PULAU TNS; daftar negeri-negeri

Sebuah ide yang akan beta posting dalam beberapa postingan kedepan, berawal di hari ini saat beta mau search daftar nama negeri-negeri di pulau Ambon dan sekitarnya (Pulau Lease, Pulau Seram, Pulau TNS, dll, di google) untuk suatu keperluan survey, dan sangat disayangkan data ini tidak ditemukan.

Sehingga sesaat beta berpikir, apakah mungkin telah ditulis pada beberapa blog atau website-website tertentu, dan mungkin saja belum terindeks di browser seperti Google, Yahoo, Bing, dll.

» Read More...

REFLEKSI DARI BALIK MOTIF NUSANTARA

Berikut ini adalah JUDUL postingan artikel terbaru dari admin TRADISI MALUKU, pada halaman "KOMPAS" dapat anda baca lewat Link ini. Semoga dalam konteks berbangsa dan bertanah air yang satu di Indonesia, kita semua tetap menghargai perbedaan kita masing-masing sebagai sebuah kekayaan.

» Read More...

OH DEWI KU

Disamping gambar bunga ros ukuran jumbo tepat dibelakang kepalaku, aku menulis kalimat ini.

"Wahai Dewiku, engkaukah itu?" tak panjang kalimat ini, dan kuharap kau mendengar tanyaku lewat bisikan angin malam.

» Read More...

Gambar Beta

Gambar itu, gambar ini,
Beta biking gambar itu; gambar ini beta biking bagitu.

Gambar ini, gambar itu,
Beta biking gambar ini; gambar itu beta biking bagini.

» Read More...

Bahasa Ambon Hari-hari; Kata-Kata Mutiara

"Macang Kata Cacing Bor Panta"
Sama seperti cacing mengelitik di dalam Anus (terjemahan Indonesia)

Ini sebuatan orang tatua kepada anak-anak yang tidak bisa diam, dan perilakunya yang agresif sekali; kalimat ini/kata-kata mutiara ini Lazim digunakan hingga kini dalam konteks kehidupan sosial di Maluku.
------------------------------------------------------------------

» Read More...

BETA DENG JELAMBAR

Beta deng Jelambar,
Menyatu dalam waktu,
Meski terpaut 2 jam berlalu.

Beta deng Jelambar,
Saling mengisi membingkai esok
Meski yang pasti sering berwajah ragu.

Beta deng Jelambar,
Saling bersua berbagi Kabar
Bilang rindu saat jauh berlayar.

Beta deng Jelambar.

Jl. hadiah, No.13 - Jelambar (Jakarta Barat)
18 Oktober 2012,  A.M: 01.05 WIT.

» Read More...

HETU AMPER MALAM; "Maluku Satu"

Onggo baru abis panggayo parau (Rute Galala-Rumah Tiga), karna penumpang jalur Galala su mulai sunyi, Onggo langsung sauh parau di pinggir pante. Pas Onggo mau turun ka darat, dapa lia abang Uceng ada nanaku laki-laki dar jauh, parsis di pinggir pante Rumah Tiga.  "Onggo e...!!" abang Uceng bataria. "Sabar beta kasitu lalu katong dudu hetu sadiki dolo". Lalu dong dua baku dapa; hetu amper malam mulai.

Abang Uceng : Roko sabatang dolo kah.?? (deng rim batumerah kantal)


Onggo              : Adoee, ini kal Pela su minta, beta seng bisa sambunyi lai (Sambil tatawa sangaja, Onggo kasi kaluar djisamsu stenga bungkus. Onggo ini dia pung papa orang Tenggara, lalu mama orang Passo).


Abang Uceng : Jadi jua kah? (Abang Uceng tanya penghasilan Onggo satu hari tadi)


Onggo             : Beta kaluar su laat tadi lai, jadi seng talalu banya o... Cuma dapa 5 kali pulang-bale sa.


