Carita Tasambung Kisah

Dar jiku kintal digital nona sahua
Dar jiku kintal digital nyong balas kata
Dar jiku kintal digital tuang hati, tasambung rasa voor baku bage
Ada yang salah deng nona pung hati.

Tasalah deng hati itu yang nyong tau
Nona ada kanapa?
Nona barang kanapa?
Nyong pung handeke taputar voor manyau nona, akang jadi kisah dalam carita.

Ada kisah ada carita di bawa rembulan deng batabor bintang,
Orang bilang, dalamnya laut banda itu hati pung kadalam, lanjutan kisah nyong seng tau
Hijaunya utang Seram, akang pung luas nyong seng bisa ukur
karna dapa lia cuma dar jauh, carita tasambung kisah…..

Jang marah….
Salah Istori nyong salah tingkah
Handeke taputar berlawanan jarong jam, salah tarkira
Ada carita mau biking kisah, mar seng bisa sambung karna jauh
Bisa bacarita di jiku kintal taontal rasa sapa yang tau

Nona tuang hati mungkin nyong abis kata.
Nyong tuang hati mungkin nona barat rasa
Puisi ini memintal kata jadi carita indah membangun kisah
Oras bintang kincing menjawab harapan, mungkin saja menjadi doa. [S.A. 95] J.Pattiasina




Terjemahan Bahasa Indonesia



Dari sudut lokasi/tempat digital nona bersuara
Dari sudut lokasi/tempat digital  nyong balas kata
Dari sudut lokasi/tempat digital pujaan hati, bersambung rasa untuk berbagi
Ada yang salah dengan nona punya hati


Hati yang bermasalah, itu yang nyong tahu
Nona ada kenapa?
Nona apa gerangan?
Otak nyong terus berputar untuk menjawab nona, tentunya jadi kisah dalam cerita


Ada kisah ada carita di bawa rembulan dengan bertaburan bintang
Kata orang, dalamnya laut banda itu dalamnya hati, lanjutan kisah nyong tidak mengetahui
Hijaunya hutan Seram, luasnya nyong tidak bisa mengukurnya

karna hanya bisa melihat dari kejauhan, cerita bersambung kisah…..

Jang marah….
Salah bicara nyong salah tingkah
Otak berputar berlawanan jarum jam, salah mengira
Ada cerita untuk dibuat kisah, akan tetapi tidak bisa bersambung karna jauh
Bisa bercerita di sudut tempat teruntai rasa siapa yang tahu

Nona pujaan hati mungkin nyong habis kata.
Nyong tuang hati mungkin nona berat rasa
Puisi ini memintal kata jadi cerita indah membangun kisah
Waktu bintang jatuh menjawab harapan, mungkin saja menjadi doa.









» Read More...

Kaeng Kabaya

Konde manyalah deng bunga ron
manis paskali deng bibir merah delima
nona itam manis kaeng kabaya dari Ambon
biking nyong tagila-gila

kaeng kabaya, biking ale tamba manis
kaeng kabaya, jadi tanda kalo ale nona Ambon
kaeng kabaya, bukang berarti jadikan ale seng modern
kaeng kabaya pung artian spesial voor beta nyong Ambon

kong mangapa kaeng kabaya jadi kurang bahan?
kong mangapa kaeng kabaya takisu di ale mata?
kong mangapa kaeng kabaya seng dapa slak deng baju cele?
jujaro deng mungare Ambon pung bastel su talamburang..

beta deng ale jadi malu, malu yang mana?
baju kurang bahan, kameja turung nae deng calana tarobe panta sak...
seng pastiu yang penting bastel iko rame, mana baju cele deng kaeng kabaya?
akang samua ilang, katanya kuno mar balom tentu seng bermartabat

Ale Jujaro..., Ale Mungare ......
dunia ini memang su virkan,
kaki di kapala, kapala di kaki
Seng tau manir, su talamburang seng tau hati.....

Beta cuma mau biking inga, beta cuma mau kase suara,
tabiat orang Maluku pung malu hati paleng tinggi.
jaga katong pung harga diri
jaga katong pung kalakuang, supaya orang barekeng jang cuma karna babanting.


