KABAUW; Kenali marga-marga di negeri ini

Berikut ini adalah marga-marga yang ada di Negeri Kabauw di Pulau Haruku.

1. Karepesina
2. Pattiasina
3. Pattikupa
4. Sella
5. Pattimahu
Demikianlah fam atau marga-marga yang terdapat di negeri Kabauw, yang di kenal dengan nama teon negeri "SAMASURU". [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

HARUKU; Kenali fam-fam di negeri ini

Berikut ini adalah marga-marga yang ada di negeri Haruku (negeri yang terkenal dengan tradisi sasi ikan Lompa), tepatnya di pulau Haruku. Sebagai berikut :

  1. Ferdinandus
  2. Latuharhary
  3. Mustamu
  4. Souisa
  5. Nirahua
  6. Ririmassa
  7. Kisya
  8. Mantouw
  9. Dobberd
  10. Kaihatu
  11. Titapasanea
  12. Tabalessy
  13. Pasalbessy
  14. Lesimanuaya
  15. Sellanno
  16. Bremer
  17. Lappy
  18. Hendatu
  19. Kakisina

Demikianlah fam-fam yang ada di negeri Haruku, yang di kenal dengan nama teon negeri : PELASONA NANUROKO. [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

SIRI-SORI SALAM; Kenali marga-marganya

Berikut ini adalah fam-fam yang ada di negeri Siri-Sori Salam, di pulau Saparua:

1. Holle
2. Kaplale
3. Matuseya
4. Pattisahusiwa
5. Pelupessy
6. Saimima
7. Salatalohi
8. Sanaki
9. Sopaheulakan
10. Pattiha
11. Oktoseja
Demikanlah fam atau marga-marga yang ada di negeri Siri-Sori Amapatti (SALAM). [S.A.95] J.Pattiasina

» Read More...

AMBONES DI ANTARA HOLLAND DENGAN ESPANYOL; Kilas balik piala dunia 2010

Kilas balik beberapa bulan kemarin di Maluku,di website-website portal, media-media lokal, juga media elektronik menampilkan satu euporiah World Cup 2010 yang semaraknya mempengaruhi sampai ke penjuru Maluku, dan kota Ambon secara khusus yaitu di antara para maniak/pencita/fans sepak bola antar negera-negara di dunia itu.

Suatu fakta di Maluku, bahwa tim Singa Oranye dari Belanda mendapat presentasi lebih di antara fans bola dari negara yang lain, yang berlaga pada World Cup di Afrika Selatan kemarin. Terbukti begitu maraknya euphoria fans fanatik tim Oranye, dengan bendera-bendera yang dipasangkan di atas gedung, di atas pohon-pohon yang mencolok agar menarik perhatian orang. baleho-beleho begitupun spanduk yang dipasangkan di ruas-ruas jalan, dan konvoi-konvoi kendaraan bermotor yang berlanjut dalam jumlah ribuan setelah kemengan tim Oranye setiap laga pamungkasnya di World Cup (info: yang paling menghebohkan adalah saat Oranye menaklukan Tim Samba Brazil 1-2, Polisi lalu lintas menjadi repot sekali di jalan raya karena jumlah konvoi kendaraan bermotor membanjiri jalan raya kota Ambon Manise).

Klimaksnya ketika Belanda dikalahkan oleh tim Matador Spayol di partai final, dapat diprediksikan oleh kita semua, pasti akan memicuh beragam konflik di kota Ambon dan sekitarnya. Jujur sebagai fans sejati The Holland, saya tidak setuju dengan fanatisme yang berlebihan dari rekan-rekan (sesama fans) yang berlaku anarkis dan tidak realistis ini. Jika di akhir euphoria yang situasional seperti World Cup 2010, harus menanamkan dampak dekonstruktif di masa kekinian pembangunan kota Ambon yang sudah berangsur membaik dari situasi-situasi sebelumnya.
Menjelang World Cup 2010 sampai pada partai Semi Final di mata para fans Belanda di Kota Ambon, bahwa salah satu alasan dari yang lainnya, yaitu: ada nyong-nyong Ambon yang berkiprah di dalam timnas Belanda, saya setuju. Bahwa rasa memiliki, hegemoni sukuisme yang wajar, di mana tersimpul dalam frasa ALE RASA BETA RASA (Anda dan Saya turut merasakan suatu dari kondisi), atau KATONG SATU DARAH (kita satu ikatan geneologis) yang secara tidak langsung mencerminkan kultur kemalukuan dan terbangun saat perhelatan World Cup berlangsung. Yakni diharapkan menambah optimisme untuk generasi Maluku agar mampu menciptakan sejarah sebagai pemain sepak bola Maluku di masa-masa yang akan datang, dan berkaca dari prestasi yang telah mereka tontonkan adalah satu hal patut kita doakan dan upayakan dari semua pihak. Baik masyarakat maupun pemeritah.

