Pokok Pikiran Kebudayaan Kota Ambon; admin TRADISI MALUKU menjadi bagian dari tim PPKD

"pengalaman adalah guru terbaik"; demikian sebuah ungkapan usang yang benar-benar beta rasakan kebenarannya. Setelah kurang lebih 9 tahun lalu, yaitu sejak awal ide dibangunnya blog Tradisi Maluku ini pada masa kuliah dahulu diakhir tahun 2009; dan diterbitkannya blog ini pertama kali pada tahun 2010 hingga dipostingkannya tulisan ini di tahun 2018, tak terasa waktu bergitu cepat berlalu. "ternyata tidaklah sia-sia segala hal yang dibangun dengan suatu kesungguhan dalam berkarya".

Kemudian dilanjutkan lagi dengan sebuah quotes motivasi yang akan turut menjelaskan realitas yang hendak beta jelaskan pada posting kali ini, yaitu: "proses tidak pernah mengkhianati hasil...."; dimana dengan passion dan kesungguhan belajar untuk mengenal tradisi dan budaya Maluku dan menulisnya, dan semua itu dikerjakan terus menerus dalam tahapan pengembangan hobby & passion. Justru dengan berjalan waktu semua yang dikaryakan mulai satu per satu membuahkan hasil.

» Read More...

Revolusi Mental Amtenar Orang Maluku

KESAN BERJUMPA DENGAN INTERNET

Saat membuat tulisan ini, beta masih dalam posisi yang kurang lebih sama dengan saudara-saudariku yang sampai hari ini ingin keluar dari zona nyamannya. Sebagai orang Maluku, beta dibesarkan di Pulau Saparua, yang sangat kental dengan tradisi dan budayanya, begitupun dengan negeri asal beta yaitu negeri BOOI. Dan sekarang sudah menetap di kota Ambon, kurang lebih 13 tahun, sejak pertama kali merantau untuk menamatkan pendidikan S1 di UKI Maluku, yaitu pada fakultas Filsafat Agama.

Sejauh ini dalam amatan beta, masih banyak yang belum berubah dari pola berpikir sebagian besar masyarakat Maluku, meskipun perkembangan pola pikir dihampir sebagian besar dimensi kehidupan di dunia ini sudah sangat berubah dan maju. Kenyataan ini bukan lagi menjadi rahasia umum, dan beta juga sengaja menyimpulkannya lewat sejumlah pengamatan dan juga pola dari riset yang sederhana yang sudah dilakukan atas setiap perjumpaan beta dengan orang Maluku lainnya dalam kehidupan sesehari. Mungkin ini bersifat pandangan subjektif, tetapi sesungguhnya adalah kegelisahan beta sejak lama, yang selalu berpikir "Out Box" semenjak masa kuliah dahulu.

Pernah suatu ketika ada salah satu teman kuliah beta mengatakan begini, "bu ini mau jadi pendeta kah atau mau jadi hacker (orang yang pakar dengan komputer, dan bisa melakukan aktivitas komputerisasi diatas rata-rata)?? abis setiap waktu pi gorila (nama warnet) tarus." Karena mereka gelisah sekali atas perilaku beta yang dahulu semasa kuliah semenjak kenal internet di tahun 2008, hampir sebagian besar waktunya berada di Warnet, yaitu selepas pulang kuliah sampai larut malam bahkan subuh. Dikarena jatuh cinta dengan aktivitas browsing sejumlah informasi yang menurut beta bisa bermanfaat dalam jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang untuk pengembangan diri. Di samping waktu itu baru mulai belajar Facebook-an sebagai selingan saat melakukan browsing, meski binggung juga waktu itu, mau bikin apa dengan Facebook ini?? (sorry saat itu belum banyak pengguna Facebook di Kota Ambon).

» Read More...

Optimisme; "Salam Sarane di Maluku"

Tak diragukan lagi kekuatan hidup orang basudara sebagai dasar perekat dalam setiap bangunan Tradisi dan Budaya di dalam konteks orang Maluku, terus menampilkan beragam cerita hebat, meskipun bagi mereka yang mengalaminya hanya sebagai cerita yang sederhana.

