ULLATH; kenalilah marga-marganya







  1.  Hakamuly
  2.  Latul
  3.  Lawalata
  4.  Lekalissa
  5.  Lilihua
  6.  Litaay
  7.  Lumalessil
  8.  Lusikooy
  9.    Maail
  10.    Manukiley
  11.    Manuputty
  12.    Nikijuluw
  13.    Paaijs
  14.    Parinussa
  15.    Pattipeilohy
  16.    Patty
  17.    Peluhuapelu
  18.    Pical
  19.    Picauli
  20.    Sahetapy
  21.    Sapulette
  22.    Siwabessy
  23.    Solisabessy
  24.    Supusepa
  25.    Takarbessy
  26.    Telehala
  27.    Toisuta   
  28.  Toumahuw
  29.  Tulalesia
Marga-marga di atas adalah marga-marga yang ada di negeri Ullath, yang berteon negeri "BEILOHY AMALATU".[S.A.95] J.Pattiasina.






» Read More...

ORANG SARANE; tradisi berpakaian waktu pi ibadah

Sebuah fenomena menarik, hampir di semua negeri-negeri orang Sarane (Kristen) di Maluku dapat terlihat cara berpakaian yang sama sewaktu mereka pergi beribadah. Karena lokus yang saya lihat di Lease, maka dikatakan semua negeri di Lease masih menjaga tradisi ini. Yaitu bagi orang-orang perempuan, di haruskan memakai kabaya itam dan kaeng pikol (kebaya hitam dan kain pikulnya), sementara yang laki-laki pakai baniang itam (semacam jas hitam tradisional ala orang Maluku). Dan yang unik jika memakai busana seperti yang disebutkan di atas, harus berkaki telanjang atau tidak memakai alas kaki berupa sendal atau sepatu. Ini merupakan suatu keharusan dan sudah membudaya dalam tatanan hidup orang Kristen di Lease.

Kendati demikian dengan berjalannya waktu, dan terus mengalami perubahan sosial kemasyarakatan, pola tradisi ini sedikit bergeser sekarang. Tetapi hanya beberapa modifikasi yang terlihat; seperti dalam membuat bentuk kain pikol dengan pernak-pernik agar terlihat indah yaitu dengan memakai beragam manik-manik, atau baniang untuk laki-laki yang di maksudkan di atas di modifikasi bentuknya, agar di sesuaikan dengan kondisi sekarang. Atau juga, banyak di antara  pemakai busana ini waktu pergi ke gereja, sudah memakai alas kaki, seperti sandal atau sepatu. Namun yang pasti cara berbusana kabaya itam-kaeng pikol dan baniang itam masih terlihat semarak waktu mereka beribadah pada jam-jam ibadah. Entah itu pada hari minggu, atau juga pada hari-hari ibadah lainnya.

Secara filosofi untuk menggali asal mula cara berbusana ini kemudian dijadikan pakaian beribadah hingga kini, tentunya memiliki sejarahnya tersendiri. Yang saya ketahui, bahwa ini dahulu sebelum agama Kristen di bawa masuk ke Maluku, cara berpakaian ini adalah cara berbusana ritual adat pada umumnya dari seluruh latar belakang orang-orang Maluku termasuk di Lease, dan barang tentu punya keunikan tersendiri dengan latar belakang mereka masing-masing. Sampai sekarang pun ketika ada acara-acara adat, berbusana kabaya itam untuk orang perempuan dan baniang itam menjadi suatu keharusan. Bedanya berpakaian adat dan berpakaian untuk beribadah, yaitu terletak pada kaeng pikol sebagai pelengkap kabaya itam (yaitu dikhususkan untuk beribadah), sementara untuk adat, orang perempuan memakai kain berang merah, atau kain tenun (disesuaikan dengan kontek adat tertentu kapan harus memakai kain berang, atau kapan memakai kain tenun) yang di ikat di leher. Begitupun dengan yang laki-laki tidak jauh berbeda dengan cara berbusana adat dengan yang di pakai oleh wanita.
Namun satu hal yang pasti patut di berikan apresiasi terhadap tradisi berbusana ini, yang menurut saya pribadi orang Maluku mampu menentukan karakter mereka yang khas dalam pemilihan berbusana yang tepat untuk membedakan suatu konteks tentertu. Dan hal ini nampak pada cara orang-orang Sarane yang secara turun temurun memelihara tradisi berbusana yang sakral dalam beribadah, maupun pada saat di mana mereka harus berpakaian adat.
Demikianlah sedikit gambaran filosofi kenapa tradisi ini kemudian kekristenan mengadopsi cara berbusana yang kontekstual dari umatnya di Maluku yang dahulu terkenal kuat sekali dengan adat budayanya. Semoga bermanfaat tulisan ini. [S.A.95] J.Pattiasina



» Read More...