Abang Uceng : O bagitu e, jadi juaaa. (Sambil bakar rokok plat kuning sabantang)


Onggo              : Abis tadi malam katong dudu matawana di ontua Kaleb pung teras, bicara "Maluku Satu". Sampe jam 3 tengah malam,  karna beta mau nonton bola Real Madrid deng Ajax beta cuma iko-iko par bagadang saja. Eee, maar dong bicara paleng banya e..!!!! (Onggo terangkan deng satu muka).


Abang Uceng : Iyooooo.. e !!! ini kamareng lai ni??!! (Abang Uceng langsung sambung padahal Onggo balom abis carita). Kamareng dong di Jainal pung muka kintal lai, katong sakawang baku malawang, deng Calon-calon Maluku Satu ni. Beta Kamareng pas mau pulang beta bataria par dong samua di situ, "Iyooo kamong bicara -Maluku Satu- padahal nanti terpilih Ada Dua Orang To?? Mudah-mudahan dua orang ni bajalang jadi satu par katong samua..!!" (Abang Uceng bicara deng aju-aju akang par Onggo bagitu).


Onggo            : Batul Abang Uceng e..!! Katong masyarakat Ambon ni, hobbi paskali e... bicara politik.?? Mulai dari tukang Beca, tukang Ojek, sampe bos-bos di rumah kopi tu. Seng pikir kata beso mau makang apa? bicara politik tarus. Beta heran..!! (Deng satu muka yang terkesan memprihatinkan, Onggo sepertinya kurang srek deng topik "Maluku Satu" yang orang laeng ada sibuk par bicara akang). Bukang beta seng ingin tahu deng bicara politik, tapi beta seng mau bicara akang tarus-tarus sampe biking katong lupa par biking sesuatu par hidop rumah tangga . Iya to Abang to, kah bagaimana??

» Read More...

Selamat Kajadiang AMBON

Izinkan beta berucap,
Izinkan beta bertutur,
kata-kata manis tersulam,
bagai mata cele berwarna merah.

Saat ramai penuh canda dan bahagia;
beta adalah beda, serupa tapi tak sama.
Pesta penuh minuman, pesta penuh jamuan
Kenapa beta tidak di undang.??

Selamat  Kajadiang Ambon.
"tujuh tamba tujuh ampablas di parau;"
Nona buju-buju Ambon akhirnya Mau.
Beta adalah beda, beda berucap maksudnya sama. [s95. J.Pattiasina]






» Read More...

NEGERI HUTUMURI; ketahuilah nama-nama SOA dan FAM-FAM disana.

Singkat cerita ada sebuah kunjungan disalah satu sekolah dasar (SD) di negeri Hutumuri, kemudian beta bertemu dengan salah satu guru Olahraganya, kamipun mulai berbincang-bincang soal pendidikan, hingga akhirnya kami mulai berbicara yang topiknya sudah mengupas soal tradisi dan Budaya Maluku.

Nama beliau (guru olahraga) adalah Bapak Polly Pattiasina (47 tahun), yang kebetulan juga saat itu beta baru mengatahui nama dan Marga (fam) beliau yang sama dengan beta; maka beta mencoba mengajukan pertanyaan kepada bapak Polly soal ada berapa Soa di negeri Hutumuri..?? maka beliau menjelaskannya sebagai berikut :

* SOA TUTUPASAL dengan Fam-famnya (Marga):
1. Thenu
2. Lewaharila
3. Harmusial
4. Pesurnay
5. Pattihahuan

* SOA PATTIHUTUNG (RAJA) dengan fam-famnya :
1. Waas
2. Matakena
3. Matuanakotta
4. Leisasel
5. Lewakabessy
6. Paays
7. Pessy
8. Lekahattu

* SOA MOKIHUTUNG dengan fam-famnya:
1. Tehupeiory
2. Kappuw
3. Tepalawatin
4. Pattiapon
5. Pattiasina
6. Paays
7. Souripet

*SOA PUASE: (Pendatang) dengan fam-famnya :
1. Horuhoru
2. Rahatalanit
3. Hursepunny
4. Matuahitimahu
5. Pattianakota
6. Pattinasarany

Demikian penjelasan beliau kepada beta, da beta mencoba kembali membagi data ini kepada Anda sekalian pembaca setia "TRADISI MALUKU"...


