TRADISI BERPAKAIAN ORANG MALUKU



Hari ini, ada sebuah pengalaman berharga, saat bertemu dengan seseorang yang sangat beta kenal. Tetapi sebelumnya beta tak menyangkah, Bpk. Roy Saimima, 55thn, berbagi sebuah pengalamannya masa mudanya dan seakan-akan menitipkan sebuah petuah dari “orang tatua” (sebutan generasi terdahulu; nenek moyang) yang berkaitan langsung dengan ide bisnis yang sementara beta jalani. Yaitu Menciptakan Baju-Baju berkarakater budaya Maluku.
 
Setelah beta berjumpa dengan Bpk. Roy yang kebetulan sekali hendak berurusan dengan salah satu dinas Perindustrian dan Perdangangan di lingkup Pemkot Ambon, maka diskusi kami berlangsung kurang  lebih 3 jam. Sehingga dari diskusi yang panjang itu tercatat pada tanggal 3 Oktober 2014, pukul 15.10 WIT; yakni beberapa hal yang sangat penting bagi beta, sebagai berikut:

1). Dalam tradisi berpakaian orang Maluku, dapat dirangkumkan ada 21 tradisi cara berpakaian yang disesuaikan dengan waktu, acara, atau peristiwa; antara lain :

» Read More...

Bahasa Ambon Hari-hari; Kata-Kata Mutiara

"Macang Kata Cacing Bor Panta"
Sama seperti cacing mengelitik di dalam Anus (terjemahan Indonesia)

Ini sebuatan orang tatua kepada anak-anak yang tidak bisa diam, dan perilakunya yang agresif sekali; kalimat ini/kata-kata mutiara ini Lazim digunakan hingga kini dalam konteks kehidupan sosial di Maluku.
------------------------------------------------------------------

» Read More...

"Cili kata Halia, sama-sama panas"

Mendengarkan cerita "orang tatua" (dalam bahasa Ambon hari-hari, dapat berarti pertama; orang yang lebih tua dari kita. dan arti orang tatua yang kedua; adalah mengarah pada nenek moyang dahulu) ternyata ada yang unik dari orang Maluku Tengah.

Keunikan yang beta maksudkan kali ini, ingin dijadikan sebuah posting yang tidak kala pentingnya untuk dibagikan bagi pembaca setia blog TRADISI MALUKU  (ya.. berhubung sudah beberapa bulan terakhir ini beta sudah jarang menulis). Masih terkait dengan Tradisi Maluku, yaitu sebuah kekhasan dari tradisi lisan orang Maluku Tengah, yang melestarikan tradisi lisan dari generasi terdahulu (orang tatua) dan meneruskan hingga kini dengan cara-cara yang khas pula.

Jiika suatu ketika,  ada beberapa orang melihat sebuah fakta di masa kini (sebagai contoh) dan seseorang diantara mereka secara spontan mengatakan sebuah kalimat yang sebenarnya memiliki makna konotasi dari apa yang mereka lihat atau saksikan, hal inilah yang saya maksudkan sebagai inti dari posting kali ini.

Salah satu kalimat orang tatua yang sering didengar di dalam penggunaan bahasa Ambon hari-hari adalah, "Cili Kata Halia, sama-sama Padis/Panas" (Cabe sama halnya Jahe, sama-sama panas); kalimat semacam ini akan spontan dikatakan oleh seseorang dalam makna konotasinya, misalkan ia melihat ada dua orang yang melakukan sebuah perbuatan, atau aksi yang mempunyai kemiripan. Entah itu kemiripan secara positif, ataupun negatif. Sebagaimana efek dari cabe ketika di makan akan pedis dimulut dan menghasilkan rasa panas, demikian halnya dengan jahe yang akan menghasilkan efek yang panas/hangat juga di dalam tubuh ketika di konsumsi.  

Atau "Pake Sandal Lupa Tarupa" (Memakai Sendal, melupakan "TARUPA"; sendal tradisional, atau bisa disebut sebagai generasi pertama dari sandal jepit yang terbuat dari bekas Ban Mobil). Kalimat ini memiliki makna konotasi untuk mengkritisi atau menjelaskan sebuah pengalaman yang mungkin saja terjadi dimasa kini, seperti yang pernah saya jelaskan pada posting "Dapa Pirin Lupa Taloi".

Dari gambaran pengalaman yang sering beta temukan dalam setting kehidupan sehari-hari, beta menarik sebuah nilai positif dari fakta-fakta seperti ini, kenapa??

1.     Penghargaan akan peran dan eksistensi Leluhur atau Nenek Moyang (generasi terdahulu) masih terwakili dengan tradisi lisan tersebut yang masih dipakai hingga kini.