ULLATH; tradisi makang kalapa sisi

Memang makang kelapa sisi ("makan kelapa mentah" yaitu hanya di lepaskan dari tempurungnya tanpa di parut, dan di iris jadi potong-potongan kecil itulah yang di maksud dengan "kalapa sisi") semua orang juga pernah melakukan hal yang sama. Namun di negeri Ullath justru menjadi suatu tradisi. Fenomena ini pernah saya temukan sendiri, ketika berkunjung beberapa kali di negeri Ullath dan melihat sendiri faktanya ketika di undang dengan tidak sengaja maupun dengan sengaja untuk makan bersama. Tapi pada blog ini, saya minta maaf saya lupa pada waktu itu menyakan alasan filosofis sampai makang kalapa sisi menjadi tradisi turun temurun.

Yang terlihat unik dari kebiasaan lainnya, di negeri Ullath hampir semua keluarga kalau makan di haruskan ada kalapa sisi di meja makan, walaupun jenis-jenis makanan yang tersedia sudah mengandung santan (dari kelapa), misalkan di sayur dan kuanya, atau masakan daging ikan jenis kare, dll. Dan menurut mereka makan dengan kelapa sisi telah menjadi kebutuhan, dan bukan sebatas keinginan saja sebagai pelengkap rasa.

Fakta inilah yang di temukan, dan menurut saya pasti ada sesuatu yang melatar belakangi tradisi ini telah berumur ratusan hingga kini. Jika nanti ada pembaca yang mengatahui alasannya tolong di berikan komentar yah.?? soal yang satu ini. Saya sangat berharap.

Memang, tradisi ini sangat mungkin ada juga di negeri-negeri lain di Maluku, tetapi saya membuktikannya sendiri dalam pengamatan, dan saya tidak berani soal itu. Karna yang baru di buktikan di negeri Ullath, bahwa tradisi makang kalapa sisi  benar-benar ada disana. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

PAPERU; kenalilah marga-marganya

Berikut ini adalah marga-marga yang ada di negeri Paperu, di pulau Saparua :



  1. Bernhard
  2.  Latumahina
  3. Lawalata
  4. Maelissa
  5.  Mayaut
  6. Luhukay
  7.  Parinussa
  8.  Pattiata
  9. Pattiselanno
  10. Ruhupatty
  11. Sopamena
  12. Tuhumena
Demikianlah fam-fam yang ada di negeri Paperu yang di kenal dengan teon negerinya : TOUNUSSA AMALATU. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

Srikandi ODHA dari Itawaka su pigi jauh

Tulisan ini di copy paste dari tulisan bung Rudy Fofid. Patut di berikan apresiasi atas semangat juang skrikandi asal Lease ini yang menurut saya tidak semua orang dapat melakukannya. Untuk itu pilihan memposting ulang kisah nyata ini, dari wujud apresiasi generasi muda Lease terhadap pengorbanan dan semangat juang DESIANA PAPILAYA (sedikit klarifikasi marga DESIANA yang di tulis oleh bung Rudy di bawah ini. Sebab marga Pattipeilohy adalah marga ibu kandung dari DESIANA, namun yang jelas DESIANA PAPILAYA adalah marga aslinya) yang memberikan inspirasi bagi banyak orang Lease lainnya secara khusus; akan tetapi bagi orang Maluku secara keseluruhan dan semua orang lain yang ada di belahan dunia pada umumnya. Berikut adalah tulisan bung Rudy Fofid tentang DESIANA atau biasa di sapa DESI.