Horomatee..!!!

» Read More...

"Cili kata Halia, sama-sama panas"

Mendengarkan cerita "orang tatua" (dalam bahasa Ambon hari-hari, dapat berarti pertama; orang yang lebih tua dari kita. dan arti orang tatua yang kedua; adalah mengarah pada nenek moyang dahulu) ternyata ada yang unik dari orang Maluku Tengah.

Keunikan yang beta maksudkan kali ini, ingin dijadikan sebuah posting yang tidak kala pentingnya untuk dibagikan bagi pembaca setia blog TRADISI MALUKU  (ya.. berhubung sudah beberapa bulan terakhir ini beta sudah jarang menulis). Masih terkait dengan Tradisi Maluku, yaitu sebuah kekhasan dari tradisi lisan orang Maluku Tengah, yang melestarikan tradisi lisan dari generasi terdahulu (orang tatua) dan meneruskan hingga kini dengan cara-cara yang khas pula.

Jiika suatu ketika,  ada beberapa orang melihat sebuah fakta di masa kini (sebagai contoh) dan seseorang diantara mereka secara spontan mengatakan sebuah kalimat yang sebenarnya memiliki makna konotasi dari apa yang mereka lihat atau saksikan, hal inilah yang saya maksudkan sebagai inti dari posting kali ini.

Salah satu kalimat orang tatua yang sering didengar di dalam penggunaan bahasa Ambon hari-hari adalah, "Cili Kata Halia, sama-sama Padis/Panas" (Cabe sama halnya Jahe, sama-sama panas); kalimat semacam ini akan spontan dikatakan oleh seseorang dalam makna konotasinya, misalkan ia melihat ada dua orang yang melakukan sebuah perbuatan, atau aksi yang mempunyai kemiripan. Entah itu kemiripan secara positif, ataupun negatif. Sebagaimana efek dari cabe ketika di makan akan pedis dimulut dan menghasilkan rasa panas, demikian halnya dengan jahe yang akan menghasilkan efek yang panas/hangat juga di dalam tubuh ketika di konsumsi.  

Atau "Pake Sandal Lupa Tarupa" (Memakai Sendal, melupakan "TARUPA"; sendal tradisional, atau bisa disebut sebagai generasi pertama dari sandal jepit yang terbuat dari bekas Ban Mobil). Kalimat ini memiliki makna konotasi untuk mengkritisi atau menjelaskan sebuah pengalaman yang mungkin saja terjadi dimasa kini, seperti yang pernah saya jelaskan pada posting "Dapa Pirin Lupa Taloi".

Dari gambaran pengalaman yang sering beta temukan dalam setting kehidupan sehari-hari, beta menarik sebuah nilai positif dari fakta-fakta seperti ini, kenapa??

1.     Penghargaan akan peran dan eksistensi Leluhur atau Nenek Moyang (generasi terdahulu) masih terwakili dengan tradisi lisan tersebut yang masih dipakai hingga kini.

2.     Sekalipun seringkali kalimat-kalimat ini dipakai dalam situasi yang terkesan bercanda ria (Bahasa Ambon Hari-hari; "basangaja") akan tetapi peran publik dalam mengontrol beragam masalah sosial yang terjadi didalam masarakat, dapat memakai media tradisi lisan ini untuk menegur, mengkritisi, ataupun memperjelas fakta yang sementara dilihat ataupun di saksikan, agar menjadi bahan koreksi bersama.

3.    Kekhasan hidup orang Maluku yang begitu familiar dalam konteks hidup orang Basudara, sehingga cara mengkritisi sebuah kesalahan atau perbuatan negatif dari basudaranya yang lain, harus memakai kalimat-kalimat yang santun. Adapun pilihan pada pengunaan kata-kata orang tatua ini, seringkali menjadi pilihan masyarakat setempat, sekalipun bermakna konotasi dan mengandung tendensi kritikan yang pedas, atau tajam, tetapi hal ini dianggap sebagai sebuah pola hidup "basangaja" (bergurau) dalam konteks di Maluku.

