"Orang Nomor Satu" itu apa lai??

"Ingatang ale ana e balajar bae-bae, supaya dong dapa hidop; biar deng kurang-kurang musti dong jadi Orang. Sebab lebe bae pikol tas par pi kantor, mar jang dudu di muka tungku".
Mungkin kalimat ini, beta mencoba mereduksi gaya bicara orang tatua dulu-dulu (khusus di Maluku) yang mendorong anak-anak gadis mereka, untuk bersekolah hingga ke perguruan tinggi. Sebab ada juga semacam budaya diskriminatif lainnya dari orang Tatua dulu-dulu kepada anak-anak perempuan mereka yang begitu membatasi hak-hak (khusus di bidang pendidikan) mereka, dan menariknya fakta inipun masih berlangsung sampai hari ini dikampung-kampung. Sebagai contoh ada suatu pernyataan seperti ini, yang pernah beta dengarkan dari salah satu orang tua, yaitu "lebe bae katong kas skolah katong pung ana-ana laki-laki, dong abis skola, dong bisa karja, kaweng bawa masuk keturunan par katong dan masi pulang pokok; dari pada kas skola ana-anak parampuang, abis skola dong kaweng par orang pung untung, meski dong su jadi manusia". tapi pada bagian ini, mungkin beta akan membuat lagi sebuah posting secara terpisah untuk membahas tentang produk budaya dalam pola pikir yang mendiskriminasi semacam ini, yang perlu diadvokasi dalam tulisan-tulisan yang bersifat solutif lainnya. 

Oke kembali lagi pada pernyataan yang pertama diatas, bahwa mereka orang tatua selalu mengingatkan kepada anak-anak mereka agar selalu belajar dengan tekun, sehingga pada akhirnya mampu mendapatkan masa depannya; dengan semacam analogi yang ditambah-tambahkan, seperti tercermin dari kalimat diatas yaitu : lebih baik pikul tas (ada semacam prestise tersendiri), dari pada hanya duduk di muka tungku api (semacam sindiran untuk anak-anak perempuan yang gagal, dan katanya hanya bisa menjadi pekerja di dapur, saat menjadi ibu rumah tangga).

Tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat semacam ini, tapi ada yang harus digaris bawahi, bahwa kalimat diatas mungkin relevan pada masa lalu, tetapi pada masa sekarang ini harus dikritisi kembali. Karena sangat disayangkan sekali dengan adanya budaya berpikir semacam ini (lihat pernyataan diatas) yang masih diterjemahkan secara utuh dan harafiah, sudah pasti menimbulkan sejumlah permasalahan baru sehingga banyak generasi Muda Maluku menjadi tidak produktif dewasa ini. Kenapa?

Mari beta memberikan beberapa contoh riil yang beta amati dan teliti selama ini, saat melakukan diskusi dengan sejumlah Jujaro-mungare (anak muda perempuan dan anak muda laki-laki) di Maluku yang berada di beberapa daerah, dan begitupun dengan para orang tua. Semoga saja membantu memberikan perspektif lain bagi generasi kita di Maluku saat ini.

MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL/ PEGAWAI BUMN, PEGAWAI SWASTA, DAN MENJADI ANGGOTA TNI-POLRI APALAGI, ADALAH PEKERJAAN BERKELAS.

Benar saja, dalam cara berpikir orang tatua kita yang mayoritas hidup di kampung-kampung (negeri-negeri), yang namanya seseorang yang telah memiliki pekerjaan atau sebuah profesi (lihat : "dapa hidop") ada saja kelas-kelasnya. Dan profesi yang paling berkelas itu adalah menjadi "Pegawai Kantoran". Dimana yang paling utama harus menjadi PNS/Pegawai BUMN (Pegawai Negeri Sipil),  dan kemudian menjadi Pegawai Swasta lainnya. Bahwa istilah orang tatua dengan "dapa hidop" itu identik dengan pekerjaan kantoran.

Realitas inilah yang mendorong kuat setiap anak-anak muda di Maluku, selalu menempatkan cita-cita utama mereka, adalah harus menjadi pegawai, karena itu identik dengan memperoleh "hidup yang sesungguhnya" (versi arahan orang tatua secara umumnya di Maluku). Karena ada sejumlah hal-hal berkelas dari jabatan itu, yaitu akan terlihat cantik, gagah, dan anggun, kalau memikul tas dengan seragam yang rapih setiap hari untuk berkantor, dan hebatnya lagi setiap bulan berjalan akan mendapatkan gaji tetap, entah itu kerja 80% atau hanya 50%, tetap saja mendapatkan gaji bulanan sebesar 100%; titik. 

Lalu lebih menyenangkan lagi, pada masa purna bakti, atau masa pensiun, akan mendapatkan uang pensiun, atau uang pesangon yang besar; itu adalah kompensasi yang secara teoritis dan juga merupakan fakta sosial yang turut menjanjikan, kalau saja seseorang ingin menjadi PNS/pegawai BUMN, atau menjadi pegawai kantoran lainnya.