PADA mulanya, Desiana Pattipeilohy alias Desi, hanyalah seorang perempuan biasa. Berangkat dari kampung halaman di Itawaka Saparua, dia pergi bekerja sebagai buruh pabrik kayu lapis di Batugong Ambon. Konflik sosial di Maluku tahun 1999 memaksanya mengungsi ke Kota Sorong.
Di Tanah Papua itulah, Desi berjumpa pujaan hatinya. Sebut saja namanya Pace, penduduk sorong tapi asli Ambon. Pace pernah hidup tanpa nikah dengan bekas pramuria di Sorong. Desi jualah yang mengantar Pace ke gerbang pernikahan.
Dari Sorong, pasangan Pace-Desi pergi ke Ternate, memulai hidup baru. Nahas, sebab di sana, Pace jatuh sakit. Sakitnya tidak sembuh-sembuh. Sebab itu, Desi memboyong Pace ke Ambon, tinggal di rumah orang tua Pace.
Sejak di Ternate maupun di Ambon, Desi selalu mengajak Pace berobat ke dokter. Tapi Pace berkeras hati. Sampai suatu saat, Desi juga jatuh sakit. Gejalanya mirip sekali dengan sakit Pace. Karena suaminya menolak ke dokter, Desi membawa dirinya sendiri ke rumah sakit. Alhasil, dokter menyarankan Desi memeriksakan darah. Test HIV dilakukan. Hasilnya, Desi positif terinfeksi virus maut tersebut.
Desi terpukul. Sebab, tidak pernah punya riwayat pergaulan bebas. Satu-satunya pasangannya adalah Pace, sang suami. Dalam situasi itu, diapun mengalami perlakuan menyakitkan. Seorang perawat di RS dr Haulussy sempat menyindir. ”Dulu sewaktu masih nona-nona, pacaran banyak ka apa ?” begitulah kata sang perawat.
Desi pulang ke rumah, membawa kabar hasil test darah kepada Pace dan mertuanya. Bukannya belas kasih yang didapat. Desi malah diusir dari rumah. Dia dituduh menjadi penyebab sakit suaminya, dan mengancam hidup orang seisi rumah.
Dengan air mata tumpah, Desi meninggalkan rumah Pace. Desi memilih tinggal di Passo. Tapi kabar Desi pengidap HIV cepat tersebar dari mulut ke mulut. Dua kali, Desi diusir para tetangga yang datang memberi ultimatum. Pertama kali dari rumah kos-kosan, berikutnya lagi dari rumah keluarga. Dalam situasi pahit itu, ibu kandungnya setia mendampingi.
Setelah merasa tak ada tempat berpijak di Ambon, sang ibu membawa putrinya ke kampung halaman di Itawaka. Desi hanya nyenyak dua malam di tanah kelahirannya sebab hari berikutnya, status dirinya sudah diketahui petinggi negeri. Mereka memberi ultimatum kepada Desi untuk angkat kaki dari rumahnya sendiri, dua kali 24 jam.
Kabar perlakuan terhadap Desi sampai di telinga dua pekerja sosial dari Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM) Piet Wairisal dan Noni Tuharea. Piet dan Noni langsung meluncur ke Itawaka. Melalui pendekatan dengan pemerintah negeri dan pendeta setempat, keduanya diizinkan memberi penyuluhan kepada warga Itawaka di dalam gereja, seusai ibadah Minggu.
Setelah mendapat penjelasan bahwa kehadiran Desi di Itawaka tidak membawa ancaman penularan bagi siapapun, jemaat dan para petinggi negeri pun akhirnya batal mengusir Desi. Desi diterima sebagaimana adanya. Dia malah melaksanakan tugasnya memimpin ibadah di rumah warga.
Bukan saja warga Itawaka yang menerima Desi. Perlahan-lahan, warga desa tetangga, bahkan orang Saparua mengetahui statusnya. Desi tetap diterima penduduk Saparua saat dia ke gereja, pasar, naik angkutan umum, ojek dan sebagainya. Trauma mendapat perlakuan pahit di Ambon perlahan-lahan terhapus dengan perlakuan manis orang-orang Saparua.
Desi pun makin percaya diri dalam dampingan relawan LPPM. Sampai suatu saat, Desi melakukan langkah berani. Dia tampil di depan publik Ambon, dalam acara Malam Renungan AIDS tahun lalu. Desi naik ke podium Baileo Oikumene. Di hadapan para pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, sesama ODHA, para waria, anak sekolah, dan wartawan, Desi mengumumkan statusnya sebagai ODHA. Sebuah testimoni yang dramatis sekaligus mengagumkan.
Inilah untuk pertama kalinya, seorang ODHA di Maluku berani menyatakan diri secara terang-terangan di depan publik. Maka bekas buruh pabrik tripleks itu pun menjadi bintang. Kilatan blitz fotografer, sorot kamera TV lokal dan nasional terfokus pada Desi. Tokoh seperti Rury Munandar dan Mercy Barends mencium pipi Desi, ketika dia selesai memberi kesaksian dirinya. Untuk pertama kali pula, nama asli seorang ODHA diizinkan untuk ditulis tanpa initial atau nama samaran. Desi tidak keberatan nama dan wajahnya nongol di TV atau koran.
Saat itu, Desi berjanji membaktikan dirinya untuk sesama ODHA dan ikut mencegah penularan HIV-AIDS di Maluku. Dia berharap, dengan menyatakan diri di hadapan umum, semakin banyak orang terinspirasi menghindari diri dari ancaman HIV-AIDS. Maka melalui LPPM, Desi sempat tampil dalam suatu forum nasional. Aktivitasnya sebagai ODHA dipamerkan di Jakarta, dan banyak orang belajar dari kasus Desi.
Tapi begitulah jalan hidup Desi. Rasa cinta dan rindu pada Pace, sang suami membuat dia tidak bisa tenang. Dari sekadar rindu-dendam, Desi kemudian mengalami stress berat. Dia akhirnya dirawat di Rumah Sakit Jiwa di Nania. Dalam situasi itu, kerinduan untuk bertemu Pace tidak kesampaian. Tak satupun keluarga Pace datang menjenguk, sampai akhirnya Desi pun dipanggil Tuhan. Pemakamannya di Galala, Juli lalu, tidak dihadiri satu pun orang penting. Juga tak ada publikasi sama sekali. Mungkin karena tidak ada informasi, atau heroisme Desi tidak diperhitungkan sebagai tindakan kepahlawanan seorang srikandi.
Desi pernah hadir memberi arti di tengah diskriminasi yang pernah dialami para ODHA. Sayang, menjelang Hari AIDS Sedunia 1 Desember mendatang, Desi sudah tak ada di sini. Semoga dia sudah sampai di sebuah rumah yang Maha Damai. (rudi fofid)

» Read More...

TRADISI BALOBE

Dasar-dasar alasan dari tradis Balobe, hampir mirip dengan tradisi Bameti. Jadi tradisi Balobe adalah kegiatan bameti yang di lakukan pada malam hari. Namun yang membedakan Balobe dan Bameti adalah Bameti pada siang hari sedangkan Balobe pada malam hari.

