Kami masih terus hidup disana; di Maraina.
meskipun harus ada yang mati, meninggalkan nama dan marga.
Kami masih terus berjalan kaki sampai hari ini,
itupun sejak dahulu nenek moyang kami alami..
Kami bingung warga negara kami apa,
Indonesa; benar ataukah tidak? Kami beralasan guru tak ada, tanya kenapa?.
» Read More...
Tak diragukan lagi kekuatan hidup orang basudara sebagai dasar perekat dalam setiap bangunan Tradisi dan Budaya di dalam konteks orang Maluku, terus menampilkan beragam cerita hebat, meskipun bagi mereka yang mengalaminya hanya sebagai cerita yang sederhana.
Mulai dari pengalaman pribadi, komunitas, dan bahkan pengalaman antar negeri di Maluku seakan terus menuju pada suatu tujuan yang sama hingga di tahun 2014 ini, setelah pernah mengalami pengalaman pahit di tahun awal 1999. Tetapi seakan semua manusia Maluku punya cara yang spesial untuk menciptakan dan memperbaharui relasi antar hidup orang basudara (dalam hal ini, antara suku dan agama) maka ada sekian banyak kisah yang dapat terekam dalam tulisan atau lewat media lainnya, dan kemudian menjadi referensi berharga bagi orang lain untuk mencari inspirasi, salah satunya bagi para pencita damai di belahan dunia ini.
Tak sengaja kemarin, kemarin ketika saya membuka akun facebook saya, ada suatu cerita menarik namun dikemas begitu sederhana dalam gaya bahasa apa adanya, seakan melaporkan secara terperinci kenyataan yang saat itu terjadi di daerah Maluku Utara, tempat dimana salah seorang teman saya
Benli Pattiheuwean yang melakukan kegiatan Vikariat dari Gereja Protestan Maluku di Jemaat Falabisahaya, mengungkapkan sebuah pengalaman berharga pada saat itu, dan begini penuturannya di dalam akun Facebook pribadinya:
» Read More...
Sajak ini penuh rangsangan yang dahsyat, seperti ereksi alat vital untuk pemenuhan kenikmatan, saat selera pembangkit rasa dan karsa untuk melakukan mesum, padahal dahulu itu suci.
Sajak ini awal dari cerita erotis "ale deng beta" tentang daging mentah yang dipanggang dan ditaburi rempah, sehingga nikmat sekali saat dilumat seorang lelaki kelas atas; yang ternyata seperti sedang bersenggama dengan perawan yang memiliki belahan dada berisi.
Sajak ini tertuang seperti warna anggur yang memikat dipandang mata, saat pertama kalinya diteguk mengeluarkan aroma surgawi, sehingga sang pangeran terkejut dan menanyakan dari mana gerangan sumber rasa ini.?
Sajak ini membungkam prestasi nilai berlian dan emas, saat dahulu para saudagar kaya raya dan juga bangsawan mempertaruhkan kehormatannya untuk berkudis-kudisan di daratan bahkan harus mati diterpa gelombang laut, demi sekantong Cengkih, Pala, Kayu Manis bahkan Lada tiga warna.
Dan bahkan sajak ini penuh emosi, namun tak menyombongkan diri atau bahkan untuk menepuk dada, tentang jalur Spice islands sebagai tonggak sejarah dunia, yang kini telah kabur dan lenyap termakan usia.
Kudamati, 16 November 2013
Jimmy Pattiasina
» Read More...
Mereka
bilang ada yang hebat,
Mereka
bilang ada yang tak terhingga,
Dan mereka juga
bilang ada yang tak berujung,
Yah… Aku
mulai mendengar, mengerti dan memahami arti tentang hidup.
Yaitu
diawali sebuah tangisan dialam fana;
dan diakhiri
pula dengan banyak tangis perpisahaan sebagai tanda.
Mereka
bilang yang tak kelihatan itu ada,
Mereka
bilang yang tak berwujud sejatinya memiliki wujud,
Dan mereka
juga bilang, jika ada tiga di dalam satu,
Yah….. Adapun realitas “three in one”; dan aku mulai
memahami apa artinya
sebuah
tulisan tanpa seorang penulis atau sebuah kisah tanpa seorang pengarang yang
menaskahi cerita.
» Read More...
Saya memang pernah menulis tentang
"TRADISI NA'HAS", dan posting kali ini adalah salah satu bentuk pembuktian secara material bahwa Tradisi ini benar-benar masih terpelihara sampai hari ini.
Dari beberapa sumber yang pernah saya temui, dan dalam upaya pencarian data dan informasi tentang Tradisi ini, semakin menambah keingintahuan saya, ketika saya mendapatkan beberapa "catatan Na'has" dari beberapa sumber secara terpisah (dari orang-orang dengan latar belakang negeri-negeri yang berbeda pula), sehingga mengarahkan temuan saya kepada kesamaan dalam catatan Na'has sebelumnya. Tetapi ada asumsi saya, bahwa pasti ada catatan Na'has yang berbeda dari lazimnya yang sudah saya temui.
Dan pada tanggal 20 Oktober 2013, saya bertemu dengan salah seorang
kepala Tukang di
Negeri Booi, beliau (
Burmanus Nanulaitta, umur 78 Tahun) menjelaskan tentang posisi sentral dari Tradisi Na'has, dengan diberikan kepada saya juga suatu catatan Na'has yang sudah berusia di atas 50 tahun (dapat anda lihat gambarnya di samping ini), sebagai salah satu panduan dasar bagi beliau yang kesehariannya menjadi seorang (salah satu) kepala tukang Senior di
Negeri Booi, untuk menentukan mana waktu atau saat yang baik dalam memulai suatu pekerjaan pertukangan, membangun rumah, membangun gedung (sekolah, puskesmas, gereja), memotong bahan kayu untuk bangunan, mendirikan tiang bermula, membuat
"adat bunu peng" (adat syukuran atas pembangunan sebuah bangunan rumah maupun gedung), dll. Artinya posisi dan pengaruh Tradisi Na'has begitu berpengaruh dan turut menentukan sukses dan tidaknya suatu pekerjaan.
» Read More...