Mulai dari pengalaman pribadi, komunitas, dan bahkan pengalaman antar negeri di Maluku seakan terus menuju pada suatu tujuan yang sama hingga di tahun 2014 ini, setelah pernah mengalami pengalaman pahit di tahun awal 1999. Tetapi seakan semua manusia Maluku punya cara yang spesial untuk menciptakan dan memperbaharui relasi antar hidup orang basudara (dalam hal ini, antara suku dan agama) maka ada sekian banyak kisah yang dapat terekam dalam tulisan atau lewat media lainnya, dan kemudian menjadi referensi berharga bagi orang lain untuk mencari inspirasi, salah satunya bagi para pencita damai di belahan dunia ini.

Tak sengaja kemarin, kemarin ketika saya membuka akun facebook saya, ada suatu cerita menarik namun dikemas begitu sederhana dalam gaya bahasa apa adanya, seakan melaporkan secara terperinci kenyataan yang saat itu terjadi di daerah Maluku Utara, tempat dimana salah seorang teman saya

Benli Pattiheuwean yang melakukan kegiatan Vikariat dari Gereja Protestan Maluku di Jemaat Falabisahaya, mengungkapkan sebuah pengalaman berharga pada saat itu, dan begini penuturannya di dalam akun Facebook pribadinya:


» Read More...

Srikandi ODHA dari Itawaka su pigi jauh

Tulisan ini di copy paste dari tulisan bung Rudy Fofid. Patut di berikan apresiasi atas semangat juang skrikandi asal Lease ini yang menurut saya tidak semua orang dapat melakukannya. Untuk itu pilihan memposting ulang kisah nyata ini, dari wujud apresiasi generasi muda Lease terhadap pengorbanan dan semangat juang DESIANA PAPILAYA (sedikit klarifikasi marga DESIANA yang di tulis oleh bung Rudy di bawah ini. Sebab marga Pattipeilohy adalah marga ibu kandung dari DESIANA, namun yang jelas DESIANA PAPILAYA adalah marga aslinya) yang memberikan inspirasi bagi banyak orang Lease lainnya secara khusus; akan tetapi bagi orang Maluku secara keseluruhan dan semua orang lain yang ada di belahan dunia pada umumnya. Berikut adalah tulisan bung Rudy Fofid tentang DESIANA atau biasa di sapa DESI.