 

» Read More...

Cerita di Balik Kesuksesan Tukang dari Negeri Booi

Bukan suatu euphoria ketika ada yang memberikan pujian (masyarakat negeri lain di Lease) terhadap orang Booi yang memiliki kelebihan dalam suatu pekerjaan mereka membangun sebuah bangunan. Entah itu dalam membangun sebuah Rumah, bangunan Sekolah, bangunan Gereja, dll. Sebenarnya dalam sekilas mata, mereka (para Tukang = yaitu sekelompok buru bangunan, yang di dalamnya terdapat spesialis tukang kayu, spesialis tukang batu, dll) memiliki kemampuan yang terorganisir dan cepat dalam bekerja dengan kualitas terbaik, memang sudah menjadi bakat alami.

Namun jika ada yang bertanya, kenapa mereka (tukang dari Booi) bisa terkenal dengan kualitas kerja mereka seperti itu, maka jawabannya akan saya jawab dalam postingan ini. Terkait dengan kualitas kesuksesan Tukang dari Booi, berawal dari sebuah legenda "Air Tukang" atau juga dapat di katakan Mitos yang menghubungkan marga/fam Soumokil yang ada di negeri Booi sebagai Founding Fathers kualitas kerja Tukang di negeri Booi. 

Beginilah ceritanya :

Di suatu malam, persis di bawah terang bulan purnama dekat rumah seorang pemuda (yang bermarga Soumokil), ia hendak mencari suatu tempat yang nyaman untuk menikmati terang bulan purnama malam itu yaitu di sebuah kolam air, yang biasa dipakai orang pada saat itu untuk keperluan minum dan mencuci, terdengar suara canda dan tawa nona-nona. Setelah di tengok dari balik pepohonan, ia melihat ada 7 orang gadis/nona yang cantik dan rupawan sedang mandi sambil bercanda satu dengan yang lainnya.

Pemuda tersebut menyadari bahwa nona-nona itu bukan dari ras manusia, tetapi ke 7 nona tersebut berasal dari "Kayangan" dunia dewa-dewi. Alasannya tidak ada diantara mereka yang di kenali, sebab tidak ada nona-nona dari negeri Booi yang cantik dan rupawan menandingi ke 7 nona yang ia lihat pada saat itu. Karena kecantikkan mereka ia tertawan hati untuk bisa memiliki satu dari antara mereka, dan setelah ia mencermati sekitar kolam itu, ada 7 buah pakaian putih yang lengkap dengan sayap masing-masing milik nona-nona tersebut.

Dengan harap-harap cemas, pemuda tersebut mulai mendekati kumpulan pakaian itu, dan mencuri 1 pasang sayap dari antaranya. Tujuan pemuda itu berhasil tanpa di ketahui oleh mereka. Setelah tiba waktu ke 7 nona dari kayangan tersebut selesai mandi dan hendak pulang ke asal mereka, baru disadari bahwa adik bunggsu mereka tidak memiliki sayapnya untuk terbang ke Kayangan. Sudah pasti merupakan sebuah kesedihan besar yang terjadi di antara mereka, dimana harus berpisah dengan adik bungsu atas kecelakaan yang menimpah adik bungsu mereka. Namun kenyataan ini tidak bisa terhindarkan, ke 6 kakak-kakaknya harus kembali, sebab cahaya rembulan sudah hampir redup dan dengan berat hati mereka harus meninggalkan adik bungsunya, dengan perjanjian setelah sayapnya di temukan ia (adik bungsu) segera kembali pulang dan berjumpa dengan keluarganya kembali.

Di Balik pepohonan mata pemuda merekam semua yang terjadi pada saat itu, hingga fajar mulai menyingsing pemuda itu tetap terjaga untuk memantau perilaku nona itu, sebab yang terlihat, nona itu hanya duduk murung di pinggir kolam air tersebut dan menangis sedih. Dengan berprilaku yang terkesan tidak mengetahui segala kejadian yang sementara dialami oleh nona tersebut, pemuda itu mulai mendekatinya sambil menanyakan kronologis yang merupakan sebab, kenapa sampai nona tersebut akhirnya menangis di pinggir kolam air tersebut. Dengan sikap care yang ditampilkan pemuda tersebut, nona itu akhirnya menerima tawaran tumpangan oleh seorang pemuda yang berasal dari  kalangan manusia (yang juga sebagai manusia pertama yang di temuinya) pada saat itu. 

