#PikiranHauHau

HETU BATU
Orang bilang "batu mulia" tu Mas kio.
Bukang "Mas" Jawa di Indonesia bagiang Barat sana, maar eMas yang kuning-kuning tu e..?? Itu tu, batu yang dar dunia dolo sampe oras, salalu mahal, deng salalu nae harga sabang waktu. Jadi batu sat conto ni, akang dapa cari dimana-mana, asal mansia dapa tau akang pung lobang dimana saja, sampe gunung jua dong kase botak akang par jadi "gunung botak" cuma gara-gara "batu mulia", itulah eMas.
Di paragrap baru, ada "batu Bacan, batu Obi, batu Seram, sampe deng batu Soya", samua tu dong par satu korps di ampalop; "Batu Akik" itu dorang pung nama "kesatuan". Ahaha mangkali kesatuan "kabaressi" kapa?? Kong pake nama kesatuan lai alee..
Lanjut carita, dalang barapa taong terakir ni, batu akik akang paleng laku, dengan harga saja sampe biking beta bingong,.seng tahu kata mansia-mansia yang dorang jaga koleksi akang batu akik tu, dorang pung penilaian akang dar mana?? Sampe satu batu saja bisa laku, labe dar harga oto trek sabiji pung harga. Bapa kamponang jua hee. Maar sudah jua, itulah kalabehang batu akik sesuai deng akang pung tanuar kio, beta jua cuma bisa dudu hetu akang saja ni, maar seng kuat par pung satu di jare ale sudara ee..

» Read More...

"PIKIRANG HAU-HAU"

Pikirang Hau-Hau dapat diartikan dengan "Pikiran Bodoh-Bodoh" dalam terjemahan bahasa Indonesia, jika dibaca dalam dialek orang Ambon; atau dalam bahasa Ambon Hari-Hari.


Ini sesungguhnya merupakan salah satu "Tag Line" yang dibangun dan dilandasi dengan kesadaran yang sungguh, untuk mencermati dan mempresentasikan perspektif beta tentang persoalan-persoalan pelik dalam realitas masyarakat sekitar, yang mencakup lintas bidang kehidupan tentunya. 

Artinya bisa juga dikatakan "Pikirang Hau-Hau" ini adalah bentuk halus dari cara mengkritisi seperti banyak orang lainnya yang memakai pendekatan kritik yang pada umumnya, tetapi bagi beta, sejak awal adanya tag line ini, yaitu disengajakan dalam kemasan-kemasan yang berlabel budaya lokal sebagai orang Maluku.

» Read More...

Untuk Ale Maluku

Jimmy Pattiasina
UNTUK ALE MALUKU
Lihatlah Anggrek Larat yang indah, bertumbuh untuk "ale"..
Lihatlah marga satwa di taman Manusela yang hebat dan mempesona, hidup untuk "ale"..
Lihatlah hamparan pantai-pantai terbaik dan menampilkan view yang eksotis ibarat surga, ada untuk "ale"..
Dan lihatlah Cengkeh, Pala, Fuli, Emas, hingga yang terbaru batu Akik asal Bacan dan Seram yang mahal dan berharga, sesungguhnya tersimpan untuk "ale"..
Maka fokuslah melihat "kekayaan Maluku", dan ale akan menjadi kaya.
Teruslah melihat "keindahan Maluku", dan hidup ale akan menjadi indah.
Teruslah berpikir untuk "memajukan Maluku", maka Maluku akan memajukan ale..
Seperti yang mirip akan menarik yang mirip..
------------------- -
Kudamati, 03 April 2015

» Read More...

PUISI ALE & BETA BISA

"ALE BISA"

Ale tau,
Ale bawa nama marga, 
Ale tau,
Ale pung tradisi mataruma,
Ale tau,
Ale bisa angka muka bangsa,
dan Ale tau,
Akang mulai dar Ale.
-------------------------------------

» Read More...