Sangat mirip dengan "pegawai", untuk menjadi anggota TNI-POLRI adalah profesi kebanggaan terbesar oleh mayoritas orang tatua di kampung-kampung, jika anak laki-laki mereka yang berhasil diterima menjadi anggota TNI-POLRI. Sebab pada dasarnya jabatan itu akan memberikan semacam pengakuan dari kebanyakan orang, dan kemudian akan selalu menyegani mereka di dalam masyarakat. Itu merupakan Garansi utama saat memilih untuk menjadi anggota TNI POLRI baik bagi pribadi dan keluarganya. Sementara berbicara tentang gaji dan pensiun, TNI-POLRI memiliki kemiripan dengan PNS, meski dalam besaran gajinya/pensiun pasti berbeda dengan nominal dari PNS, atau Pegawai lainnya. 

MENJADI USTADZ DAN PENDETA ADALAH PEKERJAAN MULIA.

Sebagai mana orang Maluku mayoritasnya beragama Islam (Salam) dan beragama Kristen (Sarane), maka perlu digambarkan juga tentang profesi ini dalam tulisan ini juga.  Karena masih saling terkait langsung dalam pembahasan yang tak terpisahkan, dalam hubungan jabatan Ustad dan Pendeta (yang sesungguhnya lebih dekat pada aspek keterpanggilan untuk melayani/Sense of Calling) yang telah diberikan label dalam hirarki profesi orang Maluku, yaitu sebuah profesi yang paling Mulia dan Utama. 

Sehingga jika ada anak-anak dari suatu keluarga yang menjadi Ustadz atau Pendeta, maka orang tua mereka akan mendapatkan kemuliaan yang sama seperti sang anak, dalam aspek sosial masyakarat selama ini (dan semuanya itu sudah menjadi budaya berpikir masyarakat Maluku). Soal penghasilan dan lain sebagainya dari jabatan ini, ditentukan oleh banyak aspek. Tetapi yang diyakini oleh banyak orang, bahwa "Pahala Surgawi/Berkat Surgawi" akan jauh lebih besar dari segalanya, telah tersedia bagi setiap orang yang melakukan profesi ini dengan baik.


LALU BAGAIMANA DENGAN PROFESI "UNDERDOG" YAITU WIRAUSAHA BAGI ORANG MALUKU??

"Menurut Deputi Kementerian Koperasi dan UKM Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Agus Muharram, untuk membentuk ekonomi sebuah negara berkembang menjadi maju dibutuhkan jumlah pengusaha sukses minimal 2% dari total jumlah penduduk.  Kemudian dilansir dari sindonews.com bahwa jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,26 persen pada tahun 2013. Itu artinya Negara kita kurang sedikit lagi memenuhi kriteria Negara maju dilihat dari jumlah pengusahanya" (Sumber : www.iwaralaba.com)
Ini adalah teori dasar untuk mengukur sebuah negara, daerah/provinsi dapat dikatakan berkembang dan akan maju, yaitu diukur dengan seberapa besar masyarakatnya menjadi Wirausaha atau biasa dikenal dengan sebutan Pengusaha. Artinya perlu menyampaikan pula, sebagaimana teori diatas mengatakan, bukan diukur dari seberapa besar dan seberapa banyak masyarakatnya harus menjadi pegawai dan aggota TNI POLRI, atau bahkan seberapa banyak para Ustad, Ulama, Pendeta, Majelis Jemaat, barulah negara/daerah itu dikatakan maju; tetapi sebaliknya semua itu diukur dari seberapa banyak para Wirausahawan yang sesungguhnya menjadi faktor penentu kemajuan di bidang Ekonomi dan akan berdampak riil pada sektor lainnya, yaitu lintas bidang hidup di dalam konteks Negara, atau Provinsi, sampai ditingkat Desa/Negeri yang paling kecil di Maluku.

Maka dari itu, semua yang idealkan dalam "Budaya Amtenar" yaitu suatu pola pikir yang sudah membudaya dari masyarakat Maluku yang membuat hirarki dalam mengkategorikan setiap profesi atau pekerjaan, berdasarkan prestise, dan status sosial; itu tidak semuanya salah; tetapi justru telah menghasilkan sebuah komoditi budaya baru bagi konsep berpikir masayarakat Maluku pada umumnya (dan realitas ini sudah berjalan puluhan bahkan ratusan tahun lamanya dalam cara berpikir manusia Maluku), sehingga mengakibatkan ketidak seimbangan dari banyak aspek, terlebih dari aspek ekonomi, dan juga terciptanya SDM yang seharusnya handal dari bidang Enterpreneurship di daerah seribu pulau ini. 