Sekian posting singkat ini beta bagikan bagi basudara semua, semoga bermanfaat.


HOROMATE..!!!

» Read More...

BAHASA AMBON HARI-HARI; Part IV

Setelah part III telah saya posting bagi anda, kini part IV dibuat juga, agar “Bahasa Ambon Hari-hari” pada blog TRADISI MALUKU benar-benar dapat membantu, dan sebagai salah satu referensi pelengkap bagi anda sekalian, yang ingin mempelajari bahasa Ambon hari-hari. Sebab kata orang “Tak kenal, tak sayang” jadi semakin anda mempelari bahasa Ambon hari-hari, berarti anda akan lebih mencintai Tradisi dan budaya Ambon kelak. Sebab dengan anda mempelajari bahasa daerah tertentu, secara langsung pula anda dapat dengan leluasa berinteraksi dengan tatanan budaya dari masyarakat tersebut. Semoga bermanfaat......

TACOLO             = Terendam.
TACUNGKEL     = Tercungkil/tercabut
TABULABALE   = Terbolak-balik, terbalik.
TABEMBENG    = Bergelantungan
TABALA             = Terbelah
TALANTANG      = Terlantang
TAKANGKANG  = Tersendat-sendat
TALUCU             = Terpelanting, terpeleset.
TALESU             = Sesuatu yang hendak jatuh kerena kelonggaran, atau kebesaran.
TABANTING       = Terjatuh.
TAGAE/TAGAI    = Terkait
TAPEPER          = Pusing dan mengakibatkan puyang-puyang.

» Read More...

BAHASA AMBON HARI-HARI; part III

Halo...kembali lagi dengan saya admin “TRADISI MALUKU”, dan kali ini saya sengaja membuat sebuah posting tentang bahasa Ambon hari-hari part IV. Sebelumnya saya memohon maaf bagi pembaca sekalian. Sebab janji pembuatan part IV baru terkabulkan diawal tahun 2012 ini. Semoga posting ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.......selamat membaca..!!! 



 R
RAROBANG      =  Sebutan untuk hasil dari santan kelapa kental yang telah direbus; dari rarobang kemudian akan menjadi minyak kelapa (minyak goreng tradisional).
RACONG          =   baca:  RACUN
RABE               =   baca:  ROBEK
REP             = Sebutan untuk potongan kayu yang di pakai untuk salah satu bahan bangunan, dengan ukuran yang berbeda. Misalnya ; REP ukuran 5x7cm, dll.
REGEL               =  Sebutan untuk PEGANGAN tertentu. Seperti pegangan pintu, pegangan lemari, dll.
REMBENG           =  baca : Jinjing
REPPE                =  Pelat, Penyok, Penyet.
REKENG             =  Menghitung, menjumlahkan.
REKU           = Suatu bagian ruang yang berada persis diatas tungku memasak secara tradisional orang Maluku, yang disebut Para-para, yaitu dibuat dengan sengaja untuk mengasapi bahan makanan atau juga buah-buhan tertentu, seperti mengasapi buah pala, dan buah kenari. 
REU                  =  sebutan sindiran;  dan memberi terkesan kuat kalau ia sudah tua, pikun, tidak berguna (tidak kuat) lagi.
REDI                 = salah satu sebutan dalam tata cara menangkap ikan dengan memakai alat tangkap “jaring”.
RIKKO               =  Takut, gentar.
RODO-RODO      =  Bertubi-tubi
ROKO                =  Baca: ROKOK
ROBE                =  lihat RABE
ROSTER            =  Lembar berisikan suatu jadwal mata pelajaran atau lainnya.
ROTANG           =  ROTAN

