ORANG SARANE; tradisi berpakaian waktu pi ibadah

Sebuah fenomena menarik, hampir di semua negeri-negeri orang Sarane (Kristen) di Maluku dapat terlihat cara berpakaian yang sama sewaktu mereka pergi beribadah. Karena lokus yang saya lihat di Lease, maka dikatakan semua negeri di Lease masih menjaga tradisi ini. Yaitu bagi orang-orang perempuan, di haruskan memakai kabaya itam dan kaeng pikol (kebaya hitam dan kain pikulnya), sementara yang laki-laki pakai baniang itam (semacam jas hitam tradisional ala orang Maluku). Dan yang unik jika memakai busana seperti yang disebutkan di atas, harus berkaki telanjang atau tidak memakai alas kaki berupa sendal atau sepatu. Ini merupakan suatu keharusan dan sudah membudaya dalam tatanan hidup orang Kristen di Lease.

Kendati demikian dengan berjalannya waktu, dan terus mengalami perubahan sosial kemasyarakatan, pola tradisi ini sedikit bergeser sekarang. Tetapi hanya beberapa modifikasi yang terlihat; seperti dalam membuat bentuk kain pikol dengan pernak-pernik agar terlihat indah yaitu dengan memakai beragam manik-manik, atau baniang untuk laki-laki yang di maksudkan di atas di modifikasi bentuknya, agar di sesuaikan dengan kondisi sekarang. Atau juga, banyak di antara  pemakai busana ini waktu pergi ke gereja, sudah memakai alas kaki, seperti sandal atau sepatu. Namun yang pasti cara berbusana kabaya itam-kaeng pikol dan baniang itam masih terlihat semarak waktu mereka beribadah pada jam-jam ibadah. Entah itu pada hari minggu, atau juga pada hari-hari ibadah lainnya.

Secara filosofi untuk menggali asal mula cara berbusana ini kemudian dijadikan pakaian beribadah hingga kini, tentunya memiliki sejarahnya tersendiri. Yang saya ketahui, bahwa ini dahulu sebelum agama Kristen di bawa masuk ke Maluku, cara berpakaian ini adalah cara berbusana ritual adat pada umumnya dari seluruh latar belakang orang-orang Maluku termasuk di Lease, dan barang tentu punya keunikan tersendiri dengan latar belakang mereka masing-masing. Sampai sekarang pun ketika ada acara-acara adat, berbusana kabaya itam untuk orang perempuan dan baniang itam menjadi suatu keharusan. Bedanya berpakaian adat dan berpakaian untuk beribadah, yaitu terletak pada kaeng pikol sebagai pelengkap kabaya itam (yaitu dikhususkan untuk beribadah), sementara untuk adat, orang perempuan memakai kain berang merah, atau kain tenun (disesuaikan dengan kontek adat tertentu kapan harus memakai kain berang, atau kapan memakai kain tenun) yang di ikat di leher. Begitupun dengan yang laki-laki tidak jauh berbeda dengan cara berbusana adat dengan yang di pakai oleh wanita.
Namun satu hal yang pasti patut di berikan apresiasi terhadap tradisi berbusana ini, yang menurut saya pribadi orang Maluku mampu menentukan karakter mereka yang khas dalam pemilihan berbusana yang tepat untuk membedakan suatu konteks tentertu. Dan hal ini nampak pada cara orang-orang Sarane yang secara turun temurun memelihara tradisi berbusana yang sakral dalam beribadah, maupun pada saat di mana mereka harus berpakaian adat.
Demikianlah sedikit gambaran filosofi kenapa tradisi ini kemudian kekristenan mengadopsi cara berbusana yang kontekstual dari umatnya di Maluku yang dahulu terkenal kuat sekali dengan adat budayanya. Semoga bermanfaat tulisan ini. [S.A.95] J.Pattiasina



2 comments :

SA.onlinecommunity said...

Bung salam kenal... beta senang dengan tulisan2 di blog ini.. semoga kita yang di Rantau bisa mengenal budaya orang Lease..


Hormat Andre

Jimmy Pattiasina said...

Iya bung Andre... dangke su singgah. Beta senang, biar sudah kenal di Ofline mar ada mangente di dunia Online.

Semoga Teman2 di Jakarta sukses selalu dalam studinya, dan pulang bisa membangun Maluku.

Hormat : SA.95. J.Pattiasina

Post a Comment

Dengan Senang Hati Beta Menanti Basuara Sudara-Sudara.

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!