Juga di satu sisi yang lain, untuk Bameti ada beragam jenis kegiatan pencahariannya, sementara otrang-orang yang melakukan Balobe lebih fokus untuk mencari Ikan dan Gurita. Namun tidak menutup kemungkinan mereka menemukan jenis yang lain selain Ikan dan Gurita, juga mereka akan berupaya untuk bisa menangkapnya atau mengambilnya.

Biasanya dalam melakukan suatu bentuk kebiasaan yang sudah turun temurun ini, alat yang di pergunakan adalah  Parang (pedang), Kalawai (sejenis tombak, yang bermata 2-5), Kurkunci (adalah besi kecil yang di tajamkan ujungnya dan memakai taji/sanggi-sanggi yang sengaja di buat sebagai alat pelengkap Kalawai, yang kemudian akan di pakai pada posisi tertentu, ketika fungsi dari Kalawai tidak terlalu maksimal). Dan tentunya memakai lampu petromax atau obor (untuk jaman tradisional), juga alat penampung ikan, yaitu bakul dari anyaman bambu..

Balobe seringkali memberikan jaminan penghasilan yang memuaskan ketimbagng Bemeti di siang hari, sebab pada malam hari ikan atau Gurita terkesan jinak tinggal di potong atau di tikam memakai Kalawai atau Kurkunci. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

TRADISI BAMETI

Tradisi ini dapat terlihat di negeri-negeri pada umumnya di Maluku. Tetapi tidak semua negeri-negeri dapat melakukan tradisi ini, sangat mungkin bagi negeri-negeri yang memiliki hamparan pantai yang luas, ketika air surut, dapat mengeringkan sampai ratusan meter mulai dari tepi pantai. fenomena alam ini yang kemudian disebut orang-orang Maluku dengan "air Meti" (air surut). Sementara air pasang di sebut (air pono). Di pulau Lease banyak negeri-negeri yang sering melakukan "tradisi bameti" ini. 

Tradisi bameti adalah suatu bentuk pencaharian sampingan ketika kebutuhan bahan konsumsi daging ikan mahal di pasar bagi negeri-negeri yang berada di pesisir pantai. Maka alternatifnya banyak orang mulai bameti. Dapat dikatakan kegiatan ini adalah sebuah tradisi turun temurun, dari generasi terdahulu di Maluku yang benar-benar telah terbiasa memiliki kekayaan laut yang lebih dominan. Alasan tradisi di atas, adalah alasan masa kini, tetapi dalam sejarah bameti lazimnya, itu hanya dilakukan pada waktu musim gelombang, yang tidak memungkinkan pencaharian memakai perahu sehingga bameti benar-benar di jadikan pilihan utama semua orang untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yaitu dari sesuatu yang berasal di laut. Sebab bagi orang Maluku yang tinggal di pesisir pantai makan tanpa Ikan atau alternatif hewani lainnya dari laut, akan mengurangi nafsu makan mereka. Fakta inilah yang melatarbelakangi tradisi bameti ini terpelihara sampai sekarang. 

» Read More...

SAGERU

Orang bilang mulut Ambon pung sadap, colo angka colo poro bibi tabala..
Sapa yang colo angka colo?.
Kal ikan bubara deng gete-gete bakar akang sama-sama tadudu di atas lesa.
Gete-gete tingal nama, sakali parop abis par kutok.
Untung di nama hilang balanja, gete-gete seng pung kepeng.

Bubara jadi maniso par gete-gete bukang di labuang Ambon saja,
akang tabawa sampe di kintal Ambon..
Ikan makang ikan, orang pung piring isi koyabu manjiling tampias baringing akang.
Seng makang jadi mampos, seng ada pilihan makang akang pung sisa jua mampos.!!
Rumpu dapa injang raci-raci….
Sapa pung kaki?

Sageru manis pait, katong minong sama-sama..
Bilang mabo, seng jua cuma sabotol..
Jhony Waker pung gengsi biking tampa dudu jadi beda..
Bilang mabo, seng jua cuma sabotol..
Mar kal ada yang mabo, sageru masu bui..

Sioo…. Dunia ini akang su virkan, seng bontal lai.
Akang pung tabiat su tabula-bale iko hadrak orang karas,
Gete-gete cuma jadi nonai ikang bubara..
Mau bilang seng pung nyali?
Gete-gete mau bataria par sapa?
Seng bisa nai klas, kalo labe pica mulu.

Mangkali ada tsunami…
Sio, mangkali ada tsunami jua…
kal mampos pi di kerko sama-sama…
Itu yang gete-gete pikir,
Gete-gete mau biking natsar..

Sebab mau panggel konco-konco?
paleng-paleng Lompa yang datang..
Paleng-paleng Gosau deng Make yang datang mau tulung gete-gete pung susah..
Susah mau tulung susah, dong samua klas nonai.
Laste dong berdoa minta tsunami, bubara seng pernah barobah. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

KABAUW; Kenali marga-marga di negeri ini

Berikut ini adalah marga-marga yang ada di Negeri Kabauw di Pulau Haruku.