2.     Sekalipun seringkali kalimat-kalimat ini dipakai dalam situasi yang terkesan bercanda ria (Bahasa Ambon Hari-hari; "basangaja") akan tetapi peran publik dalam mengontrol beragam masalah sosial yang terjadi didalam masarakat, dapat memakai media tradisi lisan ini untuk menegur, mengkritisi, ataupun memperjelas fakta yang sementara dilihat ataupun di saksikan, agar menjadi bahan koreksi bersama.

3.    Kekhasan hidup orang Maluku yang begitu familiar dalam konteks hidup orang Basudara, sehingga cara mengkritisi sebuah kesalahan atau perbuatan negatif dari basudaranya yang lain, harus memakai kalimat-kalimat yang santun. Adapun pilihan pada pengunaan kata-kata orang tatua ini, seringkali menjadi pilihan masyarakat setempat, sekalipun bermakna konotasi dan mengandung tendensi kritikan yang pedas, atau tajam, tetapi hal ini dianggap sebagai sebuah pola hidup "basangaja" (bergurau) dalam konteks di Maluku.

Sekian posting singkat ini beta bagikan bagi basudara semua, semoga bermanfaat.


HOROMATE..!!!

» Read More...

"Dapa piring jang lupa Talloi"

Berikut ini ada sebuah kisah menarik dan mengingatkan saya kembali kepada kalimat usang yang sering Orang Tatua (dalam konteks Maluku Tengah) sampaikan, bunyinya seperti ini:
"KAL SU DAPA PIRING JANG LUPA TALLOI"

Inilah sebuah kalimat yang sering saya dengar dulu, ketika itu saya masih kental dengan kehidupan di kampung (negeri Booi) saya. Saya mencoba menterjemahkannya secara hurufiah bagi anda sekalian yang menyimak posting saya kali ini; demikian bunyinya "KALAU SUDAH MENDAPAT PIRING JANGAN LUPA TALLOI". Tentunya anda sudah mengerti penggalan kalimat ini (setelah diterjemahkan) secara hurufiah, namun sampai pada kata TALLOI, pasti ada bertanya kembali, apa itu artinya?? (tenang kok pasti saya menjelaskannya, hehehehe).

TALLOI dalam bahasa Ambon hari-hari, yaitu sebutan bagi sebuah piring tradisional yang terbuat dari tanah liat, ya dapat disebut sebagai Piring generasi pertama. Dengan demikian dari kalimat ini, ada terkandung suatu makna yang cukup mendalam sebenarnya. Sebelum saya menjelaskan maknanya dari kalimat diatas, ada suatu kisah nyata yang barusan saya temukan tadi sore, ketika sepulang dari pasar Mardika (salah satu pasar tradisional di Kota Ambon), saya bertemu dengan salah satu relasi dekat saya. Dia kemudian menceritakan kepada saya kalau dia barusan saja pulang dari rumah ibunya karena ibunya jatuh sakit tadi pagi.
Setelah panjang lebar kami bercerita, dapat saya simpulkan jika alasan utama dari ibunya jatuh sakit, dikarenakan sang ibu mengalami guncangan psikis (semacam beban pikiran) karena ada ketidak senangan/ketidak puasan sang ibu dengan sikap dari anak laki-lakinya (saudara laki-laki dari relasi saya), serta menantunya. Begitulah kira-kira saya mencoba menyimpulkan inti permasalahan yang sebenarnya relasi saya ingin sampaikan kepada saya lewat percakapan kami tadi sore.
Kembali ke kalimat di atas, dalam kaitan dengan cerita yang saya sampaikan ini, sebenarnya punya keterkaitan sehingga memicu ide saya untuk membuatnya dalam sebuah posting di MALE (Maluku Lease) kali ini. Pastinya bentuk kalimat bersifat petua atau nasihat yang hendak disampaikan orang Tatua (generasi terdahulu) kepada kita, bahwa jika apa yang telah dicapai atau diperoleh pada masa kini, itu semua tidak terlepas dari saling keterkaitan dengan (peran besar) entitas masa lalu.

Dan akhirnya, ada yang menarik dari cerita lanjutan relasi saya tadi, bahwa saudara laki-lakinya itu kemudian merasa sangat bersalah dan memohon maaf kepada ibunya sambil menangis memeluk kaki ibunya, karena ia sadar betul apa yang ia miliki sekarang (yaitu popularitas, pekerjaan, penghasilan, Isteri dan keluarga, dll) tidak terlepas dan tanpa ibunya hal itu pasti naif. Dengan begitu peran dan keberadaan ibunya sangat berarti bagi dia sekarang ini.

Dengan demikian saya tidak perlu menjelaskan lebih lanjut korelasi kalimat usang diatas dengan konteks kita saat ini??? karena saya yakin anda sendiri sudah memahaminya. [sa.95] J.Pattiasina

» Read More...