Karena untuk memilih menjadi Wirasusahawan yang handal dan memiliki impian yang kuat, dan kemudian diharapkan mampu dan sukses untuk mengelolah sumber daya alam Maluku yang kaya selama ini, sangatlah rendah. Sebab pada dasarnya kenyataan berpikir untuk menjadi wirausahawan tidak direkomendasikan oleh orang tatua dikampung-kampung, sejak anaknya mulai beranjak dan mengeluti dunia pendidikan. Dari kenyataan inilah kemudian menjadi salah satu akar masalah terbesar kita sebagai orang Maluku secara bersama-sama sampai hari ini, jika kita mengidealkan ada tanda-tanda kemajuan di Provinsi Maluku ke depan, yang turut mendorong aspek ekonomi mikro di setiap negeri-negeri adat di Maluku secara utuh, atau bahkan kita mau merencanakan sebuah konsep perkembangan pembangunan ekonomi makro berbasis kepulauan, dsb di Maluku.


Beberapa Fakta yang Menjadi Faktor Pendorong Kurangnya Pertumbuhan Para Wiraushawan Pribumi di Maluku dan Implikasi Logisnya.

1.  Fakta Historis : Orang Maluku telah dikenal di dunia internasional sebagai bangsa yang kaya raya dan terletak di belahan timur dunia, dengan sumber daya alamnya, yaitu telah dikenal sejak zaman Sebelum Masehi sampai pada Sesudah Masehi; lalu kemudian sampai pada periodesasi tanah air Maluku dikunjungi oleh para pedagang Arab, Cina, dan bahkan bangsa eropa yang datang dengan modus berdagang, yang ujung-ujungnya melakukan praktek monopoli terhadap kekayaan alam dan rempah-rempah di Maluku. 

Maka masyarakat pribumi Maluku sejak dahulu sankingnya telah diberkati dengan alam yang kaya, faktor ini menjadikan orang Maluku sebagai tumbal dari kekuasaan bangsa-bangsa yang pernah menguasai kita dahulu. Bahwa tujuan mereka (para pedagang dan penjajah) hanya satu, meraup keuntungan sebesar-besarnya, sebagai kompenasasi dari perjuangan keras mereka yang berlayar jauh melawan gelombang bahkan maut, hanya untuk menemukan Maluku (sebagai surga penghasil rempah-rempah terbaik dan termahal di dunia saat itu, yaitu tempat bertumbuhnya tanaman Cengke, Pala, dan Fuli) yang sudah mereka hitung dengan matang, yaitu untuk menutupi biaya operasional ekspedisi mereka pulang pergi (dari negeri asal mereka ke Maluku, dan sebaliknya), dan sesudah itu bagaimana caranya untuk memonopoli sentra-sentra "harta karun" ini dalam waktu yang lama. 

Kemudian dari realitas ini, kita orang Maluku pada saat itu selalu menjadi objek (kelinci percobaan sejumlah strategi monopoli) bangsa-bangsa asing tentunya, dimana mereka para penjajah itu, akan selalu berupaya merekayasa sumber daya manusia (SDM) orang Pribumi hanya untuk menjadi bawaan mereka, paling tinggi orang nomor dua, atau idealnya orang nomor tiga, nomor empat dan seterusnya. Dan tidak pernah mereka akan membiarkan celah sedikitpun, untuk masyarakat pribumi yaitu orang Maluku untuk menjadi orang "nomor satu" di dalam praktek dan strategi dagang bangsa penjajah saat itu. 

Dan praktek-praktek semacam ini, tidak terkecuali dilakukan oleh semua bangsa yang datang di Maluku, mulai dari Arab, Cina, dan bahkan bangsa-bangsa Eropa, juga Jepang. Ada sebuah teori lama yang mengatakan begini : "jika suatu kebohongan itu didengarkan secara terus menerus, maka kebohongan itu akan diyakini sebagai sebuah kebenaran". Mungkin teori ini cukup membantu kita untuk mengerti, kenapa mental untuk menjadi orang nomor dua, nomor tiga, hingga menjadi "Jongos" (orang suruhan) dalam konteks orang Maluku sangat diterima dan justru menjadi lebih di favourite kan. Pada hal sesungguhnya, menjadi orang nomor dua, nomor tiga, sampai pada jongos kenyataannya akan bekerja untuk menguntungkan orang nomor satu kan?? meskipun ini adalah sebuah doktrin yang berisikan sebuah kebohohan dan tipu muslihat, tapi tetap saja orang Maluku mempercayai pemikiran-pemikiran semacam ini yang sudah didoktrinasi sejak dahulu, dan tanpa disadari efeknya sudah membudaya hingga sekarang.

Bahkan bukan lagi menjadi rahasia umum, agama-agama impor seperti Islam dan Kristen di Maluku, adalah agama-agama yang awalnya bertumbuh dengan hadirnya praktek dagang dan monopoli tersebut. Dan minta maaf, beta juga mempertanyaan kembali keseriusan dan kesungguhan agama-agama itu disebarkan di Maluku awalnya, apakah murni untuk menyelamatkan manusia Maluku? atau kah? Sehingga dari aspek ini, beta juga percaya sudah banyak dilahirkan doktrin-doktrin, bahkan dogma, yang sudah dihitung secara matematis dan secara strategis pastinya (dari bangsa asing itu) agar dapat membantu memperkuat praktek monopoli dagang orang-orang nomor satu pada saat itu.

