SALAMAT TAONG BARU DENG BABARAPA TRADISI DI NEGRI NEGRI ADAT DI SAPARUA

"Selamat tahun baru 2015" admin mau ucapkan dulu kepada pembaca setia blog TRADISI MALUKU..
Tak terasa, blog ini sudah berjalan pada usianya di tahun ke 5, dan ada banyak hal yang belum kami berikan secara maksimal kepada pembaca sekalian; tetapi jangan kuatir, admin TRADISI MALUKU akan berbenah dan sedapat mungkin meningkatkan kualitas informasi serta pengetahuan bagi pembaca setia kedepan. Agar bermanfaat bagi setiap orang yang membutuhkan informasi yang agak unik, bila dibandingkan dengan blogger-blogger sejenis dalam mempromosikan TRADISI dan BUDAYA orang Maluku.

Kali ini, admin mau berbagi pengalaman pulang mudik kemarin dikampung halaman, yaitu di pulau Saparua. Tepatnya di Negeri BOOI, yaitu sebuah negeri adat yang terkenal dengan gunung tertinggi di pulau Saparua, yaitu Gunung Booi. Agar lebih terarah tulisan ini, fokus admin mau melihat secara khusus perayaan Tahun Baru oleh masyarakat di pulau Saparua pada umumnya, dan di negeri Booi pada khususnya, yang kemudian diikuti dengan beberapa Tradisi sederhana yang dijalankan oleh masyarakat disana.

Sebagaimana Tahun Baru dengan perayaannya, semua orang merayakan kebahagiaan yang sama, yaitu menyambut datangnya harapan baru untuk hidup ditahun baru. Sehingga bagi masyarakat pulau Saparua, memanfaatkan momen (perayaan tahun baru) ini untuk melakukan sejumlah tradisi yang menarik perlu admin bagikan untuk diketahui..

 TRADISI PEGANG TANGANG ANAK-ANAK KECIL

Ini suatu kebiasaan yang sudah terjadi dari generasi terdahulu. Bahkan admin juga pernah merasakan dan melakukan tradisi ini saat masa kecil dahulu. Biasanya pada saat tahun baru, setelah pulang ibadah di gereja, atau di mesjid untuk sembahyang menyongsong tahun baru, setiap rumah akan mulai didatangi anak-anak kecil mulai dari perorangan, bahkan sampai berkelompok.

Tetapi perlu admin menyampaikan beberapa hal detail dari kebiasaan ini adalah, biasanya tiap masing-masing anak kecil ini akan lebih awal mengunjungi Bapa/Mama Ani (Orang Tua Saksi saat pembabtisan kudus, bagi mereka yang beragama Kristen), dan keluarga inti lainnya seperti Ua dan  Wate (Sebutan untuk Saudara Perempuan dan Laki2 kandung/sepupuan kandung dari Ayah), Momo dan Mui (Sebutan untuk Saudara Laki2 dan Perempuan kandung/sepupuan kandung dari Ibu); dan atau kepada Oom dan Tanta (Sebutan untuk Paman dan Bibi yang miliki hubungan saudara).

Sebab di dalam setting kehidupan sosial masyarakat adat di Pulau Saparua, masih mengatur soal strata dalam sapa menyapa dengan kapasitas masing-masing yang sudah diakui secara turun temurun. Yang disebut "Rang"; yaitu hirarki garis keturunan atau silsilah keluarga yang dilestarikan dalam sapaan hari-hari, dan berlaku untuk semua anggota keluarga.

Sehingga momen perayaan Tahun baru, atau perayaan hari Natal, tradisi ini dilakukan oleh anak-anak kecil, merupakan sebuah bentuk kesadaran yang bersifat edukatif untuk melestarikan nilai-nilai persaudaraan dan tali silahturami dalam setting kehidupan sosial sebagai orang Maluku; yang terlihat di pulau Saparua, dan juga di negeri Booi secara khusus.

TRADISI PESTA NEGERI

Menyambut datang Tahun Baru, ada sejumlah bentuk sukacita yang sengaja digelar oleh pemerintah negeri adat masing-masing di pulau Saparua. Ada yang membuat pesta jujaro mungare (dengan bentuk tarian dansa dansi dengan genre musik walts, dll), ada juga yang melakukan tradisi dudu kapata dan angkat pantun, tetapi juga ada yang membuat sejumlah perlombaan yang melibatkan seluruh peran serta masyarakat negeri. Seperti Hela Rotang (Tarik Tambang), Panggayo Parau (Dayung Perahu) dll.

