Orang Ullath Pung Kapata

Selamat bertemu lagi saudara-saudari (basudara) tercinta, kali ini beta mau posting sesuatu yang agak berbeda, dan tentunya untuk menjawab penasaran para pembaca Tradisi Maluku yang mungkin saja menunggu posting terbaru. Kali ini ada tiga buah kapata dari orang Ullath di Pulau Saparua, yang sempat beta dapat 2 tahun kemarin dari salah satu sumber.

Sedikit penjelasan tentang kapata; menurut Leunard Heppy Lelapary
Tradisi lisan kapata, yaitu bentuk bahasa yang secara khusus digunakan oleh masyarakat dalam upacara adat, dengan irama tertentu, tersusun dalam larik-larik dan disampaikan dalam bentuk monolog maupun dialog. Bentuk tersebut hanya digunakan pada upacara-upacara adat pada masyarakat pemakai, seperti pada upacara panas pela, upacara pelantikan raja, upacara perkawinan dan upacara-upacara lainnya yang sejenis, dan digunakan oleh orang-orang tertentu, seperti kepala desa atau tua adat (sesepuh desa) yang menguasai adat.

 
Nah.. kalau anda sudah memahami dengan benar apa itu Kapata; ini dia dua buah kapata yang berasal dari masyarakat negeri Ullath :

(Dalam bahasa tana/adat setempat)
Dunia esa e, rael-rael o..
Manusia kai mata hitua mane e..
Honusu bumbure pawa iya rupa manis e.. 

(Dalam bahasa Ambon Hari-hari)
Dunia gaga/bagus ini..
Dalam hidup jang tingkai, jang sombong...
Sebab kalau mati bumbungang kubur tutup ilang rupa manis.

(Dalam bahasa Indonesia)
Dunia indah ini...
Dalam hidup jangan banyak berlagak, jangan sombong..
Sebab kalau sudah mati dan penutup kubur (seperti bagian penutup atap diatas rumah) tertutup,
hilang rupa/wajah manis.

------------------------------------------------------------------------------

(Dalam bahasa tana/adat setempat)
Kepeng Intan e, kepeng ulawano...
Tuluyana hei hosu hesi lapehe
oulapa iwano hiti hatia basudara e....

(Dalam bahasa Ambon Hari-hari)
Kepeng ada banya tu..
bali ikang silapa basar-basar par kasi makang basudara...

(Dalam bahasa Indonesia)
Ada kelebihan uang banya itu..
beli ikan Silapa (nama ikan) besar-besar buat kasih makan saudara-saudari..

-------------------------------------------------------------------------------

(Dalam bahasa tana/adat setempat)
Lono nika toti tawaria sane
lahan katupa tawaria sane..
okamba nimamanu waria esa tuni-tuni..

(Dalam bahasa Ambon Hari-hari)
Saudara perempuan ada datang di katong pung dusung,
jangan tinggal dia pulang deng atiting kosong.
Sampe su lia layar jauh barbilang itu sudara gandong..

(Dalam bahasa Indonesia)
Saudara perempuan saat datang di kebun kita,
jangan biarkan dia pulang tanpa membawa sedikit dari isi kebun (milik kita ) di dalam atiting-nya (sejenis bakul). Nanti kalau layar sudah jauh, baru mengatakan kalau (dia) itu saudara kandung kita.

---------------------------------------------------------------------------------


Semoga ada makna yang tersirat langsung dari kapata-kapata diatas.. dan kiranya bermanfaat bagi saudara-saudari sekalian..

Horomate!!!

1 comments :

Emi Kastanya said...

salam hormat,
pak Jimmy beta sangat tertarik dengan tradisi lisan di Maluku. beta mau tanya sadiki jua, kapata-kapata ini biasanya dinyanyikan atau dipakai waktu acara apa??

Post a Comment

Dengan Senang Hati Beta Menanti Basuara Sudara-Sudara.

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!