1. Karepesina
2. Pattiasina
3. Pattikupa
4. Sella
5. Pattimahu
Demikianlah fam atau marga-marga yang terdapat di negeri Kabauw, yang di kenal dengan nama teon negeri "SAMASURU". [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

HARUKU; Kenali fam-fam di negeri ini

Berikut ini adalah marga-marga yang ada di negeri Haruku (negeri yang terkenal dengan tradisi sasi ikan Lompa), tepatnya di pulau Haruku. Sebagai berikut :

  1. Ferdinandus
  2. Latuharhary
  3. Mustamu
  4. Souisa
  5. Nirahua
  6. Ririmassa
  7. Kisya
  8. Mantouw
  9. Dobberd
  10. Kaihatu
  11. Titapasanea
  12. Tabalessy
  13. Pasalbessy
  14. Lesimanuaya
  15. Sellanno
  16. Bremer
  17. Lappy
  18. Hendatu
  19. Kakisina

Demikianlah fam-fam yang ada di negeri Haruku, yang di kenal dengan nama teon negeri : PELASONA NANUROKO. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

SIRI-SORI SALAM; Kenali marga-marganya

Berikut ini adalah fam-fam yang ada di negeri Siri-Sori Salam, di pulau Saparua:

1. Holle
2. Kaplale
3. Matuseya
4. Pattisahusiwa
5. Pelupessy
6. Saimima
7. Salatalohi
8. Sanaki
9. Sopaheulakan
10. Pattiha
11. Oktoseja
Demikanlah fam atau marga-marga yang ada di negeri Siri-Sori Amapatti (SALAM). [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

AMBONES DI ANTARA HOLLAND DENGAN ESPANYOL; Kilas balik piala dunia 2010

Kilas balik beberapa bulan kemarin di Maluku,di website-website portal, media-media lokal, juga media elektronik menampilkan satu euporiah World Cup 2010 yang semaraknya mempengaruhi sampai ke penjuru Maluku, dan kota Ambon secara khusus yaitu di antara para maniak/pencita/fans sepak bola antar negera-negara di dunia itu.

Suatu fakta di Maluku, bahwa tim Singa Oranye dari Belanda mendapat presentasi lebih di antara fans bola dari negara yang lain, yang berlaga pada World Cup di Afrika Selatan kemarin. Terbukti begitu maraknya euphoria fans fanatik tim Oranye, dengan bendera-bendera yang dipasangkan di atas gedung, di atas pohon-pohon yang mencolok agar menarik perhatian orang. baleho-beleho begitupun spanduk yang dipasangkan di ruas-ruas jalan, dan konvoi-konvoi kendaraan bermotor yang berlanjut dalam jumlah ribuan setelah kemengan tim Oranye setiap laga pamungkasnya di World Cup (info: yang paling menghebohkan adalah saat Oranye menaklukan Tim Samba Brazil 1-2, Polisi lalu lintas menjadi repot sekali di jalan raya karena jumlah konvoi kendaraan bermotor membanjiri jalan raya kota Ambon Manise).

Klimaksnya ketika Belanda dikalahkan oleh tim Matador Spayol di partai final, dapat diprediksikan oleh kita semua, pasti akan memicuh beragam konflik di kota Ambon dan sekitarnya. Jujur sebagai fans sejati The Holland, saya tidak setuju dengan fanatisme yang berlebihan dari rekan-rekan (sesama fans) yang berlaku anarkis dan tidak realistis ini. Jika di akhir euphoria yang situasional seperti World Cup 2010, harus menanamkan dampak dekonstruktif di masa kekinian pembangunan kota Ambon yang sudah berangsur membaik dari situasi-situasi sebelumnya.
Menjelang World Cup 2010 sampai pada partai Semi Final di mata para fans Belanda di Kota Ambon, bahwa salah satu alasan dari yang lainnya, yaitu: ada nyong-nyong Ambon yang berkiprah di dalam timnas Belanda, saya setuju. Bahwa rasa memiliki, hegemoni sukuisme yang wajar, di mana tersimpul dalam frasa ALE RASA BETA RASA (Anda dan Saya turut merasakan suatu dari kondisi), atau KATONG SATU DARAH (kita satu ikatan geneologis) yang secara tidak langsung mencerminkan kultur kemalukuan dan terbangun saat perhelatan World Cup berlangsung. Yakni diharapkan menambah optimisme untuk generasi Maluku agar mampu menciptakan sejarah sebagai pemain sepak bola Maluku di masa-masa yang akan datang, dan berkaca dari prestasi yang telah mereka tontonkan adalah satu hal patut kita doakan dan upayakan dari semua pihak. Baik masyarakat maupun pemeritah.

Ironisnya, pada partai Final ketika Belanda kalah dari Spayol di masa-masa kritis perpanjangan waktu, efek yang saya cermati di kota Ambon, adalah justru kultur kolonial yang muncul secara sporadis dari sejumlah fans yang mengatakan diri mereka fans sejarti tim Oranye. Kultur kolonialisme muncul di antara para pencinta bola tim Belanda di Maluku; bahwa kecendrungan memaksakan kehendak seakan-akan Belanda (para fans) harus memenang atas Spayol (para fans) pada partai Final seperti pada partai 16 besar/8 besar sebelumnya. Hal ini yang disayangkan dan sangat disesali oleh saya.