Lantas, kenyataan ini terlalu pahit buat beta di hari ini, saat mengungkapkan salah satu aspek dari kebohongan-kebohongan di masa lalu, meski yang pahit itu beta yakini tidak selamanya bisa membunuh kekuatan orang Maluku untuk "menjadi" lebih baik dalam membangun kualitas hidupnya, di bidang usaha dan ekonomi. Tetapi juga yang pahit itu bisa dijadikan obat untuk mengobati penyakit kita sebagai orang Maluku di hari ini, meskipun penyakit sudah menjadi penyakit turunan dan sangat tua usianya; asalkan dengan satu syarat, yaitu mulai dari sekarang ale deng beta (anda dan saya) mulai belajar untuk menjadi orang nomor satu dalam semua aspek, dan lebih khusus menjadi orang nomor satu dari aspek ekonomi, dan dunia usaha. Agar menjadi penguasa diatas sumber daya alam sendiri dan mampu berdiri di atas kaki kita sendiri. Sebab kenyataan inipun akan berkaitan erat dengan aspek mental orang Maluku yang harus dilatih untuk mandiri dihari ini.

Meskipun konsekuensi logisnya dalam membangun sebuah usaha yang baik, harus ada orang nomor dua, nomor tiga, nomor empat, sampai ke Jongos dalam sebuah sistem kerja yang hebat, tetapi sebenarnya telah tercipta sebuah kebenaran baru, yaitu "Akang samua dar katong par katong" (semuanya itu dari kita untuk kita). Bukan dari kita untuk mereka?? lalu mereka ini siapa?? . Karena dari dunia Sebelum Masehi sampai dengan tahun 2015 ini, orang Maluku masih tetap mempercayai sebuah kebohongan klasik lewat produk budaya Amtenar yang telah disebut diatas, "Bahwa yang terfavourite itu, atau yang berkelas itu, menjadi nomor dua, nomor tiga, sampai ke Jongos" dan tidak pernah sadar dan terbiasa untuk belajar menjadi "orang nomor satu".

Bahwa mungkin pada konteks tempo dulu, menjadi orang nomor dua, atau nomor tiga, dan seterusnya dalam sebuah pekerjaan kantoran milik bangsa asing, adalah sesuatu yang berkelas, tetapi fakta dihari ini telah berbeda, dan sangat berbeda sama sekali dari sisi kuantitas, bahkan kualitas. Sehingga menurut beta adalah sebuah kesalahan besar bagi orang Maluku di tahun 2015, masih terus mempertahankan budaya berpikir Amtenar yang sudah jelas-jelas harus dikritisi dan dirubah. Sebab budaya inilah yang harus kita putuskan mata rantainya yang telah membelenggu setiap manusia dan pribadi Maluku berabad-abad lamanya. Karena kita tidak pernah sadar untuk belajar menjadi "orang nomor satu" yang benar-benar menjadi "manusia" atau yang "dapa hidop" itu; karena hakekatnya manusia adalah manusia yang bebas. 

Sebagai contoh dari fakta historis, perlu diungungkapkan juga suatu kenyataan yang miris dan menyoal implikasi logis dari rendahnya kalangan wirausawan pribumi dari Maluku dalam hubungannya dengan nama besar rempah-rempah Maluku yang sudah melegenda. Jika saja orang Maluku telah sadar dan belajar untuk menjadi orang nomor satu (wirausaha) dalam kepentingan bersama untuk mengelolah sumber daya alam kita, khusus rempah-rempah berkualitas seperti Cengkih dan Pala, maka di hari ini semestinya telah berdiri pabrik-pabrik pengelolahan Cengkih dan Pala terbaik di dunia asal Maluku. Tetapi faktanya tidak ada satupun pabrik pengelolahan rempah-rempah khusus Cengkeh dan Pala terbaik di Maluku yang bisa menyumbang kualitas rempah grade A di pasar dunia di hari ini. 

Padahal Cengkeh dan Pala adalah simbol kekayaan bangsa Maluku dalam peradaban sejarah dunia, dan prestasi ini semestinya dilestarikan dan dijaga nilai kekayaannya; sebagai posisi tawar bangsa Maluku diantara bangsa-bangsa di dunia ini. Makanya sangat disesalkan sekali, lagi-lagi orang Maluku tidak diajarkan untuk menjadi diri sendiri, tetapi selalu ingin menjadi diri orang lain (yaitu tetap meyakini pikiran-pikiran orang lain), dan gampang terbuka dan terpengaruh dengan budaya orang lain.

2.  Fakta Sosial :  Awalnya dari suatu bentukan tabiat, yang kemudian berlangsung lama dalam suatu ikatan waktu tertentu, lalu menghubungkan kekuatan-kekuatan individu dengan masyarakat sekitarnya, sehingga merubah tabiat itu lebih rumit menjadi produk budaya baru.
Atau saat tabiat-tabiat dari segelintir orang kemudian telah dianggap menjadi standar hidup baru (life style) dalam kehidupan bermasyarakat, maka terbentuklah sistem secara otomatis (karena ditunjang faktor kekuasaan) dan mempengaruhi cara berpikir manusia lainnya, maka disitulah terbentuk komoditi budaya baru yang mempengaruhi konsep berpikir, dan cara berperilaku serta cara-cara memperlakukan sesama di dalam masyarakat.

