Selamat bertemu lagi saudara-saudari (basudara) tercinta, kali ini beta mau posting sesuatu yang agak berbeda, dan tentunya untuk menjawab penasaran para pembaca Tradisi Maluku yang mungkin saja menunggu posting terbaru. Kali ini ada tiga buah kapata dari orang Ullath di Pulau Saparua, yang sempat beta dapat 2 tahun kemarin dari salah satu sumber.
Sedikit penjelasan tentang kapata; menurut Leunard Heppy Lelapary
Tradisi lisan kapata, yaitu bentuk bahasa yang secara khusus digunakan oleh masyarakat dalam upacara adat, dengan irama tertentu, tersusun dalam larik-larik dan disampaikan dalam bentuk monolog maupun dialog. Bentuk tersebut hanya digunakan pada upacara-upacara adat pada masyarakat pemakai, seperti pada upacara panas pela, upacara pelantikan raja, upacara perkawinan dan upacara-upacara lainnya yang sejenis, dan digunakan oleh orang-orang tertentu, seperti kepala desa atau tua adat (sesepuh desa) yang menguasai adat.
» Read More...
Izinkan kalimat ini istori;
Yaitu tentang kisah yang batumbu indah,
semenjak warna rambut putih satu-satu, sampe akang su pono anteru saat ini.
Izinkan kalimat ini berandai;
Jika bisa, waktu tolong kas bale beta
kombali dolo, yaitu di taong yang sudah-sudah.
Izinkan kalimat ini mengenang;
Saat antua pulang pasar hari tiga, beta
salalu dapa nasi pulut bulu, cucur, deng beta pung makanan cinta; nasi katang
yang baliling-baliling.
» Read More...
Johannes Leimena (anak kedua dari empat anak pasangan Dominggus Leimena
dan Elizabeth Sulilatu) lahir tanggal 6 Maret 1905 di Ambon. Ia
keturunan keluarga besar Leimena dari Desa Ema di Pulau Ambon dan
dikenal dengan nama panggilan "Oom Jo". Ia seorang Kristen yang berbudi
luhur. Ayahnya seorang guru, dengan demikian ia terhitung keturunan
golongan menengah (pada saat itu). Pada usia lima tahun Johannes telah
menjadi yatim. Kemudian ibunya menikah lagi, dan ia diasuh oleh
pamannya.
Johannes kecil awalnya bersekolah di "Ambonsche
Burgerschool" di Ambon karena paman yang mengasuhnya menjadi kepala
sekolah di sana. Kemudian pamannya dipindahkan ke Cimahi.
Keberangkatannya ke Cimahi merupakan titik balik dan kisah tersendiri
bagi Johannes. Sebenarnya ibunya bersikeras tidak mengizinkan Johannes
pergi, namun ia nekat menyelinap ke kapal dan baru menampakan diri saat
kapal hendak bertolak. Tindakan nekatnya itu membuat ibunya pasrah dan
berpesan agar pamannya mau menjadi pelindung baginya. Didikan pamannya
yang penuh disiplin berhasil menempa Johannes dan menjadikannya murid
yang berprestasi.
Tahun 1914, Johannes hijrah ke Batavia bersama
pamannya. Di Batavia, Johannes melanjutkan studinya di "Europeesch
Lagere School" (ELS), namun studinya hanya beberapa bulan saja, lalu ia
pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (sekolah untuk anak asli
orang Belanda, kini PSKD Kwitang), dan tamat tahun 1919. Setelah
menyelesaikan sekolah dasarnya, Johannes memilih sekolah campuran dari
berbagai golongan, yaitu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan
tamat tahun 1922.
» Read More...
Masa kecil. Gerrit
Augustinus Siwabessy terlahir sebagai bungsu dari empat bersaudara pada
19 Agustus 1914 di Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Enoch
Siwabessy, ayahnya, seorang petani cengkeh, meninggal dunia ketika
Gerrit baru berusia satu tahun. Ibunda Naatje Manuhutu kemudian menikah
lagi dengan Yakub Leuwol, seorang guru sekolah dasar terpandang. Hal ini
memungkinkan Gerrit menjalani pendidikan dasar dan menengah dengan
baik. "Beta selalu menyertai tuan guru Leuwol yang berturut-turut
ditempatkan sebagai guru di Larike, Tawiri dan Lateri," begitu tulis
Siwabessy dalam memoarnya.
» Read More...