Sehingga implikasi dari semuanya itu emosional yang berlebihan akhirnya meledak, ketika dengan satu, dua, atau tiga alasan sepele yang terjadi secara alami di antara para fans Belanda VS fans Spanyol, kemudian menghasilkan konfllik kekerasan. Paralelnya, saya hendak mengingatkan dan memberi alarm, demi terwujudnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas di Maluku dewasa ini, dan kedepannya; adalah kultur kemalukuan begitu penting untuk dimajukan, dan ditingkatkan. Yakni kembali menggali makna di dalam budaya Pela-Gandong, Lavur Ngabal, Kida Bela, Kai-wai, atau disimpulkan dalam Salam-Sarane. Dengan stabilitas keamanan dan kenyamanan kehidupan social masyarakat kota Ambon di masa kini adalah jaminan terbangunnya Maluku yang kuat di masa depan, dalam konteks menghasilkan produk pembangunan masyarakat yang berkualitas.
Sebaliknya, tingkatkan kesadaran kita masing-masing bahwa salah satu alasan mendasar di antara alasan yang lainnya, yaitu kecendrungan kita dan belum menyadari akan hal ini, bahwa “kultur kolonial yang meninggalkan bom waktu bagi konflik Maluku” (di kutip: Tim Penulis Majelis Ulama Indonesia, MERAJUT DAMAI DI MALUKU, Jakarta: pt intermasa, Cetakan 1). Ketidak hati-hatian dalam memperhitungan secara rasional bentuk-bentuk efek logis dari suatu aksi akan berpengaruh pada keberlangsungan hidup bersama sebagai suatu kehidupan masyarakat kota Ambon.

Dengan demikian hal ini patutlah untuk saling mengingatkan, agar tetap siuman kalau masyarakat kota Ambon memiliki dan tersimpul dalam dasar-dasar kultur kemalukuan yang positif dan sportif.
Justru tayangan live RCTI (saat partai Final world Cup 2010, setelah prosesi selebrasi kemenangan tim Spayol di atas tribun, dan sebelum memasuki lapangan untuk selebrasi lanjutan, timnas Belanda dengan sportivitasnya membuat pagar hidup dan memberikan ucapan selamat bagi tim Spayol) cukup jelas mengabadikan suatu momen yang berharga ini. Dan jarang dipertontonkan sebelumnya di ajang penuh gengsi partai Final seperti yang telah dipertontonkan oleh sportivitas timnas ORANYE terhadap rivalnya pada laga tersebut.

Terakhir sebelum menutup posting saya ini, fenomena langkah yang dipertontonkan secara live oleh timnas Belanda (termasuk di dalamnya ada Nyong-Nyong Ambon Blaster) dalam menjujung sportivitas mereka yang penuh dengan banyak sekali pesan moral, disesali salah di interpretasikan oleh fans fanatiknya di belahan bumi lain, yaitu di Maluku dan terkhususnya di Kota Ambon dan sekitarnya. [SA.95]

HUP HOLLAND..!!!!

» Read More...

TRADISI NANAKU

Ada suatu keunikan dari hampir seantero orang Maluku yang masih memakai tradisi ini hingga kini. Mungkin bagi orang lain yang ingin mengetahui tentang tradisi ini, dapat saya berikan beberapa contoh saja dari sekian banyak bentuk-bentuknya, sebagai generasi muda Maluku yang memberikan apresiasi tersendiri atas tradisi orang tatua (generasi terdahulu).

Tradisi “Nanaku” (menandai) yang saya maksudkan, adalah tanda-tanda, atau firasat yang ditandai dalam kaitan dengan suatu kejadian yang telah, sementara, dan bahkan yang akan terjadi nanti. Dan yang luar bisanya, tanda atau firasat yang termasuk dalam kategori tradisi Nanaku memiliki tingkat ketepatan yang akurat (sebab banyak pengalaman yang telah membuktikan itu dalam realitas hidup masyarakat Maluku pada umumnya), dan lokus yang kemudian saya lihat disini, banyak terjadi di dalam tradisi Nanaku orang Lease dan Pulau Ambon.

1. Nanaku Ayam Kukuruku di Muka Pintu
Ketika seekor ayam jantan kukuruku (Berkokok) di muka pintu (di pintu depan/teras), adalah suatu tanda bagi pemiliki rumah tersebut, bahwa dalam waktu dekat akan ada seorang tamu (kerabat di tanah rantau/orang asing) yang akan berkunjung di rumahnya. Dan hal ini masih tetap dipercayai kualitas tanda ini oleh sebagian masyarakat besar masyarakat Maluku (Lease dan yang berada di Pulau Ambon).
Sama dengan Ayam kukuruku, realitas serupa dapat di Nanaku juga dalam bentuk yang lain. Seperti kupu-kupu yang dengan sengaja hinggap di gorden jendela teras rumah mereka, atau di kamar keluarga, sudah cukup ditandai dan memberi artian bahwa dalam waktu dekat ada tamu (bisa saja keluarga dekat mereka/atau juga orang lain) yang akan berkunjung di rumah mereka.