Mungkin secara historis para pegawai asal Maluku (yang bekerja pada perusahaan VOC misalkan) dahulu dipandang memiliki hak-hak privilasi (keistimewaan), meskipun dihari ini, kita biasa mengenal pegawai-pegawai VOC itu dengan istilah "karyawan" atau juga "buruh" yang bekerja pada sebuah Perseroan Terbatas (PT). Tetapi pada waktu itu, konteksnya berbeda dan merupakan sebuah kehormatan dan prestise tersendiri menjadi bagian dari perusahaan VOC yang terkenal dengan kekuasaannya di Maluku. Sehingga kalaupun ada para pegadang pribumi yang mau melakukan praktek-praktek terbaik sebagai wirausahawan secara mandiri, rasa-rasanya tidak mungkin, kalau hanya menjual hasil kebun mereka dengan cara "papalele" di tepi jalan utama, atau pasar-pasar (termasuk menjual hasil perkebunan terbaik mereka seperti hasil Cengkeh dan Pala).

Sehingga secara psikologi, dalam cara berpikir orang Maluku sampai dengan hari ini masih sangat merendahkan pilihan seseorang yang ingin menjadi seorang Wirausaha atau pengusaha. Karena profesi ini dianggap pinggiran, sebagaimana kebiasaan atau tabiat orang-orang papalele terdahulu, yang namanya "papalele" adalah proses transaksi jual beli di pinggir-pinggir jalan dan pasar yang sengaja dikhususkan oleh para penguasa dunia dagang saat itu.

Jika dihari ini kita bertemu dengan seseorang pengusaha yang sukses, tak pandang dia adalah seorang pengusaha ikan, pengusaha roti, pengusaha rumah makan, pengusaha makanan rantangan (yang biasa duduk/berdiri dimuka tungku), dll, apakah kita orang Maluku masih menganggap dia itu tipe orang kelas "pinggiran"?? mungkin tidak sama sekali. Tetapi saat pertama kali seseorang mulai merintis usahanya untuk menjual ikan keliling, dengan kerja kerasnya pagi-pagi sampai malam hari untuk berjualan,  demi mengusung cita-citanya menjadi pengusaha Ikan sukses, apakah orang Maluku akan melihatnya dari sudut pandang "Papalele yang adalah orang Pinggiran"?? (dari perspektif tradisional), maka beta yang pertama mengatakan itu benar. Sebab dalam amatan beta sejauh ini, orang Maluku belum bisa dan tidak terbiasa menghargai pilihan profesi seseorang untuk menjadi wirausahawan, apapun itu jenis usahanya.

3.  Fakta Budaya : Ada sejumlah budaya lokal dari orang Maluku, yang memiliki nilai mengikat setiap orang yang masih mengakuinya, menjunjungnya, dan mempercayai kekuatan nilai-nilai adat istiadat dan budaya tertentu. Tetapi sayangnya sebagian besar orang Maluku, kemudian memakai bentuk budaya-budaya ini, untuk melemahkan bertumbuhnya semangat berwirausaha orang Maluku sendiri. Ambil misal, budaya Pela Gandong, atau Ikatan adat istiadat kekeluargaan karena Pernikahan, dll.

Sebagai contoh budaya Pela dari dua negeri tertentu, yang memiliki hubungan Pela Keras. Yang sudah barang tentu harus saling menjaga, melindungi, mengasihi, dll, yang kemudian salah satu anggotanya memiliki usaha rumah makan; suatu ketika datanglah seorang anggota pela keras-nya dari negeri lain untuk makan, dan kebetulan mungkin saja berkenalan dan mengetahui kalau pemilik rumah makan ini adalah Pela-nya, saat orang itu habis makan, dan hendak keluar dari rumah makan itu, lantas tidak membayar, dengan alasan pamali untuk membayar. Dari kejadian ini, orang tersebut sering melakukan kebiasaan makan gratis serupa di rumah makan pela-nya; maka secara tidak langsung orang Maluku belum cerdas untuk memakai simbol-simbol budayanya, yang juga secara terang-terangan dan sadar melemahkan bertumbuhnya semangat wirausahawan di Maluku dengan salah menafsir pemanfaatan budaya lokal mereka.

Atau lebih bahayanya lagi, banyak pelaku di dunia wirausaha berakhir bangkrut karena ulah keluarganya sendiri. Dan fakta seperti ini masih sangat lazim ditemukan di Maluku. Sehingga tercipta semacam traumatik tersendiri, bagi para calon wirausahawan baru di Maluku, karena fakta-fakta budaya ini. Sehingga yang terjadi di negeri ini, yaitu di Maluku, tidak banyak orang yang menghargai profesi seseorang di dunia usaha dan ekonomi. Diluar profesi yang berkelas dan mulia di atas.

