajar tentang arti kebenaran dari dasar perbedaan; sama seperti suami dan isteri yang memiliki kepribadian yang berbeda sebagai kekuatan besar. Dan bagaimana tentang si pemalas akan bisa menjadi kaya, sebagai yang adil??

Mereka bilang waktu ini adalah uang,
Mereka bilang tujuan hidup manusia diwajibkan sukses,
Dan mereka juga bilang:  kerja keras takkan pernah sia-sia.  

Yah… Aku bahkan mengerti tentang arti kehampaan, bila tak ada dasar yang kuat seperti sauh sebuah perahu. Begitupun sukses belum tentu bahagia, uangpun tak bernilai untuk membeli sukacita.

Mereka bilang lihatlah bunga bakung dipadang,
Mereka bilang lihatlah semut di musim kemarau,
Dan mereka juga bilang, belajarlah dari mutiara di laut,

Yah.....  Aku kini belajar tentang arti beriman; bukan saja percaya, tetapi yang sepatutnya  mempercayakan diri. Saat harapan akan sesuatu, telah dilakukan dan menanti sebuah jawaban.**



Sekarang tenang, tenang..... dan simaklah bagian kisah ini, kini aku berpindah peran .

Mereka tiba-tiba tak bilang apa-apa,
Mereka seperti tak ada rupa, meskipun mereka ada,
Dan mereka juga takkan bisa memberi jawaban,

Aku sekarang mencoba memposisikan diri seperti seorang penjahat klas kakap, dan saat itu semua mereka yang aku kenal tak lagi berpaling memberikan petuah, apalagi merapat??

Aku sekarang mencoba lebih dalam lagi dan merasakan gunda gulana hati penjahat ini, yang terasing karena terbukti telah berbuat ini dan itu, yang katanya oleh mereka, betapa jahat sekali??   Dan mereka balik bergumam bahkan menebar gosip panas, yang rasanya sangat pedih seperti teriris-iris, yaitu mereka yang dahulunya pernah menjadi sahabat aku, seperti “bia deng batu” Kata orang Ambon.

Aku menjadi bingung, kenapa semua mereka bisa begitu, kenapa mereka hanya melihat dari masalahku, dan bukan hatiku..

Aku bahkan tak percaya,  apakah mereka pernah membaca tentang kalimat agung ini “Jangan melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dimatamu tidak kau ketahui”, memang ini gelombangku, ini badaiku, dan sekarang aku hanya membutuhkan pertolongan; yah...... Aku benar-benar membutuhkan pertolongan, lalu dari manakah datang pertolongan??

Aku mencoba untuk terus menarik perhatian mereka, tetapi mereka terus mendingin dalam sikap dan kata-kata.

Mereka justru balik menghukum aku, yang sebenarnya hanya membutuhkan sedikit perhatian saja,  dengan harapan aku dapat kembali menjadi pulih karena penerimaan mereka terhadap aku yang berlebel pendosa berpangkat dua.

Yang sebenarnya urusanku dengan sang kuasa telah aku urus selesai, tetapi kini urusanku dengan mereka takan kunjungi usai, sehingga aku merana sepanjang waktu, sambil menunggu datangnya ajal menjemput aku. Sebab mereka seperti para jagoan yang melihat aku seperti seseorang lawan di medan perang, yang harus dibiarkan mati, dan harus mati, tanpa harus diberikan kesempatan, sebab bagi mereka aku ini penjahat klas kakap.

Kini aku tak sanggup lagi, semangatku yang kuat akhirnya redup sudah, padahal aku masih sanggup bertahan hidup, seperti dengan mereka yang sehat jasmani dan rohani. Tetapi justru aku harus mati, karena aku tak bisa mendapatkan kesempatan kedua dari mereka, padahal TUHAN saja lebih awal memberikan aku kesempatan itu.

Kini aku sudah tak ada, Pendosa Berpangkat Dua.

--------------------------------------------------------------------------------
*** "Puisi ini aku persembahkan kepada mereka kaum terdiskriminasi...."

Ambon, 9 November 2013
by : Jimmy Pattiasina
 

0 comments :

Post a Comment

Dengan Senang Hati Beta Menanti Basuara Sudara-Sudara.

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!