"Sampe tatanaman babuah kalapa, itu tanda dunia su paleng tua"

Ada sebuah kalimat yang pernah disampaikan oleh generasi terdahulu akhirnya juga sampai ke telinga saya, dan  kalimat tersebut memiliki artian tersendiri oleh saya. Yaitu pada saat saya meneliti tentang skripsi saya di negeri Booi Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Di suatu diskusi lepas dengan salah seorang informan saya, dan ia menyampaikan sebuah kalimat yang ia kutip, plus dengan kronologisnya dari sumber aslinya. Begini kira-kira yang saya rekam dari hasil pembicaraan itu, ketika Oom Librek Pattiasina menjelaskan kronologis sebelum kalimat itu disampaikan sebagai kalimat nasehat, atau juga proyeksi alam dari generasi terdahulu bagi generasi berikutnya.

Biasanya orang tatua dolo-dolo tu, dong par hari dominggu pung tabiat bajalang mangente sudara, lalu dudu carita deng sopi satu botol bols, mar dong pung gaya minom seng kaya ana-ana muda sakarang lalu duduk dari jam 1 siang sampe jam 5 sore, minom bukan satu botol bols, mar satu cerigen. Mar anehnya orang tatua dolo-dolo tu duduk minom satu botol bols itu dari jam 1 siang sampe jam 5 sore seng abis itu sopi. walaupun dong ada 5 orang yang dudu minong akang.
Waktu itu beta (oom Librek) ada duduk barmaeng di sekitar dong (orang tatua) yang sementara istori  soal nanaku alam, lalu tete UNA (nama tokoh yang menyampaikan kalimat berharga ini) bilang bagini : "NANTI ALE DONG NANAKU E, KAL SAMPE TATANAMAN BABUAH KALAPA, ITU TANDA DUNIA SU PALENG TUA, DENG SENG LAMA LAI DUNIA MAU RUSAK". Abis itu beta pikir akang jua seng masu akal, masa pohong Goyawas akang nanti babuah kalapa? itu kan seng mungkin, atau pohong Mayang babuah Kalapa itu jua seng bisa.
Mar kalimat itu di masa sakarang, baru beta bisa mangarti akang kalo kalimat tete UNA ada batul juga, maksud antua itu katong bisa lia akang di dunia sakarang ni; sakarang Pohon Doriang yang dolo cuma babuah dalam satu tahun cuma sakali, mar su beda paskali doriang bisa babuah sampe dua kali, bahkan akang taru bunga untuk katiga kali lai di dunia sakarang ni.  Bagitu juga buat tatanaman laeng. Sebab pohon kalapa itu akang seng putus buah dalam satu taong. Itu yang tete UNA maksudkan dan beta baru mangarti akang lai.
Terjemahan bahasa indonesia : Biasanya orang tua kita di waktu dulu, mereka setiap hari minggu punya kebiasaan berkunjung di sanak saudaranya, lalu duduk bercerita dengan satu botol sopi (minuman keras tradisional orang Maluku pada umumnya yang terbuat dari sadapan pohon enau), tetapi cara mereka minum minuman keras tidak sama cara anak-anak mudah sekarang yang duduk dari jam 1 siang sampai jam 5 sore dan menghabiskan satu "gen" (ini wadah bekas tempat minyak goreng yang berisi netto 5 liter) sopi. Tetapi uniknya 1 "botol Bols" (botol bekas minuman keras impor yang berisikan 1 1/2 liter) tidak mereka habiskan sekaligus,  sekalipun yang meminum minuman keras itu mereka ada ber-5 (lima) orang.
Waktu itu saya sementara bermain di sekitar mereka yang sementara bercerita/berdiskusi dalam kerangka melakukan proyeksi/prediksi terhadap keberadaan alam sekitar, lalu opa Una mengatakan begini : "NANTI KALIAN LIHAT/TANDAI, KALAU SAMPAI TANAMAN BERBUAH KELAPA, ITU MENANDAKAN BAHWA DUNIA SUDAH SANGAT TUA, DAN TIDAK LAMA LAGI DUNIA SUDAH MAU RUSAK".Sehabis kalimat itu, saya berpikir tidak masuk akal/logika, bagaimana mungkin pohon jambu biji (goyawas: sebutan dalam konteks orang Lease) nantinya berbuah Kepala? atau pohon Enau berbuahkan Kelapa itu juga tidak bisa.
Tetapi kalimat itu di masa kini, baru saya mengerti/memahami kalimat opa Una tersebut ada benarnya juga, maksud belaiu bisa kita lihat sekarang; bahwa sekarang pohon Durian yang dahulu cuma berbuah satu kali dalam semusim (satu tahun musimannya), tetapi sudah sangat berbeda dapat berbuah sampai dua kali, bahkan  ada kecendrungan bunga Durian, yang menjadi bakal buah Durian untuk ketiga kalinya dalam pohon yang sama dapat di jumpai dewasa ini. Hal ini berlaku juga pada tanaman yang lainnya. Sebab pohon Kelapa itu tidak berhenti mengeluarkan buahnya dalam satu tahun (sebab bisa berbuah 3-4 kali dalam setahun). Itu yang opa Una maksudkan dan saya baru mengerti hal tersebut.