S

SABALA             =  baca SEBELAH.
SABARANG        = Tidak benar, salah.
SAARU           = ­Bagian dari lautan yang tidak terlalu dalam. Dan daerah ini selalu mendapat perhatian serius untuk aktivitas nelayan.
SABATANG         = baca Sepohon, satu batang. Atau punya arti lain : mengartikan sesuatu yang BESAR.
SABONG             = Sabun
SABOTENG         = Sebutan untuk sesuatu benda yang BESAR.
SABUKU          = Sebutan untuk sesuatu benda yang BESAR. Atau juga dengan kata lain; SABUKU MAI.
SABOTOL            = Satu botol.
SACUBI               = Sedikit
SACUCU           = Sebutan pada seutas tali yang biasanya dipakai Nelayan untuk menampung hasil tangkapan ikannya.
SACUPA          = ukuran untuk satu CUPAK cengkih. Biasanya jual beli cengkih di Maluku diukur dari ukuran paling kecil yaitu SAGOGO, baru SACUPA dengan memakai satu kaleng susu, atau kaleng cornet.
SADIKI               = Sedikit.
SADONGEN        = Sebutan untuk suatu pilihan (atau apapun) yang bagus dan tepat sekali.
SAGU                = Nama pohon, makanan khas orang Maluku.
SAJO                 = Sejuk
SAKARANG         = Sekarang
SALAM               = Sebutan orang Maluku kepada penganut agama Islam.
SALELE            = Tindakan melilitkan badan dengan kain, handuk, dll. Atau  juga melilitkan pohon  dengan tali  (benda lainnya) sebagai tanda larangan untuk tidak memanjat pohon tersebut.
SALEMPENG      = Sebutan untuk satu buah sagu bakar.
SALOKI              = Gelas kecil untuk minum minuman berakohol.
SALOKO            = Segenggam, segumpal.
SALORO            = Berpikir tidak baik; berpikir dengan konsep yang amburadul.
SAMEMER         = sebutan untuk sesuatu benda yang BESAR.
SAMU               = Semut
SANDIRI            = Sendiri
SANANG           = Senang
SANIRI/SANIRI NEGERI = Sebutan untuk dewan perwakilan masyarakat suatu negeri. Yang terdiri dari kumpulan tua-tua adat, kepala soa, dan perwakilan lainnya yang punya kedudukan dalam setting adat masyarakat Maluku Tengah dan masyarakat pulau Ambon pada umumnya.
SANISA/SANISI  = Tempat kaki pada pohon yang sengaja dibuat oleh seseorang untuk membantunya memanjang pohon.
SANUSSU        = Batang kayu mentah dalam ukuran tertentu yang dipotong untuk membuat sesuatu keperluan. Misalkan untuk membangun pagar.
SANEKAR/SALEKAR  =  Selekang, ruas atau ruang diantara.
SANOIL            =  Secuil.
SAPA               = Siapa.
SAPARO           = Sebagian.
SAPURI            = Sebutan sindiran bagi mereka yang timpang kakinya atau kaki X.  
SARANI            = Sebutan orang Maluku untuk penganut agama KRISTEN.
SASA               =  Sesak.
SASAJA         = Lagi dan lagi; sebutan untuk sikap, karakter, situasi, keadaan,  yang terjadi terus menerus; beulang-ulang.   
SASELLE          =  Hanya sebagian atau sebelah saja.
SASI           = Aturan yang dibuat di tingkat pemerintah negeri untuk menjaga, melestarikan tatanan ekologi negeri tersebut. Supaya terhindar dari tindakan pencurian, eksploitasi, kepunahan, atau kerusakan.
SE          = Kependakan dari kata OSE; yang artinya kamu, anda. Tetapi penggunaan kata ini dalam konteks budaya Orang Maluku dipandang sangat kasar, dan tidak pantas untuk dipakai bagi orang yang lebih tua, dan kata ini biasanya dipakai dalam konteks pergaualan anak muda.
SELENTER       =  Perilaku seseorang yang terkesan tanpa aturan atau tata krama.
SEMANG         =  Sebutan untuk kayu penyeimbangan pada sisi kiri kanan dari perahu atau kole-kole.
SEMPE            = Tembikar yang terbuat dari tanah liat, yang spesial dibuat sebagai tempat makanan Papeda.
SENA              =  Melenggang.
SENG              =  Tidak
SENU              =   Linglung.
SELLE         =  Tindakan mengeluarkan isi kelapa dari batoknya dengan mencungkilnya dengan parang.
SNEWENG       = Sebutan untuk seseorang yang terkesan kepala angin.
SOA             = Sebutan untuk sub-komunitas pada suatu Negeri yang terhimpun didalamnya beberapa marga. Yang dikepalai oleh seorang pemimpin dengan sebutan “Kepala Soa”.
SOMBAYANG    = Sembahyang, Berdoa
SONO             = Tidur.
SOPI              = Minuman beralkohol yang terbuat dari fregmentasi sari pohon enau/kelapa.
SORONG       = Geser.
SOSO             = Hendak berdempetan.
SOWAE/SUWAI  = Lesehan atau bisa juga Tidur di lantai.
SISI              =  lihat selle; hanya saja membedakan sisi dengan selle adalah letak pada alat yang dipakai. Yaitu menggunakan pisau untuk melakukan sisi kelapa. (2). Salah satu cara mendayung perahu dengan tujuan mengarahkan haluan perahu oleh jurumudi.
SIPAT            =  Batas
STEL             =  Mengatur, bergaya.
SUAK            = Lemah, Lemas.
SUET           = Keringat
SUNGGA      = Jerat atau ranjau yang dibuat dengan cara menanam bambu atau kayu yang telah diruncing.
SUNGSANG = Hendak membuat isi dari suatu benda yang menyimpannya, dengan cara membalik bagian bawah benda itu ke atas dan bagian atas ke bawah.
SUTENG     = Suit



