"Dapa piring jang lupa Talloi"

Berikut ini ada sebuah kisah menarik dan mengingatkan saya kembali kepada kalimat usang yang sering Orang Tatua (dalam konteks Maluku Tengah) sampaikan, bunyinya seperti ini:
"KAL SU DAPA PIRING JANG LUPA TALLOI"

Inilah sebuah kalimat yang sering saya dengar dulu, ketika itu saya masih kental dengan kehidupan di kampung (negeri Booi) saya. Saya mencoba menterjemahkannya secara hurufiah bagi anda sekalian yang menyimak posting saya kali ini; demikian bunyinya "KALAU SUDAH MENDAPAT PIRING JANGAN LUPA TALLOI". Tentunya anda sudah mengerti penggalan kalimat ini (setelah diterjemahkan) secara hurufiah, namun sampai pada kata TALLOI, pasti ada bertanya kembali, apa itu artinya?? (tenang kok pasti saya menjelaskannya, hehehehe).

TALLOI dalam bahasa Ambon hari-hari, yaitu sebutan bagi sebuah piring tradisional yang terbuat dari tanah liat, ya dapat disebut sebagai Piring generasi pertama. Dengan demikian dari kalimat ini, ada terkandung suatu makna yang cukup mendalam sebenarnya. Sebelum saya menjelaskan maknanya dari kalimat diatas, ada suatu kisah nyata yang barusan saya temukan tadi sore, ketika sepulang dari pasar Mardika (salah satu pasar tradisional di Kota Ambon), saya bertemu dengan salah satu relasi dekat saya. Dia kemudian menceritakan kepada saya kalau dia barusan saja pulang dari rumah ibunya karena ibunya jatuh sakit tadi pagi.
Setelah panjang lebar kami bercerita, dapat saya simpulkan jika alasan utama dari ibunya jatuh sakit, dikarenakan sang ibu mengalami guncangan psikis (semacam beban pikiran) karena ada ketidak senangan/ketidak puasan sang ibu dengan sikap dari anak laki-lakinya (saudara laki-laki dari relasi saya), serta menantunya. Begitulah kira-kira saya mencoba menyimpulkan inti permasalahan yang sebenarnya relasi saya ingin sampaikan kepada saya lewat percakapan kami tadi sore.
Kembali ke kalimat di atas, dalam kaitan dengan cerita yang saya sampaikan ini, sebenarnya punya keterkaitan sehingga memicu ide saya untuk membuatnya dalam sebuah posting di MALE (Maluku Lease) kali ini. Pastinya bentuk kalimat bersifat petua atau nasihat yang hendak disampaikan orang Tatua (generasi terdahulu) kepada kita, bahwa jika apa yang telah dicapai atau diperoleh pada masa kini, itu semua tidak terlepas dari saling keterkaitan dengan (peran besar) entitas masa lalu.

Dan akhirnya, ada yang menarik dari cerita lanjutan relasi saya tadi, bahwa saudara laki-lakinya itu kemudian merasa sangat bersalah dan memohon maaf kepada ibunya sambil menangis memeluk kaki ibunya, karena ia sadar betul apa yang ia miliki sekarang (yaitu popularitas, pekerjaan, penghasilan, Isteri dan keluarga, dll) tidak terlepas dan tanpa ibunya hal itu pasti naif. Dengan begitu peran dan keberadaan ibunya sangat berarti bagi dia sekarang ini.

Dengan demikian saya tidak perlu menjelaskan lebih lanjut korelasi kalimat usang diatas dengan konteks kita saat ini??? karena saya yakin anda sendiri sudah memahaminya. [sa.95] J.Pattiasina

0 comments :

Post a Comment

Dengan Senang Hati Beta Menanti Basuara Sudara-Sudara.

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!