TENTANG BETA DENG ANTUA TERCINTA






Izinkan kalimat ini istori;
Yaitu tentang kisah yang batumbu indah, semenjak warna rambut putih satu-satu, sampe akang su pono anteru saat ini.

Izinkan kalimat ini berandai;
Jika bisa, waktu tolong kas bale beta kombali dolo, yaitu di taong yang sudah-sudah.

Izinkan kalimat ini mengenang;
Saat antua pulang pasar hari tiga, beta salalu dapa nasi pulut bulu, cucur, deng beta pung makanan cinta; nasi katang yang baliling-baliling.

» Read More...

TRADISI “BAWA TANGAN” dan “BAWA KARIMANG” DI ULLATH

“Tradisi Bawa Tangan” yang baru saja beta temukan dan saat mendengar tuturan cerita yang beragam dari pengalaman riil masyarakat Negeri Ullath (di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku), rasa-rasanya tidak sabar dan menjadi pilihan tepat sebagai salah satu posting menarik  edisi kali ini bagi pembaca setia Tradisi Maluku. 

Sebelum beta menjelaskan lebih lanjut, tujuan  menulis tradisi ini, adalah murni mengekspose realitas masyarakat Negeri Ullath, yang sampai hari ini, mayoritas masyarakat disana masih menjalankan dan mempercayai tradisi “bawa tangan” tersebut. Sehingga dalam penjelasan selengkapnya dari posting ini, tidak dinterpretasi secara berlebihan dari sisi norma agama konvensional kita masing-masing. Sebab hakekatnya, tradisi dan budaya adalah semacam kodrat masing-masing (dari masyarakat/komunitas yang menjalankannya) yang perlu di hargai oleh masyarakat lainnya yang tidak menjalankannya.

LATAR BELAKANG 

              Bagi Orang Ullath hubungan intim dari sebuah keluarga adalah segala-galanya. Sehingga relasi yang terbangun dari suatu ikatan keluarga (Geneologi) semenjak semasa hidup, tidak dapat dibatasi sampai kapanpun, termasuk kematian yang pada umumnya dianggap manusia, sebagai pembatas hubungan makhluk hidup di dalam dunia dengan segalanya. Yaitu ketika seseorang telah ”meninggal dunia”/mati  sama artinya hubungan kekeluargaan semasa hidup telah berakhir, tetapi bagi sebagian besar masyarakat Ullath, itu hanya perpindahan ruang dan waktu; sehingga roh dan arwah orang-orang yang telah meninggal dunia itu masih tetap ada seperti selayaknya di masih hidup. Sebagai contoh untuk mempermudah cara pandang masyarakat Ullath terkait hal ini adalah begini; jika semasa hidup sesorang terkenal sebagai seorang pemimpin paduan suara (di gereja), maka di alamnya sesudah ia meninggal dunia, orang tersebut dikenal oleh masyarakat (di dunia orang mati) juga sebagai pemimpin paduan suara. Ataupun saat semasa hidup seseorang terkenal sebagai kepala Kewang (Kepala Divisi perlindungan Petuanan Negeri, Hutan dan Pantai), maka di dunia orang matipun jabatan itu masih dimiliki olehnya.
  

» Read More...

"OOM JO"; Dr. Johanes Leimena

Johannes Leimena (anak kedua dari empat anak pasangan Dominggus Leimena dan Elizabeth Sulilatu) lahir tanggal 6 Maret 1905 di Ambon. Ia keturunan keluarga besar Leimena dari Desa Ema di Pulau Ambon dan dikenal dengan nama panggilan "Oom Jo". Ia seorang Kristen yang berbudi luhur. Ayahnya seorang guru, dengan demikian ia terhitung keturunan golongan menengah (pada saat itu). Pada usia lima tahun Johannes telah menjadi yatim. Kemudian ibunya menikah lagi, dan ia diasuh oleh pamannya.
Johannes kecil awalnya bersekolah di "Ambonsche Burgerschool" di Ambon karena paman yang mengasuhnya menjadi kepala sekolah di sana. Kemudian pamannya dipindahkan ke Cimahi. Keberangkatannya ke Cimahi merupakan titik balik dan kisah tersendiri bagi Johannes. Sebenarnya ibunya bersikeras tidak mengizinkan Johannes pergi, namun ia nekat menyelinap ke kapal dan baru menampakan diri saat kapal hendak bertolak. Tindakan nekatnya itu membuat ibunya pasrah dan berpesan agar pamannya mau menjadi pelindung baginya. Didikan pamannya yang penuh disiplin berhasil menempa Johannes dan menjadikannya murid yang berprestasi.