» Read More...

Tradisi Badendang Rotang di Booi


Ada yang menarik dalam masa liburan Natal dan Tahun baru 2012 kemarin, di negeri Booi (kampung halaman saya), kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Yang menarik adalah, dan hendak saya share kali ini, yaitu tentang sebuah "tradisi badendang rotan" yang terjadi di Booi kala itu.
Tradisi ini memang sudah terlaksana secara turun temurun, sebagai suatu acara hiburan negeri pada satu sisi, dan pada sisi lainnya "tradisi badendang rotan" di negeri Booi memungkinkan tertampung didalamnya pula nilai-nilai solidaritas ala orang Booi yang diekspresikan lewat tradisi tersebut.
Sebenarnya, jika dicermati secara historisnya "tradisi badendang rotan" di Booi, adalah penggabungan dua buah tradisi. Yaitu "tradisi badendang" dan "tradisi hela rotan" yang sering terjadi dalam tatanan hidup orang Maluku secara umumnya, dan masyarakat Maluku Tengah pada khususnya (sebab banyak memiliki latar belakang budaya yang hampir mirip, antara satu negeri dengan negeri yang lainnya).
Tradisi badendang layaknya dilakukan oleh Masyarakat Maluku pada umumnya, yaitu ketika menyambut Natal, Idul Fitri, Lantik Raja, Cuci Negeri, Tahun baru, ataupun acara-acara adat/seremonial tertentu yang melibatkan seluruh perhatian masyarakat negeri tertentu. Meskipun dalam prakteknya "tradisi badendang" disetiap negeri dipraktekkan dengan ciri khas masing-masing.

Sementara "tradisi hela rotang" ini murni sebuah pertandingan yang mirip dengan "tarik tambang" ala orang Maluku. Sebab tambangnya terbuat dari rotan yang dianyam. Dan diarahkan dengan sebuah/beberapa tifa sebagai pengatur jalananya pertandingan tersebut.
Kembali lagi ke "tradisi badendang rotan" ala orang Booi sebagai penggabungan dari dua buah tradisi diatas, menjadikan tradisi tersebut mengekspresikan nilai yang baru dan orisinal milik orang Booi, dan fakta ini sudah berjalan turun-temurun.

» Read More...

Video Profile Negeri Booi

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!