PADA mulanya, Desiana Pattipeilohy alias Desi, hanyalah seorang perempuan biasa. Berangkat dari kampung halaman di Itawaka Saparua, dia pergi bekerja sebagai buruh pabrik kayu lapis di Batugong Ambon. Konflik sosial di Maluku tahun 1999 memaksanya mengungsi ke Kota Sorong.
Di Tanah Papua itulah, Desi berjumpa pujaan hatinya. Sebut saja namanya Pace, penduduk sorong tapi asli Ambon. Pace pernah hidup tanpa nikah dengan bekas pramuria di Sorong. Desi jualah yang mengantar Pace ke gerbang pernikahan.
Dari Sorong, pasangan Pace-Desi pergi ke Ternate, memulai hidup baru. Nahas, sebab di sana, Pace jatuh sakit. Sakitnya tidak sembuh-sembuh. Sebab itu, Desi memboyong Pace ke Ambon, tinggal di rumah orang tua Pace.
Sejak di Ternate maupun di Ambon, Desi selalu mengajak Pace berobat ke dokter. Tapi Pace berkeras hati. Sampai suatu saat, Desi juga jatuh sakit. Gejalanya mirip sekali dengan sakit Pace. Karena suaminya menolak ke dokter, Desi membawa dirinya sendiri ke rumah sakit. Alhasil, dokter menyarankan Desi memeriksakan darah. Test HIV dilakukan. Hasilnya, Desi positif terinfeksi virus maut tersebut.
Desi terpukul. Sebab, tidak pernah punya riwayat pergaulan bebas. Satu-satunya pasangannya adalah Pace, sang suami. Dalam situasi itu, diapun mengalami perlakuan menyakitkan. Seorang perawat di RS dr Haulussy sempat menyindir. ”Dulu sewaktu masih nona-nona, pacaran banyak ka apa ?” begitulah kata sang perawat.
Desi pulang ke rumah, membawa kabar hasil test darah kepada Pace dan mertuanya. Bukannya belas kasih yang didapat. Desi malah diusir dari rumah. Dia dituduh menjadi penyebab sakit suaminya, dan mengancam hidup orang seisi rumah.
Dengan air mata tumpah, Desi meninggalkan rumah Pace. Desi memilih tinggal di Passo. Tapi kabar Desi pengidap HIV cepat tersebar dari mulut ke mulut. Dua kali, Desi diusir para tetangga yang datang memberi ultimatum. Pertama kali dari rumah kos-kosan, berikutnya lagi dari rumah keluarga. Dalam situasi pahit itu, ibu kandungnya setia mendampingi.
Setelah merasa tak ada tempat berpijak di Ambon, sang ibu membawa putrinya ke kampung halaman di Itawaka. Desi hanya nyenyak dua malam di tanah kelahirannya sebab hari berikutnya, status dirinya sudah diketahui petinggi negeri. Mereka memberi ultimatum kepada Desi untuk angkat kaki dari rumahnya sendiri, dua kali 24 jam.
Kabar perlakuan terhadap Desi sampai di telinga dua pekerja sosial dari Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM) Piet Wairisal dan Noni Tuharea. Piet dan Noni langsung meluncur ke Itawaka. Melalui pendekatan dengan pemerintah negeri dan pendeta setempat, keduanya diizinkan memberi penyuluhan kepada warga Itawaka di dalam gereja, seusai ibadah Minggu.
Setelah mendapat penjelasan bahwa kehadiran Desi di Itawaka tidak membawa ancaman penularan bagi siapapun, jemaat dan para petinggi negeri pun akhirnya batal mengusir Desi. Desi diterima sebagaimana adanya. Dia malah melaksanakan tugasnya memimpin ibadah di rumah warga.
Bukan saja warga Itawaka yang menerima Desi. Perlahan-lahan, warga desa tetangga, bahkan orang Saparua mengetahui statusnya. Desi tetap diterima penduduk Saparua saat dia ke gereja, pasar, naik angkutan umum, ojek dan sebagainya. Trauma mendapat perlakuan pahit di Ambon perlahan-lahan terhapus dengan perlakuan manis orang-orang Saparua.
Desi pun makin percaya diri dalam dampingan relawan LPPM. Sampai suatu saat, Desi melakukan langkah berani. Dia tampil di depan publik Ambon, dalam acara Malam Renungan AIDS tahun lalu. Desi naik ke podium Baileo Oikumene. Di hadapan para pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, sesama ODHA, para waria, anak sekolah, dan wartawan, Desi mengumumkan statusnya sebagai ODHA. Sebuah testimoni yang dramatis sekaligus mengagumkan.
Inilah untuk pertama kalinya, seorang ODHA di Maluku berani menyatakan diri secara terang-terangan di depan publik. Maka bekas buruh pabrik tripleks itu pun menjadi bintang. Kilatan blitz fotografer, sorot kamera TV lokal dan nasional terfokus pada Desi. Tokoh seperti Rury Munandar dan Mercy Barends mencium pipi Desi, ketika dia selesai memberi kesaksian dirinya. Untuk pertama kali pula, nama asli seorang ODHA diizinkan untuk ditulis tanpa initial atau nama samaran. Desi tidak keberatan nama dan wajahnya nongol di TV atau koran.
Saat itu, Desi berjanji membaktikan dirinya untuk sesama ODHA dan ikut mencegah penularan HIV-AIDS di Maluku. Dia berharap, dengan menyatakan diri di hadapan umum, semakin banyak orang terinspirasi menghindari diri dari ancaman HIV-AIDS. Maka melalui LPPM, Desi sempat tampil dalam suatu forum nasional. Aktivitasnya sebagai ODHA dipamerkan di Jakarta, dan banyak orang belajar dari kasus Desi.
Tapi begitulah jalan hidup Desi. Rasa cinta dan rindu pada Pace, sang suami membuat dia tidak bisa tenang. Dari sekadar rindu-dendam, Desi kemudian mengalami stress berat. Dia akhirnya dirawat di Rumah Sakit Jiwa di Nania. Dalam situasi itu, kerinduan untuk bertemu Pace tidak kesampaian. Tak satupun keluarga Pace datang menjenguk, sampai akhirnya Desi pun dipanggil Tuhan. Pemakamannya di Galala, Juli lalu, tidak dihadiri satu pun orang penting. Juga tak ada publikasi sama sekali. Mungkin karena tidak ada informasi, atau heroisme Desi tidak diperhitungkan sebagai tindakan kepahlawanan seorang srikandi.
Desi pernah hadir memberi arti di tengah diskriminasi yang pernah dialami para ODHA. Sayang, menjelang Hari AIDS Sedunia 1 Desember mendatang, Desi sudah tak ada di sini. Semoga dia sudah sampai di sebuah rumah yang Maha Damai. (rudi fofid)

» Read More...

Video Profile Negeri Booi

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!