ULLATH; tradisi makang kalapa sisi

Memang makang kelapa sisi ("makan kelapa mentah" yaitu hanya di lepaskan dari tempurungnya tanpa di parut, dan di iris jadi potong-potongan kecil itulah yang di maksud dengan "kalapa sisi") semua orang juga pernah melakukan hal yang sama. Namun di negeri Ullath justru menjadi suatu tradisi. Fenomena ini pernah saya temukan sendiri, ketika berkunjung beberapa kali di negeri Ullath dan melihat sendiri faktanya ketika di undang dengan tidak sengaja maupun dengan sengaja untuk makan bersama. Tapi pada blog ini, saya minta maaf saya lupa pada waktu itu menyakan alasan filosofis sampai makang kalapa sisi menjadi tradisi turun temurun.

Yang terlihat unik dari kebiasaan lainnya, di negeri Ullath hampir semua keluarga kalau makan di haruskan ada kalapa sisi di meja makan, walaupun jenis-jenis makanan yang tersedia sudah mengandung santan (dari kelapa), misalkan di sayur dan kuanya, atau masakan daging ikan jenis kare, dll. Dan menurut mereka makan dengan kelapa sisi telah menjadi kebutuhan, dan bukan sebatas keinginan saja sebagai pelengkap rasa.

Fakta inilah yang di temukan, dan menurut saya pasti ada sesuatu yang melatar belakangi tradisi ini telah berumur ratusan hingga kini. Jika nanti ada pembaca yang mengatahui alasannya tolong di berikan komentar yah.?? soal yang satu ini. Saya sangat berharap.

Memang, tradisi ini sangat mungkin ada juga di negeri-negeri lain di Maluku, tetapi saya membuktikannya sendiri dalam pengamatan, dan saya tidak berani soal itu. Karna yang baru di buktikan di negeri Ullath, bahwa tradisi makang kalapa sisi  benar-benar ada disana. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

PAPERU; kenalilah marga-marganya

Berikut ini adalah marga-marga yang ada di negeri Paperu, di pulau Saparua :



  1. Bernhard
  2.  Latumahina
  3. Lawalata
  4. Maelissa
  5.  Mayaut
  6. Luhukay
  7.  Parinussa
  8.  Pattiata
  9. Pattiselanno
  10. Ruhupatty
  11. Sopamena
  12. Tuhumena
Demikianlah fam-fam yang ada di negeri Paperu yang di kenal dengan teon negerinya : TOUNUSSA AMALATU. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

Srikandi ODHA dari Itawaka su pigi jauh

Tulisan ini di copy paste dari tulisan bung Rudy Fofid. Patut di berikan apresiasi atas semangat juang skrikandi asal Lease ini yang menurut saya tidak semua orang dapat melakukannya. Untuk itu pilihan memposting ulang kisah nyata ini, dari wujud apresiasi generasi muda Lease terhadap pengorbanan dan semangat juang DESIANA PAPILAYA (sedikit klarifikasi marga DESIANA yang di tulis oleh bung Rudy di bawah ini. Sebab marga Pattipeilohy adalah marga ibu kandung dari DESIANA, namun yang jelas DESIANA PAPILAYA adalah marga aslinya) yang memberikan inspirasi bagi banyak orang Lease lainnya secara khusus; akan tetapi bagi orang Maluku secara keseluruhan dan semua orang lain yang ada di belahan dunia pada umumnya. Berikut adalah tulisan bung Rudy Fofid tentang DESIANA atau biasa di sapa DESI.