4.  Fakta Religius : Pada hakekatnya setiap agama melawan yang namanya ketidakadilan, dalam bentuk apapun. Termasuk melawan praktek-praktek mencari laba. Dan biasanya banyak orang di Maluku juga, menjustifikasikan para pengusaha atau wirausahawan ini, adalah orang-orang yang sudah berdosa, penuh dengan trik dan intrik untuk mencari keuntungan semata.

Karena terlalu sibuk dengan hal-hal yang bersifat duniawi, dan sangat jauh dari hal-hal surgawi, sebagai produk utama yang ditawarkan oleh semua agama di dunia ini. Padahal disatu sisi, mungkin terlalu sering melihat sisi negatifnya dunia Usaha yang katanya buruk dan tamak, justru agama-agama besar di dunia lupa, kalau perkembangan awalnya agama-agama besar ini, seperti Islam, Kristen, dan Yahudi  tidak terlepas dari topangan dan bantuan orang yang background-nya adalah pelaku aktif di dunia usaha atau eknomi juga.

Sama artinya jika dunia usaha ini benar-benar dianggap jahat oleh para pengikut agama-agama besar, dan kepada mereka para wirausahawan/pengusaha adalah orang-orang pinggiran (berdosa) selalu diberikan stigma yang merendahkan profesi ini; lalu menjadi pertanyaan berikut apakah agama-agama besar ini dapat berkembang tanpa bantuan dunia usaha, atau tanpa mengadopsi prinsip-prinsip yang diterapkan dalam strategi berbisnis di dunia usaha??

Jadi biarlah sebagai orang Maluku, sudah saatnya bertobat dari cara berpikir negatif terhadap dunia Usaha, agar lebih terbuka dalam dunia ini, dan cara pandang mereka, untuk sedapat mungkin mulai dari sekarang, menghadirkan tanda-tanda surga bagi semua manusia. Sebab menurut beta, dunia usaha ataupun ekonomi, punya aturan mainnya tersendiri, begitupun dengan dunia politik, ataupun sosial, yang tidak akan pernah membuat orang akan menjadi tamak dan jahat, atau serakah yang seperti disangkahkan oleh banyak agama di dunia ini kepada para Pengusaha.

Memang betul ada fakta-fakta yang kita temui di sekeliling kita dihari ini, dan benar-benar membuktikan bahwa ada banyak pengusaha yang serakah, banyak yang tamak dan hanya mencari untung berlebihan, dan lain sebagainya. Tetapi jangan lupa, ada banyak juga pengusaha yang sukses dan kemudian mampu menjawab "tanggung jawab sosialnya" sebagai orang-orang yang merasa dirinya lebih awal diberkati, yang kemudian dengan ikhlas mendermakan sebagian kekayaannya untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan, dan praktek-praktek mulia lainnya.

Semoga pada titik yang sama, beta dan juga manusia lainya di dunia ini yang lebih awal percaya betapa mulianya jika menjadi seorang wirausaha yang bijaksana; maka melakukan dan terlibat aktif dalam dunia usaha adalah bagian dari kehendak TUHAN, untuk mempercayakan keangungannya bagi manusia di bumi, untuk menambahkan dan menyempurnakan kebahagiaan yang abadi bagi sesamanya, termasuk untuk kita di Maluku. Tetapi di Maluku, fakta ini terbalik mayoritas masyarakat Maluku sedang menyangkali realitas ini. Karena orang Maluku pada umumnya, tidak membuka diri untuk belajar menjadi para wirausahawan sebagai salah satu syarat mensejahterahkan negeri ini, memberkati negeri ini, atau juga menghidupi negeri ini, sejak dahulu, sekarang, dan seterusnya.

5.  Fakta Politik : sejauh ini dalam amatan beta sebagai salah satu penggiat usaha industri kreatif di Maluku, masih sangat rendah skali masyarakat Maluku (Pribumi) dalam membangun produk politik ditingkat pemerintahan daerah yang benar-benar serius, demi melestarikan kekuatan kearifan lokal kita, kekuatan identitas kita sebagai negeri atau bangsa yang diberkati dengan alam yang kaya, yang tentunya memiliki banyak sekali sumber daya alam dengan ragam budayanya dan cara-cara pengelolahanya untuk kesejahteraan bersama.


Jika saja orang Maluku menyadari lebih awal untuk memilih dan melatih diri menjadi "orang nomor satu" (secara otodidak) diatas kekayaan alamnya sendiri, maka tabiat-tabiat untuk mencari muka atau makan puji kepada bangsa penjajah (seperti Belanda dengan VOC-nya) tidak terjadi begitu lama, sehingga terus menerus orang Maluku menjadi pegawai dan berbangga dengan menjadi orang nomor dua hingga kini di tanah sendiri, dan terus melanggemkan budaya dengan sistem bekerja pada tuannya.

