"Sampe tatanaman babuah kalapa, itu tanda dunia su paleng tua"

Ada sebuah kalimat yang pernah disampaikan oleh generasi terdahulu akhirnya juga sampai ke telinga saya, dan  kalimat tersebut memiliki artian tersendiri oleh saya. Yaitu pada saat saya meneliti tentang skripsi saya di negeri Booi Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Di suatu diskusi lepas dengan salah seorang informan saya, dan ia menyampaikan sebuah kalimat yang ia kutip, plus dengan kronologisnya dari sumber aslinya. Begini kira-kira yang saya rekam dari hasil pembicaraan itu, ketika Oom Librek Pattiasina menjelaskan kronologis sebelum kalimat itu disampaikan sebagai kalimat nasehat, atau juga proyeksi alam dari generasi terdahulu bagi generasi berikutnya.

Biasanya orang tatua dolo-dolo tu, dong par hari dominggu pung tabiat bajalang mangente sudara, lalu dudu carita deng sopi satu botol bols, mar dong pung gaya minom seng kaya ana-ana muda sakarang lalu duduk dari jam 1 siang sampe jam 5 sore, minom bukan satu botol bols, mar satu cerigen. Mar anehnya orang tatua dolo-dolo tu duduk minom satu botol bols itu dari jam 1 siang sampe jam 5 sore seng abis itu sopi. walaupun dong ada 5 orang yang dudu minong akang.
Waktu itu beta (oom Librek) ada duduk barmaeng di sekitar dong (orang tatua) yang sementara istori  soal nanaku alam, lalu tete UNA (nama tokoh yang menyampaikan kalimat berharga ini) bilang bagini : "NANTI ALE DONG NANAKU E, KAL SAMPE TATANAMAN BABUAH KALAPA, ITU TANDA DUNIA SU PALENG TUA, DENG SENG LAMA LAI DUNIA MAU RUSAK". Abis itu beta pikir akang jua seng masu akal, masa pohong Goyawas akang nanti babuah kalapa? itu kan seng mungkin, atau pohong Mayang babuah Kalapa itu jua seng bisa.
Mar kalimat itu di masa sakarang, baru beta bisa mangarti akang kalo kalimat tete UNA ada batul juga, maksud antua itu katong bisa lia akang di dunia sakarang ni; sakarang Pohon Doriang yang dolo cuma babuah dalam satu tahun cuma sakali, mar su beda paskali doriang bisa babuah sampe dua kali, bahkan akang taru bunga untuk katiga kali lai di dunia sakarang ni.  Bagitu juga buat tatanaman laeng. Sebab pohon kalapa itu akang seng putus buah dalam satu taong. Itu yang tete UNA maksudkan dan beta baru mangarti akang lai.
Terjemahan bahasa indonesia : Biasanya orang tua kita di waktu dulu, mereka setiap hari minggu punya kebiasaan berkunjung di sanak saudaranya, lalu duduk bercerita dengan satu botol sopi (minuman keras tradisional orang Maluku pada umumnya yang terbuat dari sadapan pohon enau), tetapi cara mereka minum minuman keras tidak sama cara anak-anak mudah sekarang yang duduk dari jam 1 siang sampai jam 5 sore dan menghabiskan satu "gen" (ini wadah bekas tempat minyak goreng yang berisi netto 5 liter) sopi. Tetapi uniknya 1 "botol Bols" (botol bekas minuman keras impor yang berisikan 1 1/2 liter) tidak mereka habiskan sekaligus,  sekalipun yang meminum minuman keras itu mereka ada ber-5 (lima) orang.
Waktu itu saya sementara bermain di sekitar mereka yang sementara bercerita/berdiskusi dalam kerangka melakukan proyeksi/prediksi terhadap keberadaan alam sekitar, lalu opa Una mengatakan begini : "NANTI KALIAN LIHAT/TANDAI, KALAU SAMPAI TANAMAN BERBUAH KELAPA, ITU MENANDAKAN BAHWA DUNIA SUDAH SANGAT TUA, DAN TIDAK LAMA LAGI DUNIA SUDAH MAU RUSAK".Sehabis kalimat itu, saya berpikir tidak masuk akal/logika, bagaimana mungkin pohon jambu biji (goyawas: sebutan dalam konteks orang Lease) nantinya berbuah Kepala? atau pohon Enau berbuahkan Kelapa itu juga tidak bisa.
Tetapi kalimat itu di masa kini, baru saya mengerti/memahami kalimat opa Una tersebut ada benarnya juga, maksud belaiu bisa kita lihat sekarang; bahwa sekarang pohon Durian yang dahulu cuma berbuah satu kali dalam semusim (satu tahun musimannya), tetapi sudah sangat berbeda dapat berbuah sampai dua kali, bahkan  ada kecendrungan bunga Durian, yang menjadi bakal buah Durian untuk ketiga kalinya dalam pohon yang sama dapat di jumpai dewasa ini. Hal ini berlaku juga pada tanaman yang lainnya. Sebab pohon Kelapa itu tidak berhenti mengeluarkan buahnya dalam satu tahun (sebab bisa berbuah 3-4 kali dalam setahun). Itu yang opa Una maksudkan dan saya baru mengerti hal tersebut.

Dari cerita di atas, bagi saya kemajuan berpikir generasi terdahulu dalam melakukan suatu proyeksi kerumitan yang sangat mungkin terjadi di masa depan, dapat mereka lakukan dengan sangat baik. Dan bahkan lebih dahulu mereka yang nota bene, tidak berpendidikan bisa memprediksikan semua itu dengan cermat dan tepat. Hanya berdasar pada pengalaman hidup yang mereka temukan dalam relitas hidup keseharian mereka. Hal ini patut diberikan apresiasi, bahwa mereka (geneasi terdahulu kita di Maluku) sudah memposisikan diri mereka sejajar dengan penemu teori-teori besar seperti yang ada di belahan dunia yang lain.

Cuma saja tidak dengan baik terdokumentasikan apa yang menjadi sumbangsi pikir mereka, dalam hal ini yang saya maksudkan mesti diberikan apresiasi terhadap kekayaan berpikir mereka yang sudah mampu menemukan dasar-dasar realitas Alam dalam hubungannya dengan Manusia di konteks masa kini. Apalagi dewasa ini dunia digegerkan dengan wacan perubahan iklim, panas global, dll, dan menurut saya opa Una sudah berbicara jauh sebelum itu tentang dasar-dasar akibat dari perubahan iklim karena ulah manusia, sehingga dengan sendirinya merusakkan bumi secara perlahan namun pasti.

Semoga bermanfaat postingan ini, dengan harapan, jika saja ada pengalaman seperti yang saya dokumentasikan, mari sebagai generasi penerus di berbagai tempat, dapat menghargai hal intelektual mereka (generasi terdahulu kita) sebab keabsahan sebuah teori akan diakui dan diukur ketika dapat dibuktikan kebenarannya. Dan saya yakin banyak penerawangan/proyeksi/prediksi dari generasi terdahulu kita telah melakukan semua itu, namun kita tidak menghargainya dan menjadikannya menjadi hak khusus kekayaan intelektual mereka (pencetus ide: seperti tokoh dalam tulisan ini) dalam realitas keilmuan kita dan lainnya. Terlebih khusus bagi kita di Maluku. [S.A. 95] J.Pattiasina

   
  






0 comments :

Post a Comment

Dengan Senang Hati Beta Menanti Basuara Sudara-Sudara.

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!