2. Nanaku Belalang Anusang
Jika seekor belalang Anusang (yang berwarna hijau polos), yang kebetulan hinggap di dinding ruang tamu, atau di di dinding dapur, dll, dimaknai bahwa dalam waktu dekat, akan ada berkat atau rejeki yang akan dimiliki oleh keluarga tersebut. Dalam bentuk materi atau juga dalam bentuk-bentuk yang lain.
Realitas yang sama, di tandai (di nanaku) lewat telapak tangan yang tiba-tiba gatal. Bahwa tanda tersebut adalah sinyal bahwa orang tersebut akan mendapatkan uang, atau rejeki.
Namun ada sedikit klasifikasi, tergantung dari setiap orang yang menandainya, misalkan, kalau telapak tangan kiri yang terasa gatal, maka itu adalah tanda mendapatkan uang atau rejeki. Sementara telapak tangan kanan yang gatal, justru akan ada pengeluaran uang yang banyak dari sakunya; atau sebaliknya tergantung tiap-tiap orang yang sering menandainya.

3. Nanaku Mata Bagara
Ketika mata bagara (mata bergerak/kelilipan) bagi orang Maluku (orang Lease dan pulau Ambon) ditandai dalam dua sisi yang berbeda. Tergantung setiap orang yang menandainya. Misalkan mata sebelah kiri yang bagara, itu ditandai sebagai suatu kejadian duka yang akan ditemukan dalam waktu dekat dengan sanak keluarganya.
Sebaliknya untuk mata sebelah kanan, di tandai sebagai situasi yang sebaliknya, yaitu kejadian membahagiakan yang terkait dengan sanak saudara mereka.

4. Nanaku Bulan Pake Payong
Nanaku bulan pake payong (cahaya bulan terang pada waktu malam, dengan biasan cahaya seperti lingkaran yang mengitari bulan tersebut), di tandai sebagai dalam negeri/desa tersebut ada yang mau melangsungkan perkawinan dalam waktu dekat.
Dan menurut tradisi yang berlaku dalam konsep berpikir orang Lease atau orang-orang di pulau Ambon, “kawin lari” (salah satu jenis tradisi perkawinan di Maluku) selalu ditandai dengan fenomena bulan pake payong tersebut.

5. Nanaku Awan Basisik
Jika pada malam siang hari dan malam harinya, kelihatan bentuk awan bersisik maka di tandai bahwa akan ada “ikan mati” (sebutan yang menjelaskan suatu fenomena musim panen/tangkapan ikan pada jenis tertentu : misalnya ikan Tuna (cakalang) Ikan Teri (Make), dll.) dalam waktu dekat.

6. Nanaku Cicak Kete-kete
Jika suatu pembicaraan serius yang berlangsung dalam pertemuan/musyawarah keluarga atau yang lain sebagainya, dan terdengar suara cicak di dinding yang bercuat (kete-kete), di maknai dari audiens yang turut terlibat dalam suatu musyawarah, bahwa apa yang di bicarakan/atau disampaikan oleh salah seorang, dan secara kebetulan cicak kete-kete bersamaan dengan isi pesannya atau informasinya, adalah suatu kebenaran.
Untuk itu setelah cicak kete-kete, maka seluruh orang yang ada di dalam ruang tersebut spontan akan mengentuk jarinya di atas meja, atau kursi yang ada di dekat tempat duduk mereka. hal ini sebagai tanda untuk merespon suatu kebenaran berita, pesan, atau informasi tersebut.

7. Dll.

» Read More...

HARIA; kenali marga-marganya

Inilah daftar merga-marga yang ada di Negeri Haria, pulau Saparua :

1. Hattu
2. Kainama
3. Kaya
4. Latupeirissa
5. Lohy
6. Leihitu
7. Leuwol
8. Loupatty
9. Manuhutu
10. Pelamonia
11. Picarima
12. Putuhena
13. Ruhulessin
14. Samalohi
15. Sauleka
16. Souhoka
17. Souisa
18. Takaria
Demikianlah marga-marga yang ada di negeri Haria. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

AKOON; ketahui marga-marganya

Berikut ini adalah fam-fam yang ada di negeri Akoon di pulau Nusalaut:

1. Anakotapary
2. Berhitu
3.Wairisal
4. Leuwol
5. Loupatty
6. Mailoa
7. Marwa
8. Matatula
9. Nahuway
10. Samallo
11. Tahapary
12.Dominggos
13. Tutupary
14. Wattimena

» Read More...