PADA mulanya, Desiana Pattipeilohy alias Desi, hanyalah seorang perempuan biasa. Berangkat dari kampung halaman di Itawaka Saparua, dia pergi bekerja sebagai buruh pabrik kayu lapis di Batugong Ambon. Konflik sosial di Maluku tahun 1999 memaksanya mengungsi ke Kota Sorong.
Di Tanah Papua itulah, Desi berjumpa pujaan hatinya. Sebut saja namanya Pace, penduduk sorong tapi asli Ambon. Pace pernah hidup tanpa nikah dengan bekas pramuria di Sorong. Desi jualah yang mengantar Pace ke gerbang pernikahan.
Dari Sorong, pasangan Pace-Desi pergi ke Ternate, memulai hidup baru. Nahas, sebab di sana, Pace jatuh sakit. Sakitnya tidak sembuh-sembuh. Sebab itu, Desi memboyong Pace ke Ambon, tinggal di rumah orang tua Pace.
Sejak di Ternate maupun di Ambon, Desi selalu mengajak Pace berobat ke dokter. Tapi Pace berkeras hati. Sampai suatu saat, Desi juga jatuh sakit. Gejalanya mirip sekali dengan sakit Pace. Karena suaminya menolak ke dokter, Desi membawa dirinya sendiri ke rumah sakit. Alhasil, dokter menyarankan Desi memeriksakan darah. Test HIV dilakukan. Hasilnya, Desi positif terinfeksi virus maut tersebut.
Desi terpukul. Sebab, tidak pernah punya riwayat pergaulan bebas. Satu-satunya pasangannya adalah Pace, sang suami. Dalam situasi itu, diapun mengalami perlakuan menyakitkan. Seorang perawat di RS dr Haulussy sempat menyindir. ”Dulu sewaktu masih nona-nona, pacaran banyak ka apa ?” begitulah kata sang perawat.
Desi pulang ke rumah, membawa kabar hasil test darah kepada Pace dan mertuanya. Bukannya belas kasih yang didapat. Desi malah diusir dari rumah. Dia dituduh menjadi penyebab sakit suaminya, dan mengancam hidup orang seisi rumah.
Dengan air mata tumpah, Desi meninggalkan rumah Pace. Desi memilih tinggal di Passo. Tapi kabar Desi pengidap HIV cepat tersebar dari mulut ke mulut. Dua kali, Desi diusir para tetangga yang datang memberi ultimatum. Pertama kali dari rumah kos-kosan, berikutnya lagi dari rumah keluarga. Dalam situasi pahit itu, ibu kandungnya setia mendampingi.
Setelah merasa tak ada tempat berpijak di Ambon, sang ibu membawa putrinya ke kampung halaman di Itawaka. Desi hanya nyenyak dua malam di tanah kelahirannya sebab hari berikutnya, status dirinya sudah diketahui petinggi negeri. Mereka memberi ultimatum kepada Desi untuk angkat kaki dari rumahnya sendiri, dua kali 24 jam.
Kabar perlakuan terhadap Desi sampai di telinga dua pekerja sosial dari Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM) Piet Wairisal dan Noni Tuharea. Piet dan Noni langsung meluncur ke Itawaka. Melalui pendekatan dengan pemerintah negeri dan pendeta setempat, keduanya diizinkan memberi penyuluhan kepada warga Itawaka di dalam gereja, seusai ibadah Minggu.
Setelah mendapat penjelasan bahwa kehadiran Desi di Itawaka tidak membawa ancaman penularan bagi siapapun, jemaat dan para petinggi negeri pun akhirnya batal mengusir Desi. Desi diterima sebagaimana adanya. Dia malah melaksanakan tugasnya memimpin ibadah di rumah warga.
Bukan saja warga Itawaka yang menerima Desi. Perlahan-lahan, warga desa tetangga, bahkan orang Saparua mengetahui statusnya. Desi tetap diterima penduduk Saparua saat dia ke gereja, pasar, naik angkutan umum, ojek dan sebagainya. Trauma mendapat perlakuan pahit di Ambon perlahan-lahan terhapus dengan perlakuan manis orang-orang Saparua.
Desi pun makin percaya diri dalam dampingan relawan LPPM. Sampai suatu saat, Desi melakukan langkah berani. Dia tampil di depan publik Ambon, dalam acara Malam Renungan AIDS tahun lalu. Desi naik ke podium Baileo Oikumene. Di hadapan para pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, sesama ODHA, para waria, anak sekolah, dan wartawan, Desi mengumumkan statusnya sebagai ODHA. Sebuah testimoni yang dramatis sekaligus mengagumkan.
Inilah untuk pertama kalinya, seorang ODHA di Maluku berani menyatakan diri secara terang-terangan di depan publik. Maka bekas buruh pabrik tripleks itu pun menjadi bintang. Kilatan blitz fotografer, sorot kamera TV lokal dan nasional terfokus pada Desi. Tokoh seperti Rury Munandar dan Mercy Barends mencium pipi Desi, ketika dia selesai memberi kesaksian dirinya. Untuk pertama kali pula, nama asli seorang ODHA diizinkan untuk ditulis tanpa initial atau nama samaran. Desi tidak keberatan nama dan wajahnya nongol di TV atau koran.
Saat itu, Desi berjanji membaktikan dirinya untuk sesama ODHA dan ikut mencegah penularan HIV-AIDS di Maluku. Dia berharap, dengan menyatakan diri di hadapan umum, semakin banyak orang terinspirasi menghindari diri dari ancaman HIV-AIDS. Maka melalui LPPM, Desi sempat tampil dalam suatu forum nasional. Aktivitasnya sebagai ODHA dipamerkan di Jakarta, dan banyak orang belajar dari kasus Desi.
Tapi begitulah jalan hidup Desi. Rasa cinta dan rindu pada Pace, sang suami membuat dia tidak bisa tenang. Dari sekadar rindu-dendam, Desi kemudian mengalami stress berat. Dia akhirnya dirawat di Rumah Sakit Jiwa di Nania. Dalam situasi itu, kerinduan untuk bertemu Pace tidak kesampaian. Tak satupun keluarga Pace datang menjenguk, sampai akhirnya Desi pun dipanggil Tuhan. Pemakamannya di Galala, Juli lalu, tidak dihadiri satu pun orang penting. Juga tak ada publikasi sama sekali. Mungkin karena tidak ada informasi, atau heroisme Desi tidak diperhitungkan sebagai tindakan kepahlawanan seorang srikandi.
Desi pernah hadir memberi arti di tengah diskriminasi yang pernah dialami para ODHA. Sayang, menjelang Hari AIDS Sedunia 1 Desember mendatang, Desi sudah tak ada di sini. Semoga dia sudah sampai di sebuah rumah yang Maha Damai. (rudi fofid)