Singkat cerita, mereka akhirya kawin dan hidup bersama-sama dan di karuniai 2 orang anak laki-laki. Mereka hidup dengan bahagia, sampai dengan suatu saat ibu dari kedua anak itu hendak membersihkan atas loteng (bagian plavon) rumah mereka yang terbuat dari susunan bambu. Dengan tidak sengaja ia melihat sebuah bambu Patong (sebutan terhadap salah satu jenis bambu di Maluku Tengah yang berukuran besar) yang tersumbat dengan sebuah penutup, dan tersusun di antara belahan bambu lainnya sebagai palvon rumah mereka. Dengan keingin tahuan apa isi dari sebuah wadah dari bambu itu, ibu mulai membukanya dengan hati-hati. Ia dikagetkan dengan isi wadah bambu tersebut, bercampur rasa kesal terhadap suaminya, rasa senang terhadap barang temuannya (yaitu sayapnya), dan rasa rindu untuk kembali ke tempat asalnya dan juga menepati janji terhadap saudari-saudari perempuannya, ia dengan tenang menanti saat yang tepat untuk kembali ke negeri Kayangan.

Sampai pada datangnya waktu bulan purnama, kebetulan sekali waktu itu ayah dari anak-anak sementara bekerja di kebun dan harus menginap di rumah kebun, maka hari itulah yang telah lama di tunggu-tunggu oleh ibu (nona dari kayangan) anak-anak tersebut. Ia mulai naik ke loteng mengambil sayapnya, dan memanggil kedua anaknya dan menjelaskan apa yang sementara terjadi sampai dengan saat itu, dimana ibu harus meninggalkan kalian dengan ayah kalian dan harus kembali ke negeri Kayangan. Sambil membuat api unggun, maka ia berkata kepada anaknya: "ibu akan naik dengan bantuan asap api ini, namun tanggung jawab dan kasih sayang ibu kepada kalian akan selalu ada, jadi setiap bulan purnama datanglah di tempat ini, dan kumpul api (buatlah api unggun) di sini maka ibu akan memberikan ole-ole (kiriman hadiah) bagi kalian selalu. Tapi ingatlah baik-baik, tali pengikat setiap ole-ole jangan sekali-kali diputuskan dengan cara memotongnya dengan pisau atau parang, sebab jika di potong ole-ole dari ibu tidak akan ada lagi bagi kalian".  
Maka terbanglah ibu anak-anak itu kembali ke negeri Kayangan dan meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.

Tibalah ayah di pagi hari dan dijumpailah anak-anaknya sementara menangis dan di ceritakanlah apa yang mereka dengarkan dari ibu kepada mereka, maka sangat bersedih hati mereka bertiga. Dan untuk memastikan apakah benar isterinya sudah kembali ke tempat asalnya, ia mencari bambu patong di atas plavonnya, dan benar bahwa sudah kosong bambu yang dahulu berisikan sayap yang di curinya dari salah satu nona kayangan saat itu, yang sekarang adalah ibu dari kedua anaknya. Namun tidak mengapa dalam hati ayah saat itu, sebab ada sebuah ikatan emosional antara ibu dan anak-anak juga dengan dirinya; sebab seperti yang diceritakan oleh anak-anaknya, bahwa ibunda mereka telah berjanji untuk memberikan mereka ole-ole setiap bulannya.