Sehingga semarak dari kemeriaan Tahun Baru, akan mampu menyemangati seluruh aktivitas kerja semua orang sepanjang tahun dengan sukacita dan optimisme. Tetapi jauh dari pada itu, menurut admin, semua event2 yang sengaja dibuat dan sudah menjadi tradisi di negeri-negeri adat di Pulau Saparu dalam menggelar tradisi pesta negeri, adalah semata-mata untuk mencairkan segala situasi dan memupuk rasa persaudaraan diantara seuruh anggota masyarakat negeri, sebelum masing-masing orang, nantinya, akan kembali membangun kualitas hidup secara terpisah. Baik itu secara personal, maupun dalam kehidupan keluarga masing-masing.



TRADISI BADENDANG

Khusus tradisi ini, dapat dikategorikan menjadi salah satu dari bentuk tradisi Pesta Negri, tetapi tradisi Badendang yang cenderung dilakukan oleh semua negeri di Pulau Saparua, saat menjelang perayaan Tahun sedikit diberikan pengecualian. Artinya mungkin bentuk-bentuk tradisi pesta negeri yang lain tidak terlaksana, tetapi khusus untuk tradisi Badendang, akan sangat mungkin dilakukan setiap tahunnya, pada saat merayakan acara perayaan Natal dan Tahun Baru.

Sebagai salah satu contoh dari bentuk lain tradisi Badendang, anda dapat membaca Tradisi Badendang Rotan di Negri Booi sebagai gambaran untuk mengetahui hal-hal substansi dari Tradisi ini. Meskipun demikian tidak semua negeri memaki media Rotan sabagai salah satu alat untuk melakukan Tradisi Badendang ini.

TRADISI SOMBAYANG DI DUSUNG

Pada jaman sekarang, mungkin tidak terlihat secara umum dipraktekan tradisi ini oleh generasi penerus di negeri-negeri adat di Pulau Saparua. Tetapi yang pasti, ada sejumlah orang yang masih tetap mempraktekkan Tradisi Sombayang di Dusung, yang sudah nyaris hilang. Dengan asumsi yang dibuat Admin, yaitu hanya masih dipraktekan oleh mereka-mereka (orang Tatua) yang bertumbuh dan hidup di dalam keluarga yang dahulunya, orang Tua mereka setia melakukan Tradisi yang sama.

Tradisi Sombayang di Dusung, dijalankan yaitu pada saat mengawali tahun baru, mereka melakukan doa (sombayang) berdasarkan kepercayaan masing-masing, dengan melakukan sejumlah akta simbolik berupa mengumpulkan api untuk mengasapi dusung (kebun) dan bentuk2 akta lainnya. Yang intinya dari akta simbolik tersebut, bertujuan agar supaya Dusung atau Kebun tempat mereka bercocok tanam, atau tempat hidupnya tatanaman umur panjang (seperti Pohon Pala, Cengkeh, Kenari, Durian, Mayang, dll) dapat memiliki berkat dan menghasilkan hasil.

Sebagaimana admin yang berasal dari negeri Booi yang mayoritas beragama Nasarani, setiap akhir tahun dan tahun baru, ada kebiasaan para Majelis Jemaat bersama tiga batu tungku (yaitu yang terdiri dari staf Majelis Jemaat, Staf Pemerintah Negeri/Saniri Negeri, dan Para Cendikiawan) melakukan doa di jiku2 (sudut) penjuru negri, yang dipimpin oleh Pandita (sebutan untuk seorang Pendeta)  untuk memohon berkat dan perlindungan dari TUHAN bagi negeri.

Maka Tradisi Sombayang di Dusung sangat mungkin adalah inisiatif setiap pribadi yang terinspirasi dari kebiasaan atau tradisi yang dilakukan oleh Tiga Batu Tungku, dan dipraktekan pada setiap petuanan dusung mereka masing-masing.

---------------------------------------

Demikian beberapa Tradisi yang dilakukan oleh Masyarakat di Pulau Saparua, dapat admin bagikan kepada pembaca sekalian, dengan harapan, jika ada sejumlah tradisi lainnya, dapat anda bagikan lewat form komentar di bawa tulisan ini.

Sehingga memperkaya khasana tradisi dan budaya sebagai orang Maluku, yang hidup di atas pulau-pulau ini, termasuk kami yang hidup dipulau Saparua, yang sejak dahulu telah terkenal di dalam sejarah Dunia.

Semoga Bermanfaat..

0 comments :

Post a Comment

Dengan Senang Hati Beta Menanti Basuara Sudara-Sudara.

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!