» Read More...

TRADISI BALOBE

Dasar-dasar alasan dari tradis Balobe, hampir mirip dengan tradisi Bameti. Jadi tradisi Balobe adalah kegiatan bameti yang di lakukan pada malam hari. Namun yang membedakan Balobe dan Bameti adalah Bameti pada siang hari sedangkan Balobe pada malam hari.

Juga di satu sisi yang lain, untuk Bameti ada beragam jenis kegiatan pencahariannya, sementara otrang-orang yang melakukan Balobe lebih fokus untuk mencari Ikan dan Gurita. Namun tidak menutup kemungkinan mereka menemukan jenis yang lain selain Ikan dan Gurita, juga mereka akan berupaya untuk bisa menangkapnya atau mengambilnya.

Biasanya dalam melakukan suatu bentuk kebiasaan yang sudah turun temurun ini, alat yang di pergunakan adalah  Parang (pedang), Kalawai (sejenis tombak, yang bermata 2-5), Kurkunci (adalah besi kecil yang di tajamkan ujungnya dan memakai taji/sanggi-sanggi yang sengaja di buat sebagai alat pelengkap Kalawai, yang kemudian akan di pakai pada posisi tertentu, ketika fungsi dari Kalawai tidak terlalu maksimal). Dan tentunya memakai lampu petromax atau obor (untuk jaman tradisional), juga alat penampung ikan, yaitu bakul dari anyaman bambu..

Balobe seringkali memberikan jaminan penghasilan yang memuaskan ketimbagng Bemeti di siang hari, sebab pada malam hari ikan atau Gurita terkesan jinak tinggal di potong atau di tikam memakai Kalawai atau Kurkunci. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

TRADISI BAMETI

Tradisi ini dapat terlihat di negeri-negeri pada umumnya di Maluku. Tetapi tidak semua negeri-negeri dapat melakukan tradisi ini, sangat mungkin bagi negeri-negeri yang memiliki hamparan pantai yang luas, ketika air surut, dapat mengeringkan sampai ratusan meter mulai dari tepi pantai. fenomena alam ini yang kemudian disebut orang-orang Maluku dengan "air Meti" (air surut). Sementara air pasang di sebut (air pono). Di pulau Lease banyak negeri-negeri yang sering melakukan "tradisi bameti" ini. 

Tradisi bameti adalah suatu bentuk pencaharian sampingan ketika kebutuhan bahan konsumsi daging ikan mahal di pasar bagi negeri-negeri yang berada di pesisir pantai. Maka alternatifnya banyak orang mulai bameti. Dapat dikatakan kegiatan ini adalah sebuah tradisi turun temurun, dari generasi terdahulu di Maluku yang benar-benar telah terbiasa memiliki kekayaan laut yang lebih dominan. Alasan tradisi di atas, adalah alasan masa kini, tetapi dalam sejarah bameti lazimnya, itu hanya dilakukan pada waktu musim gelombang, yang tidak memungkinkan pencaharian memakai perahu sehingga bameti benar-benar di jadikan pilihan utama semua orang untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yaitu dari sesuatu yang berasal di laut. Sebab bagi orang Maluku yang tinggal di pesisir pantai makan tanpa Ikan atau alternatif hewani lainnya dari laut, akan mengurangi nafsu makan mereka. Fakta inilah yang melatarbelakangi tradisi bameti ini terpelihara sampai sekarang. 

» Read More...

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!