Bulan purnama pun tiba, seperti yang dijanjikan oleh ibu mereka, mereka (anak-anak dan ayah mereka melakukan cara yang sama dengan anjuran ibunda) mulai membuat api unggun; dan dalam beberapa saat tiba-tiba ada ole-ole yang mereka temukan di sekitar tempat itu. Setelah dibukakan di dalam ole-ole itu ada segala keperluan dari anak-anaknya yang ibunda mereka kirimi, dan juga ada surat yang di tuliskan kepada ayah mereka. Dan di akhir surat itu tertulis untuk mengingatkan kembali kalau setiap ole-ole tidak boleh di putuskan tali pengikatnya dengan pisau atau parang, untuk itu harus di buka simpulnya dengan tangan.

Maka bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, ole-ole selalu mereka dapatkan, namun ada suatu perubahan yang terjadi pada ole-ole tersebut, tali pengikatnya semakin sulit untuk di buka simpulnya. Dan pada saat yang tepat untuk memperoleh ole-ole dari ibu mereka, pada saat itu ole-ole yang mereka dapatkan begitu besar sekali wadahnya, dan tentunya ikatan simpulnya sangat sulit mereka membukanya dengan tali. Sampai kurang lebih satu minggu ole-ole itu tidak dapat di bukakan, maka mereka bertiga sepakat untuk memutuskan tali pengikat ole-ole itu dengan pisau. Maka konsekuensi dari perbuatan itu, adalah hubungan antara ibu dengan anak-anak dan juga hubungan antara suami dan isterinya yang berasal dari negeri kayangan itu berakhir sampai di saat itu saja. Dan isi dari ole-ole terakhir yang dikirim oleh ibunda mereka adalah seperangkat alat tukang kayu dan tukang batu yang lengkap untuk membangun rumah mereka.

Mulai dari saat itu, mereka (adalah kedua anak-anak laki itu yang bermarga Soumokil) bersama dengan ayah mereka mulai memakai perkakas-perkakas tukang itu untuk membangun rumah mereka, dan tentunya dengan sepenuh hati mereka memakai perkakas itu sebagai bagian yang terpenting dalam kehidupan mereka, sebab kecintaan terhadap perkakas-perkakas tukang itu dalam fungsinya, mereka memaknainya sebagai bagian hidup yang tidak bisa dilepas pisahkan dari besar rasa cinta dan rindu mereka kepada ibunda tercinta yang memberikan segala hal bagi mereka.

Begitulah awal mula cerita kepiawaian orang Booi dalam kapasitasnya sebagai tukang-tukang bangunan yangg terkenal; sebenarnya berawal dari cerita ini dan terus dalam berjalannya waktu, ilmu tukang dan pengenalan perkakas tukang yang di peroleh dari salah satu marga yaitu marga/fam Soumokil kemudian di transfer kepada seluruh orang Booi lainnya dalam proses regenerasi hingga kini. Dan hal ini yang memungkinkan mereka (orang Booi) mendalami kerja Tukang sebagai suatu proses alami, yang sudah terjadi dalam setting sejarah mereka hingga kini dengan pola regenerasi kerja Tukang secara otodidak, sebagai sebuah keunikan dan juga kehebatan mereka.


Sebagai catatan: di Negeri Booi hingga kini ada suatu tempat yang di sebut AIR TUKANG, dalam kaitannya dengan cerita ini tempat tersebut tidak terlalu terkenal oleh banyak orang. Tetapi tempat itu memiliki dasar filosofis yang kuat dengan karakter sebagaian besar orang Booi yang memiliki keunggulan dalam profesi mereka sebagai tukang yang berkualitas. 

Data ini saya peroleh dari Almarhum Paulus Pattiasina (77 tahun, meninggal dunia di tahun 2005), dan dinarasikan oleh saya dalam gaya bahasa yang dapat dimengerti oleh anda sekalian. [SA.9.5] J. Pattiasina 



» Read More...

"Sampe tatanaman babuah kalapa, itu tanda dunia su paleng tua"

Ada sebuah kalimat yang pernah disampaikan oleh generasi terdahulu akhirnya juga sampai ke telinga saya, dan  kalimat tersebut memiliki artian tersendiri oleh saya. Yaitu pada saat saya meneliti tentang skripsi saya di negeri Booi Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Di suatu diskusi lepas dengan salah seorang informan saya, dan ia menyampaikan sebuah kalimat yang ia kutip, plus dengan kronologisnya dari sumber aslinya. Begini kira-kira yang saya rekam dari hasil pembicaraan itu, ketika Oom Librek Pattiasina menjelaskan kronologis sebelum kalimat itu disampaikan sebagai kalimat nasehat, atau juga proyeksi alam dari generasi terdahulu bagi generasi berikutnya.