Dari cerita di atas, bagi saya kemajuan berpikir generasi terdahulu dalam melakukan suatu proyeksi kerumitan yang sangat mungkin terjadi di masa depan, dapat mereka lakukan dengan sangat baik. Dan bahkan lebih dahulu mereka yang nota bene, tidak berpendidikan bisa memprediksikan semua itu dengan cermat dan tepat. Hanya berdasar pada pengalaman hidup yang mereka temukan dalam relitas hidup keseharian mereka. Hal ini patut diberikan apresiasi, bahwa mereka (geneasi terdahulu kita di Maluku) sudah memposisikan diri mereka sejajar dengan penemu teori-teori besar seperti yang ada di belahan dunia yang lain.

Cuma saja tidak dengan baik terdokumentasikan apa yang menjadi sumbangsi pikir mereka, dalam hal ini yang saya maksudkan mesti diberikan apresiasi terhadap kekayaan berpikir mereka yang sudah mampu menemukan dasar-dasar realitas Alam dalam hubungannya dengan Manusia di konteks masa kini. Apalagi dewasa ini dunia digegerkan dengan wacan perubahan iklim, panas global, dll, dan menurut saya opa Una sudah berbicara jauh sebelum itu tentang dasar-dasar akibat dari perubahan iklim karena ulah manusia, sehingga dengan sendirinya merusakkan bumi secara perlahan namun pasti.

Semoga bermanfaat postingan ini, dengan harapan, jika saja ada pengalaman seperti yang saya dokumentasikan, mari sebagai generasi penerus di berbagai tempat, dapat menghargai hal intelektual mereka (generasi terdahulu kita) sebab keabsahan sebuah teori akan diakui dan diukur ketika dapat dibuktikan kebenarannya. Dan saya yakin banyak penerawangan/proyeksi/prediksi dari generasi terdahulu kita telah melakukan semua itu, namun kita tidak menghargainya dan menjadikannya menjadi hak khusus kekayaan intelektual mereka (pencetus ide: seperti tokoh dalam tulisan ini) dalam realitas keilmuan kita dan lainnya. Terlebih khusus bagi kita di Maluku. [S.A. 95] J.Pattiasina

   
  






» Read More...

Pica Sempe deng Balangang

"KASIANG KAMENANGAN PICA SEMPE DENG BALANGA"

Kalimat di atas saya sering mendengarkannya dari seorang nenek di negeri saya, kebetulan ia juga adalah nenek sepupu saya. Ketika ada suatu kondisi dimana ada tersiar berita bahwa ada orang lain atau keluarga yang susah karena sakit atau, bahkan sampai menyebabkan ia meninggal dunia, maka Ia (nenek Adi namanya; ia sudah Almarhum) selalu mengucapkan kalimat ini spontan.

Ketika saya mencoba mengartikannya, ada makna tersendiri juga di dalam kalimat atau frasa ini Kasiang (Artinya : Susah/Sulit/Sengsara) Kamenangang (Artinya : Kemenangan/kejayaan/Keagungan), Pica (artinya: Pecah/hancur/Rusak) Sempe (Artinya: Alat perlengkapan makan yang terbuat dari tanah liat yaitu wadah khusus tempat makanan Papeda), deng (Artinya: dengan), Balangang (Artinya : Tempat masak yang terbuat dari tanah liat, yaitu nenek moyangnya panci). 

Dari kalimat atau frasa tersebut, Ia sedang mengartikan bahwa dalam setiap kehidupan manusia yang berada  dalam kepelbagaian realitas hidupnya; susah atau senang, kaya atau miskin, kuat atau lemah, pasti suatu waktu akan lenyap/punah/hilang. Yang kemudian ia artikan lewat pecahnya "sempe deng balanga" (sebagai alat yang kapan saja bisa musnah sekalipun benda itu sangat berarti bagi hidup). Dari tulisan ini, memungkinkan bagi saya belajar nilai-nilai hidup dari generasi terdahulu kita, yang mana mereka mengartikan segala sisi realitas hidup mereka dalam cara-cara yang unik, dan contoh ini sebagai salah satu dari yang lainnya.

Justru dari hal ini, saya tertarik untuk memuatnya dalam postingan blog saya, yang masih terkait dengan beragam tradisi orang Lease. Dan saya senang berbagi hal ini bagi anda sekalian. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

Video Profile Negeri Booi

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!