DUURSTEDE ANCOR LELE

Badiri di tanjong bunga karang
Dapa lia ba'sar sabuku mai
Tampa bajejer mariam, wapeng, sampe kalewang
Akang atlepa di jiku pante batu tabadiri
Dorang tukang kabualang ulang aleng
Laste takort musti putus bage dua di ujung parang
Itu makaart katong turunkan dar gunung saniri
Kahua Kabaressi para Kapitang deng Malessi
Hetu Uliaser bukang asal sabarang
Ale sala ale dapa, ale karas dapa pilang
Sei hale hatu, hatu lisa pei
Sei lesi sou, sou lesi ei

» Read More...

"Orang Nomor Satu" itu apa lai??

"Ingatang ale ana e balajar bae-bae, supaya dong dapa hidop; biar deng kurang-kurang musti dong jadi Orang. Sebab lebe bae pikol tas par pi kantor, mar jang dudu di muka tungku".
Mungkin kalimat ini, beta mencoba mereduksi gaya bicara orang tatua dulu-dulu (khusus di Maluku) yang mendorong anak-anak gadis mereka, untuk bersekolah hingga ke perguruan tinggi. Sebab ada juga semacam budaya diskriminatif lainnya dari orang Tatua dulu-dulu kepada anak-anak perempuan mereka yang begitu membatasi hak-hak (khusus di bidang pendidikan) mereka, dan menariknya fakta inipun masih berlangsung sampai hari ini dikampung-kampung. Sebagai contoh ada suatu pernyataan seperti ini, yang pernah beta dengarkan dari salah satu orang tua, yaitu "lebe bae katong kas skolah katong pung ana-ana laki-laki, dong abis skola, dong bisa karja, kaweng bawa masuk keturunan par katong dan masi pulang pokok; dari pada kas skola ana-anak parampuang, abis skola dong kaweng par orang pung untung, meski dong su jadi manusia". tapi pada bagian ini, mungkin beta akan membuat lagi sebuah posting secara terpisah untuk membahas tentang produk budaya dalam pola pikir yang mendiskriminasi semacam ini, yang perlu diadvokasi dalam tulisan-tulisan yang bersifat solutif lainnya. 

Oke kembali lagi pada pernyataan yang pertama diatas, bahwa mereka orang tatua selalu mengingatkan kepada anak-anak mereka agar selalu belajar dengan tekun, sehingga pada akhirnya mampu mendapatkan masa depannya; dengan semacam analogi yang ditambah-tambahkan, seperti tercermin dari kalimat diatas yaitu : lebih baik pikul tas (ada semacam prestise tersendiri), dari pada hanya duduk di muka tungku api (semacam sindiran untuk anak-anak perempuan yang gagal, dan katanya hanya bisa menjadi pekerja di dapur, saat menjadi ibu rumah tangga).

Tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat semacam ini, tapi ada yang harus digaris bawahi, bahwa kalimat diatas mungkin relevan pada masa lalu, tetapi pada masa sekarang ini harus dikritisi kembali. Karena sangat disayangkan sekali dengan adanya budaya berpikir semacam ini (lihat pernyataan diatas) yang masih diterjemahkan secara utuh dan harafiah, sudah pasti menimbulkan sejumlah permasalahan baru sehingga banyak generasi Muda Maluku menjadi tidak produktif dewasa ini. Kenapa?

Mari beta memberikan beberapa contoh riil yang beta amati dan teliti selama ini, saat melakukan diskusi dengan sejumlah Jujaro-mungare (anak muda perempuan dan anak muda laki-laki) di Maluku yang berada di beberapa daerah, dan begitupun dengan para orang tua. Semoga saja membantu memberikan perspektif lain bagi generasi kita di Maluku saat ini.

» Read More...

HUA BETA MELAPOR

Ya HUA yang satu
Ya HUA yang esa
KuasaMu tinggi seperti gunung Batu
Bahkan luas sampai di timur meliputi tanah
di Halmahera..
Sebait Doa penuh duka dan nestapa
Sebait Doa pengantar damai yang dirampas
Sebait Doa menguatkan beta pung basudara
Sebait Doa untuk mengingatkan mereka yang tamak dan Haus..
Tanah ini adalah firdaus,
melambangkan Halmahera yang harus dijaga dan dikelola kerena mereka,
disana para penjaga tanah surga
telah di jarah hak-haknya dengan paksa

» Read More...

YouTube

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga bermanfaat bagi anda!!