Biasanya orang tatua dolo-dolo tu, dong par hari dominggu pung tabiat bajalang mangente sudara, lalu dudu carita deng sopi satu botol bols, mar dong pung gaya minom seng kaya ana-ana muda sakarang lalu duduk dari jam 1 siang sampe jam 5 sore, minom bukan satu botol bols, mar satu cerigen. Mar anehnya orang tatua dolo-dolo tu duduk minom satu botol bols itu dari jam 1 siang sampe jam 5 sore seng abis itu sopi. walaupun dong ada 5 orang yang dudu minong akang.
Waktu itu beta (oom Librek) ada duduk barmaeng di sekitar dong (orang tatua) yang sementara istori  soal nanaku alam, lalu tete UNA (nama tokoh yang menyampaikan kalimat berharga ini) bilang bagini : "NANTI ALE DONG NANAKU E, KAL SAMPE TATANAMAN BABUAH KALAPA, ITU TANDA DUNIA SU PALENG TUA, DENG SENG LAMA LAI DUNIA MAU RUSAK". Abis itu beta pikir akang jua seng masu akal, masa pohong Goyawas akang nanti babuah kalapa? itu kan seng mungkin, atau pohong Mayang babuah Kalapa itu jua seng bisa.
Mar kalimat itu di masa sakarang, baru beta bisa mangarti akang kalo kalimat tete UNA ada batul juga, maksud antua itu katong bisa lia akang di dunia sakarang ni; sakarang Pohon Doriang yang dolo cuma babuah dalam satu tahun cuma sakali, mar su beda paskali doriang bisa babuah sampe dua kali, bahkan akang taru bunga untuk katiga kali lai di dunia sakarang ni.  Bagitu juga buat tatanaman laeng. Sebab pohon kalapa itu akang seng putus buah dalam satu taong. Itu yang tete UNA maksudkan dan beta baru mangarti akang lai.
Terjemahan bahasa indonesia : Biasanya orang tua kita di waktu dulu, mereka setiap hari minggu punya kebiasaan berkunjung di sanak saudaranya, lalu duduk bercerita dengan satu botol sopi (minuman keras tradisional orang Maluku pada umumnya yang terbuat dari sadapan pohon enau), tetapi cara mereka minum minuman keras tidak sama cara anak-anak mudah sekarang yang duduk dari jam 1 siang sampai jam 5 sore dan menghabiskan satu "gen" (ini wadah bekas tempat minyak goreng yang berisi netto 5 liter) sopi. Tetapi uniknya 1 "botol Bols" (botol bekas minuman keras impor yang berisikan 1 1/2 liter) tidak mereka habiskan sekaligus,  sekalipun yang meminum minuman keras itu mereka ada ber-5 (lima) orang.
Waktu itu saya sementara bermain di sekitar mereka yang sementara bercerita/berdiskusi dalam kerangka melakukan proyeksi/prediksi terhadap keberadaan alam sekitar, lalu opa Una mengatakan begini : "NANTI KALIAN LIHAT/TANDAI, KALAU SAMPAI TANAMAN BERBUAH KELAPA, ITU MENANDAKAN BAHWA DUNIA SUDAH SANGAT TUA, DAN TIDAK LAMA LAGI DUNIA SUDAH MAU RUSAK".Sehabis kalimat itu, saya berpikir tidak masuk akal/logika, bagaimana mungkin pohon jambu biji (goyawas: sebutan dalam konteks orang Lease) nantinya berbuah Kepala? atau pohon Enau berbuahkan Kelapa itu juga tidak bisa.
Tetapi kalimat itu di masa kini, baru saya mengerti/memahami kalimat opa Una tersebut ada benarnya juga, maksud belaiu bisa kita lihat sekarang; bahwa sekarang pohon Durian yang dahulu cuma berbuah satu kali dalam semusim (satu tahun musimannya), tetapi sudah sangat berbeda dapat berbuah sampai dua kali, bahkan  ada kecendrungan bunga Durian, yang menjadi bakal buah Durian untuk ketiga kalinya dalam pohon yang sama dapat di jumpai dewasa ini. Hal ini berlaku juga pada tanaman yang lainnya. Sebab pohon Kelapa itu tidak berhenti mengeluarkan buahnya dalam satu tahun (sebab bisa berbuah 3-4 kali dalam setahun). Itu yang opa Una maksudkan dan saya baru mengerti hal tersebut.