Begitupun dalam konteks negara Indonesia, sejak tahun 1945 hingga kini tahun 2015, orang Maluku masih tetap dalam ritme yang sama, bahwa belum ada langka-langkah konkrit dari pemerintah daerah Maluku untuk meningkatkan jumlah Wirausahawan baru, yang benar-benar berkualitas dari orang-orang Pribumi di Maluku. Dengan benar-benar menggali dan mengkaji dasar-dasar budaya orang Maluku, sebagai roh atau spirit baru, dan menjadi tanda kebangkitan dunia usaha asli orang Maluku. Tetapi justru kegagalan terutamanya adalah pada fakta historis kita sebagai orang Maluku yang selalu mempercayai doktrin bangsa asing, dan ini adalah wujud suatu penyakit mematikan, dimana belum ada ditemukan suatu formula yang tepat untuk diracik dan dijadikan obat yang mujarab demi menyembuhkan penyakit berbahaya ini; dan lebih miris lagi, penyakit ini masih terus mewabah sampai sekarang. Itu terbukti sampai dengan posting ini diterbitkan pada Blog "TRADISI MALUKU" banyak generasi muda di Maluku yang selalu memprioritaskan dirinya untuk menjadi orang nomor dua, orang nomor tiga, orang nomor empat, sampai ke Jongos (mental pegawai/karyawan/orang suruhan), tanpa membangun etos kerja keras dan kerja cerdas yang tinggi untuk menjadi "orang nomor satu" di tanah sendiri.

Kemudian, dibeberapa tahun terakhir, ada program Nasional yang mulai digawangi oleh pemerintahan SBY kemarin, untuk memperbanyak wirausahawan dan wirausahawati baru di seluruh wilayah Indonesia, maka jangan berharap terlalu banyak di Maluku akan muncul wirausahawan-wirausahawati yang handal, sebab orang Maluku selalu dilatih dan telah didoktrin mulai dari keluarganya (dan mereka tetap mempercayai hal ini) yaitu untuk menjadi Pegawai adalah identik dengan "dapa hidop" (memiliki kehidupan yang layak, berkelas, dan sejahtera, dll). Padahal yang diidealkan dari bagian ini, minimal seorang anak muda Maluku, meskipun tidak murni ingin menjadi wirausahawan, tetapi sederhananya harus memiliki mental Wirausaha dan pengetahuan untuk menjadi seorang Wirausahawan, itu yang harus menjadi target utama setiap produk politik di daerah ini, sebagai tujuan akhir. 

Dan Mudah-mudahan konsep ini menurut beta, dapat dikembangkan kedepan dari pihak-pihak terkait, terlebih pemerintah daerah Maluku, demi membangun manusia Maluku, yang tidak an sich hanya lebih dominan dan suka sekali membahas an merencanakan produk-produk politik di daerah ini yang kemudian memposisikan masyarakat Maluku hanya menjadi objek pembangunan, dan bukan sama-sama subjek.

Untungnya Seseorang Menjadi Pengusaha atau Wirausaha??

a.   Menjadi orang Nomor Satu atau Boss atas diri sendiri:


Kebetulan beta adalah seorang Sarane (Kristen), kemudian mengutip salah satu ayat di Alkitab,  Markus 10 : 31. "Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu". Memang faktanya, untuk memulai sebuah usaha, ale deng beta, mungkin pernah dianggap sebagai orang-orang yang rendah, tidak dipandang, tak punya pengaruh, kalangan pinggiran saat membangun usaha mulai dari nol; tetapi saat dimana ketekunan kita dalam mengerjakan mimpi-mimpi besar dalam tindakan-tindakan kecil, secara terus menerus, dan bertumbuh, kemudian menghasilkan yang namanya tahan uji, hingga sampai pada menghasilkan penghasilan yang layak dari usaha yang kita geluti, maka disanalah banyak orang akan melihat dan menilai bahwa sesungguhnya yang baik dan benar harus menjadi orang nomor satu, bukan nomor dua, nomor tiga, dan seterusnya. Bahwa disitulah letak kebenarannya dapat di percayai, yaitu ale deng beta ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, bukan direkayasa untuk menjadi orang nomor dua, orang nomor tiga, orang nomor empat,  bahkan harus menjadi "Jongos" di tanah sendiri.

Artinya untuk menjadi orang nomor satu atau Boss atas diri sendiri dalam dunia usaha, adalah suatu upaya dengan sadar dalam menggabungkan kerja keras dan kerja cerdas, dan fakta ini terbuka luas bagi siapapun, tergantung ale deng beta mau memilih jadi orang nomor berapa?. Dan jika anda sekarang telah terlanjur menjadi orang nomor empat, atau orang nomor tiga, atau sedikit beruntung menjadi orang nomor dua (atau tangan kanan Boss) di tempat kerja anda, cobalah, belum ada kata terlambat untuk memilih menjadi nomor satu (jika itu dipandang baik dan mampu membuat anda bahagia). Jika anda ingin melakukannya, dan mengatakan mau mulai dari kapan, yah.... mulailah dari sekarang, jadilah Boss untuk diri anda sendiri.

b.  Mengatur Penghasilan Sendiri

Soal penghasilan berupa gaji saat menjadi pegawai atau karyawan, masih ditentukan oleh orang lain, maka ketika ale deng beta menjadi wirausaha atau orang nomor satu, sudah pasti kitalah yang akan menentukan berapa besaran gaji kita sendiri. Mungkin awalnya penghasilan yang kita peroleh belum seberapa, tetapi dengan berjalannya waktu, dan sesuai kerja keras dan kerja cerdas kita, dan disesuaikan dengan perkembangan usaha yang kita bangun, tentu akan semakin besar jumlahnya bukan?? (Sanang kaseng???.... kata orang Ambon :))

c. Mengatur Waktu kerja & Waktu Liburan Sendiri.