AMETH; kenali marga-marganya

Berikut ini adalah fam-fam yang ada di negeri Ameth di pulau Nusalaut :

1. Aponno
2. Ayawaila
3. Berhittu
4. Frans
5. Hehanussa
6. Hetharua
7. Holle
8. Hukom
9. Hursepuny
10. Kakiailatu
11. Kakiai
12. Mailoa
13. Mairuhu
14. Manduapessy
15. Molle
16. Nasrany
17. Paais
18. Parinussa
19. Pattianakotta
20. Pattiasina
21. Pattinasarany
22. Pelupessy
23. Picauly
24. Rumailal
25. Rusimalesi
26. Sahusiwa
27. Samallo
28. Sepanari
29. Siahainenia
30. Simatau
31. Sitaniapessy
32. Sopacua
33. Soumokil
34. Tarumaseley
35. Titahalawa
36. Tupanno
37. Turumena
38. Turubasa
39. Waerisal
40. Wakanno
41. Wattimena

» Read More...

ABUBU; ketahui marga-marganya

Berikut ini adalah fam yang ada di Negeri Abubu, di pulau Nusalaut sedikit informasi bahwa di negeri inilah tempat di lahirkan seorang pahlawan perempuan di jaman VOC Belanda. Yaitu Martha Christina Tiahahu, yang bersama-sama dengan kapitan Pattimura memerangi VOC Belanda pada saat itu:
1. Apitula
2. Asohorty
3. Aunalal
4. Hilaul
5. Hitirissa
6. Huka
7. Karual
8. Lalopua
9. Leasiwal
10. Lekahena
11. Leleury
12. Lelsury
13. Lessil
14. Maerissa
15. Maiheuw
16. Manuputty
17. Manusama
18. Masesua
19. Monipola
20. Pahar
21. Parihala
22. Pattiselanno
23. Peilouw
24. Picanussa
25. Picauria
26. Sahetappy
27. Samu-samu
28. Seumaru

» Read More...

ABORU; ketahui marga-marganya

Berikut adalah fam-fam yang ada di Negeri Aboru yang berada di Pulau Haruku. Adalah sebegai berikut :

1. Akiary
2. Mual
3. Nahumury
4. Riri
5. Saija
6. Sengadji
7. Sinaij
8. Teterissa
9. Usmani
10. Yesayas
11. Malawau
12. Tepal
13. Tuanakota
14. Manusiwa

» Read More...

Kenali fam di Negeri Booi

Berbicara di Maluku, banyak sekali terdapat marga atau fam yang didituliskan pada nama belakang seseorang, misalkan pada nama saya Jimmy "Pattiasina". Mungkin tidak ada yang istimewah jika dilihat sekilas dari fam-fam tersebut.

Namun secara filosofi, nama belakang, atau fam atau marga ini memiliki pengertian tersendiri dalam sejarah masing-masingnya. Tetapi pada postingan kali ini, saya tidak menampilkan artian dari nama fam-fam tersebut. Hanya mencoba menampilkan dalam beberapa postingan nanti daftar list fam-fam, berdasarkan negeri-negeri di pulau Lesae.

Untuk itu saya mulai dari negeri Booi, yang juga adalah negeri asal saya. siapa tau bermanfaat bagi anda sekalian yang membaca postingan ini :

Di negeri Booi, fam-famnya sebagai berikut :
1. Pattiasina (keturunan Raja)
2. Wenno
3. Werinussa (Raja Negeri Lama)
4. Taberima
5. Talane
6. Tahalele
7. Tabelessy
8. Lesilolo
9. Nanulaitta (keturunan kapitan)
10. Ritawaemahu
11. Hatusupi (keturunan kapitan)
12. Hahury
13. Huliselan
14. Hukom
15. Soumokil
16. Souisa
17. Amahorseya
18. Siahainenia
19. Polnaya
20. Malaihollo

21. Hehanussa
22. Melatunan (sudah hilang)

» Read More...

GULA-GULA SU DAPA BAGE


Dari timor tanpa matahari nae
Bobou anyer ikang dalam darah, tabungkus lautan biru biking kariting rambu

Rampah-rampah kas karas mayat
konon cengkeh deng pala saudagar pung suka-suka
konon negeri raja-raja tasiar ka ujung bumi, tinggal nama malintang karna jakarta

Mangapa tinggal sacubi
Mangapa tinggal saloko
Mangapa tinggal saontal
Batu itang su jadi lombo seng sangka dapa tipu

Woe..!!!!
Jang baku hela rotang
Jang iko mat babunyi tipa jawa
Bangsa jual bangsa
Dapa doti deng gula-gula

Woe...!!!
Sempe tampa papeda sagu tumpa jatuh di atas lesa
Bukang aer uanau mar akang batali.
Seng tacere jujaro mungare
Itu tabiat ilahi, inga akang sampe mampos

Arika..!!!

Arika..!!!

Gula-gula sudapa bage
Biking mulu manis
Mar ludah karing di tanah, dalam mulu salobar kombali
Lebe bae bagia deng surut
Lebe bae biji doriang asar di atas parapara

Biar kasiang, berharga di hati
Biar Jauh di mata dekat di hati
Pela deng gandong mari katong badati
Jang lupa itu jaga akang sampe mati.

By : [S.A.95] J.Pattiasina























» Read More...

Google+ Followers

Followers

Selamat datang di blog beta TRADISI MALUKU, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga bermanfaat bagi anda!!