Tahun 1914, Johannes hijrah ke Batavia bersama pamannya. Di Batavia, Johannes melanjutkan studinya di "Europeesch Lagere School" (ELS), namun studinya hanya beberapa bulan saja, lalu ia pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (sekolah untuk anak asli orang Belanda, kini PSKD Kwitang), dan tamat tahun 1919. Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, Johannes memilih sekolah campuran dari berbagai golongan, yaitu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan tamat tahun 1922.

» Read More...

"UPULERU"; BAPAK ATOM MALUKU

Gerrit A. Siwabessy ( Lahir di Saparua, Maluku, 19 Agustus 1914 – meninggal di Jakarta, 11 November 1982 pada umur 68 tahun) adalah Menteri Badan Tenaga Atom Nasional dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1965 hingga 1978 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto.)

Masa kecil.    Gerrit Augustinus Siwabessy terlahir sebagai bungsu dari empat bersaudara pada 19 Agustus 1914 di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Enoch Siwabessy, ayahnya, seorang petani cengkeh, meninggal dunia ketika Gerrit baru berusia satu tahun. Ibunda Naatje Manuhutu kemudian menikah lagi dengan Yakub Leuwol, seorang guru sekolah dasar terpandang. Hal ini memungkinkan Gerrit menjalani pendidikan dasar dan menengah dengan baik. "Beta selalu menyertai tuan guru Leuwol yang berturut-turut ditempatkan sebagai guru di Larike, Tawiri dan Lateri," begitu tulis Siwabessy dalam memoarnya.

» Read More...

#satubaris; TANAH AIR BETA

Beta rekomendasi bagi semua basudara yang mengakui dirinya sebagai Orang Maluku di hari ini, dapat membaca tulisan ini "TANAH AIR BETA" oleh Wesly Johannes.

Tulisan ini membantu kita sebagai Masyarakat Maluku untuk memahami dengan benar siapakah kita di hari ini, dan gambaran fakta-fakta sejarah yang sangat terang untuk lebih menjelaskan lagi apakah beta dan ale di hari ini adalah orang Indonesia.?

Berikuti ini adalah tulisan yang saya kutip di salah satu forum, dimana Wesly Johannes membuatnya disana :

» Read More...

Bahasa Ambon hari-hari; Kata-kata Mutiara

Pisang tongka langit deng aer gula (merah), Jakarta tu apa?
Pisang tongkat langit dengan air gula merah, Jakarta itu apa? (Terjemahan Bahasa Indonesia)


Kalimat ini berasal dari orang Ullath di Pulau Saparua (Maluku Tengah); yang berarti jika mengenang salah satu makanan khas mereka, yaitu makan pisang tongkat langit dicampur dengan air gula merah rasanya sangat enak sekali, jika dibandingkan dengan rasa hendak berpergian ke Jakarta. hehehe

» Read More...

Tradisi Na'has

Ini adalah posting pertama di tahun 2013 dari beta bagi pembaca setia; tentang salah satu tradisi masyarakat Maluku. Tradisi ini beragam sebutannya, ada yang menyebutnya "Na'has" tetapi ada pula menamakannya "Nanaku", dan di Maluku Utara, Maluku Tenggara, atau di daerah lainnya memiliki sebutan yang berbeda juga. Tetapi tradisi yang beta namakan pada judul posting ini yaitu TRADISI NA'HAS, pada prakteknya memiliki kesamaan substansial.

Yaitu bagi mereka (yang masih mempercayai Tradisi Na'has ini) untuk menentukan atau menandai dalam hitungan-hitungan waktu tertentu sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, perjalanan, atau kegiatan; berdasarkan pada kalender waktu yang telah mereka dapatkan dari generasi terdahulunya. Sehingga biasanya untuk sebagian masyarakat di negeri-negeri Salam maupun Sarane yang ada di Maluku Tengah, atau yang ada di Maluku Utara, Maluku Tenggara, Buru,dll sebelum seseorang membuat kebun singkong (Kabong Kasbi) misalkan, mereka harus menyesuaikan pada waktu yang ada pada kalender Na'has; sebelum segala sesuatu dikerjakan.

» Read More...

Video Profile Negeri Booi

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!