Saat menjadi karyawan atau pegawai tanpa disadari sebagian besar waktu anda telah digadaikan pada profesi yang anda miliki. Padahal hakekat dari manusia adalah mahkluk yang bebas, termasuk dalam kebebasannya untuk mengatur setiap waktu yang dijalaninya sepanjang hari, sepanjang bulan, dan sepanjang tahun, yaitu dalam bekerja, dan jangan lupa untuk berlibur dan bersenang-senang. Sebab kehidupan kita juga perlu dirayakan dengan hal-hal yang menyenangkan, setelah kita bekerja selama kurun waktu tertentu.

Jika saja menjadi Boss pada diri sendiri, mungkin pada tahun-tahun pertama saja kita akan bekerja sangat keras, dan menyita waktu.. Tetapi pada akhirnya, kita akan lebih banyak menikmati waktu bersama-sama dengan keluarga dan sahabat-sahabat kita, saat kesuksesan dari usaha itu terus berkembang.

d. Merasakan punya tanggung jawab lebih.

Ketika menjadi Boss bagi usaha yang kita bangun sendiri, bukan berarti kita kemudian menjadi orang yang seenak perut saja mengatur dan menentukan semua hal dalam usaha kita, demi kepentingan kita sendiri. Tetapi justru dibalik semua yang kita miliki, kita akan lebih didorong untuk sebisa mungkin terus menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih sepanjang waktu. Karena membangun sebuah usaha adalah hal yang mungkin mudah, tetapi dalam upaya menjaga agar usaha tersebut dapat bertahan dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen, adalah sesuatu yang tidak mudah untuk di jalani oleh setiap pemimpin atau Boss di usaha masing-masing.

Sebab pada dasarnya, sebagai Boss akan dituntut untuk lebih disiplin diri, pandai membangun manajemen waktu, keuangan, dll demi menjaga keberlangsungan usaha yang dijalankan, dan tentunya untuk tetap tetap konsisten menjadi saluran berkat bagi kehidupan orang lain yang menjadi karyawan di dalam usaha yang kita bangun tersebut. Betapa mulia sekali jika tanggung jawab lebih ini, jika ale dan beta terus belajar untuk mengembangkan diri menjadi seorang wirausahawan dan wirausahawati dalam membangun sebuah usaha yang layak.

-----------------------------------------------------------

Kesimpulan : 


Dari tulisan ini, adalah bentuk opini beta yang dibuat dengan sadar, dalam mengkritisi realitas sosial di Maluku hari ini terkait rendahnya minat masyarakat Maluku (orang Pribumi) untuk memilih menjadi Pengusaha atau Wirausaha. Sebagai suatu kepentingan umum yang komprenhensif di level daerah, maupun di tingkat Nasional maupun Internasional untuk mensejahterakan semua manusia Maluku, disamping orang Maluku telah diberkati dengan alam yang kaya raya.


Bahwa orang Maluku juga harus bisa memiliki kesempatan yang sama dengan daerah lain di dunia ini, dalam merencankan kesajahteraan sosialnya secara mandiri, dengan ditandai bertumbunya para Wirausahawan dan Wirausahawati baru di daerah Maluku. Yang memiliki jumlah penduduk hingga kini berjumlah 1.53 Juta Jiwa (sumber: www.viva.com), dan menurut rumus statistik modern untuk mengukur Maluku maju, harus memiliki sekurang-kurangnya 2% Pengusaha di Maluku (atau sekitar 30.600 Pengusaha dari Maluku), agar mampu mendorong sejumlah ekonomi mikro sampai pada ekonomi makro di daerah ini.

Kemudian untuk melihat dengan serius masalah rendahnya terciptanya wirausaha pribumi di Maluku, menurut beta, ini masalah yang begitu kompleks, dan sangat kuat dan berkaitan langsung dengan unsur-unsur budaya lokal dari manusia Maluku ini sendiri, maka dari itu pemerintah daerah Maluku harus dengan bijaksana dan memiliki hati dalam mencari solusi atas masalah ini; karena realitas masalah ini berkontribusi kepada tingkat kesejahteraan bangsa Maluku di masa kini, dan masa yang akan datang.


Semoga Bermanfaat.
Jimmy Pattiasina

1 comments :

Mari Berkoperasi said...

Mantap bung Jimpat.... jang lupa berkunjung ke PLUT KUMKM MALUKU

Post a Comment

Dengan Senang Hati Beta Menanti Basuara Sudara-Sudara.

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!