Dari cerita di atas, bagi saya kemajuan berpikir generasi terdahulu dalam melakukan suatu proyeksi kerumitan yang sangat mungkin terjadi di masa depan, dapat mereka lakukan dengan sangat baik. Dan bahkan lebih dahulu mereka yang nota bene, tidak berpendidikan bisa memprediksikan semua itu dengan cermat dan tepat. Hanya berdasar pada pengalaman hidup yang mereka temukan dalam relitas hidup keseharian mereka. Hal ini patut diberikan apresiasi, bahwa mereka (geneasi terdahulu kita di Maluku) sudah memposisikan diri mereka sejajar dengan penemu teori-teori besar seperti yang ada di belahan dunia yang lain.

Cuma saja tidak dengan baik terdokumentasikan apa yang menjadi sumbangsi pikir mereka, dalam hal ini yang saya maksudkan mesti diberikan apresiasi terhadap kekayaan berpikir mereka yang sudah mampu menemukan dasar-dasar realitas Alam dalam hubungannya dengan Manusia di konteks masa kini. Apalagi dewasa ini dunia digegerkan dengan wacan perubahan iklim, panas global, dll, dan menurut saya opa Una sudah berbicara jauh sebelum itu tentang dasar-dasar akibat dari perubahan iklim karena ulah manusia, sehingga dengan sendirinya merusakkan bumi secara perlahan namun pasti.

Semoga bermanfaat postingan ini, dengan harapan, jika saja ada pengalaman seperti yang saya dokumentasikan, mari sebagai generasi penerus di berbagai tempat, dapat menghargai hal intelektual mereka (generasi terdahulu kita) sebab keabsahan sebuah teori akan diakui dan diukur ketika dapat dibuktikan kebenarannya. Dan saya yakin banyak penerawangan/proyeksi/prediksi dari generasi terdahulu kita telah melakukan semua itu, namun kita tidak menghargainya dan menjadikannya menjadi hak khusus kekayaan intelektual mereka (pencetus ide: seperti tokoh dalam tulisan ini) dalam realitas keilmuan kita dan lainnya. Terlebih khusus bagi kita di Maluku. [S.A. 95] J.Pattiasina

   
  






» Read More...

Tradisi Pili Cengkeh

Pohon Cengkeh (khususnya) dalam konteks kemalukuan, turut menghadirkan sebuah tradisi yang memiliki nilai-nilai yang luar biasa; yaitu terciptanya tradisi pili cengkeh yang dapat terlihat dibeberapa daerah, yang nota bene, banyak tumbuh pohon Cengkeh sebagai hasil perkebunan masyarakat setempat. misalnya di Lease.

Tradisi pili Cengkeh dapat digambarkan sebagai berikut, pada waktu musim cengkeh di Lease misalkan, atau di tempat lain, seperti di pulau Buru, pulau Seram, atau di pulau Ambon; bagi yang tidak memiliki kebun Cengkeh/pohon Cengkeh, mereka diperbolehkan oleh pemilik kebun Cengkeh/pohon Cengkeh, untuk pili (pili = kegiatan memungut buah Cengkeh yang jatuh di tanah) Cengkeh yang kebetulan berguguran secara alami dan jatuh di tanah. Sehingga buah Cengkih yang berguguran tersebut, tidak ada larangan untuk mereka yang hendak melakukan aktivitas pili cengkeh.

» Read More...

Pica Sempe deng Balangang

"KASIANG KAMENANGAN PICA SEMPE DENG BALANGA"

Kalimat di atas saya sering mendengarkannya dari seorang nenek di negeri saya, kebetulan ia juga adalah nenek sepupu saya. Ketika ada suatu kondisi dimana ada tersiar berita bahwa ada orang lain atau keluarga yang susah karena sakit atau, bahkan sampai menyebabkan ia meninggal dunia, maka Ia (nenek Adi namanya; ia sudah Almarhum) selalu mengucapkan kalimat ini spontan.

Ketika saya mencoba mengartikannya, ada makna tersendiri juga di dalam kalimat atau frasa ini Kasiang (Artinya : Susah/Sulit/Sengsara) Kamenangang (Artinya : Kemenangan/kejayaan/Keagungan), Pica (artinya: Pecah/hancur/Rusak) Sempe (Artinya: Alat perlengkapan makan yang terbuat dari tanah liat yaitu wadah khusus tempat makanan Papeda), deng (Artinya: dengan), Balangang (Artinya : Tempat masak yang terbuat dari tanah liat, yaitu nenek moyangnya panci). 

Dari kalimat atau frasa tersebut, Ia sedang mengartikan bahwa dalam setiap kehidupan manusia yang berada  dalam kepelbagaian realitas hidupnya; susah atau senang, kaya atau miskin, kuat atau lemah, pasti suatu waktu akan lenyap/punah/hilang. Yang kemudian ia artikan lewat pecahnya "sempe deng balanga" (sebagai alat yang kapan saja bisa musnah sekalipun benda itu sangat berarti bagi hidup). Dari tulisan ini, memungkinkan bagi saya belajar nilai-nilai hidup dari generasi terdahulu kita, yang mana mereka mengartikan segala sisi realitas hidup mereka dalam cara-cara yang unik, dan contoh ini sebagai salah satu dari yang lainnya.

Justru dari hal ini, saya tertarik untuk memuatnya dalam postingan blog saya, yang masih terkait dengan beragam tradisi orang Lease. Dan saya senang berbagi hal ini bagi anda sekalian. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

TRADISI TAMPA GARAM

           Keluarga sebagai basis pendidikan terkecil dalam suatu masyarakat, dan di dalam konteks ini "tradisi tampa garam" memiliki muatan didikan yang berorientasi pada menumbuhkan rasa persaudaraan di antara anggota keluarga tersebut. Tampa garam (tempat garam) akan ditemukan di hampir setiap keluarga orang Ambon-Lease sebagai salah satu pelengkap tata sajian makanan di atas tempat makan keluarga.

Asal Mula Tradisi tampa garam
Tidak tahu dengan jelas kapan tradisi ini mulai diterapkan di dalam setting hidup orang Maluku (Khusus Maluku Tengah, Pulau Seram, dan Ambon Lease). Namun yang pasti tradisi ini adalah suatu bentuk kebiasaan dari gaya hidup generasi terdahulu yang biasanya hidup berkelompok yang kemudian dilestarikan hingga kini. Yaitu pola dasar dari kebiasaan mencari atau mengumpulkan makan, sampai pada pengelolahan makanan tersebut; dan pada akhirnya mereka makan, selalu bersama-sama.
            Sehingga dapat dikatakan tradisi tampa garam ini, latarbelakang terbangunnya dan dapat bertahan, lewat dilestarikannya tradisi ini, sangat berkaitan erat dengan latar belakang gaya hidup masyarakat primitive (dari generasi nenek moyang “orang Maluku” terdahulu) yang memiliki dan menjunjung tinggi nilai solidaritas dalam hidup berkelompok. Suatu asumsi yang selalu menjadi bukti pijakan bertahannya suatu tradisi di dalam masyarakat, bahwa tradisi itu memiliki suatu atau lebih dari bentuk-bentuk kualitas nilai yang sudah membudaya dan tanpa disadari telah diwariskan secara tidak langsung bagi generasi berikutnya. Tentunya tradisi tampa garam memiliki hal itu.

» Read More...

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!