Ironisnya, pada partai Final ketika Belanda kalah dari Spayol di masa-masa kritis perpanjangan waktu, efek yang saya cermati di kota Ambon, adalah justru kultur kolonial yang muncul secara sporadis dari sejumlah fans yang mengatakan diri mereka fans sejarti tim Oranye. Kultur kolonialisme muncul di antara para pencinta bola tim Belanda di Maluku; bahwa kecendrungan memaksakan kehendak seakan-akan Belanda (para fans) harus memenang atas Spayol (para fans) pada partai Final seperti pada partai 16 besar/8 besar sebelumnya. Hal ini yang disayangkan dan sangat disesali oleh saya.

Sehingga implikasi dari semuanya itu emosional yang berlebihan akhirnya meledak, ketika dengan satu, dua, atau tiga alasan sepele yang terjadi secara alami di antara para fans Belanda VS fans Spanyol, kemudian menghasilkan konfllik kekerasan. Paralelnya, saya hendak mengingatkan dan memberi alarm, demi terwujudnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas di Maluku dewasa ini, dan kedepannya; adalah kultur kemalukuan begitu penting untuk dimajukan, dan ditingkatkan. Yakni kembali menggali makna di dalam budaya Pela-Gandong, Lavur Ngabal, Kida Bela, Kai-wai, atau disimpulkan dalam Salam-Sarane. Dengan stabilitas keamanan dan kenyamanan kehidupan social masyarakat kota Ambon di masa kini adalah jaminan terbangunnya Maluku yang kuat di masa depan, dalam konteks menghasilkan produk pembangunan masyarakat yang berkualitas.
Sebaliknya, tingkatkan kesadaran kita masing-masing bahwa salah satu alasan mendasar di antara alasan yang lainnya, yaitu kecendrungan kita dan belum menyadari akan hal ini, bahwa “kultur kolonial yang meninggalkan bom waktu bagi konflik Maluku” (di kutip: Tim Penulis Majelis Ulama Indonesia, MERAJUT DAMAI DI MALUKU, Jakarta: pt intermasa, Cetakan 1). Ketidak hati-hatian dalam memperhitungan secara rasional bentuk-bentuk efek logis dari suatu aksi akan berpengaruh pada keberlangsungan hidup bersama sebagai suatu kehidupan masyarakat kota Ambon.

Dengan demikian hal ini patutlah untuk saling mengingatkan, agar tetap siuman kalau masyarakat kota Ambon memiliki dan tersimpul dalam dasar-dasar kultur kemalukuan yang positif dan sportif.
Justru tayangan live RCTI (saat partai Final world Cup 2010, setelah prosesi selebrasi kemenangan tim Spayol di atas tribun, dan sebelum memasuki lapangan untuk selebrasi lanjutan, timnas Belanda dengan sportivitasnya membuat pagar hidup dan memberikan ucapan selamat bagi tim Spayol) cukup jelas mengabadikan suatu momen yang berharga ini. Dan jarang dipertontonkan sebelumnya di ajang penuh gengsi partai Final seperti yang telah dipertontonkan oleh sportivitas timnas ORANYE terhadap rivalnya pada laga tersebut.

Terakhir sebelum menutup posting saya ini, fenomena langkah yang dipertontonkan secara live oleh timnas Belanda (termasuk di dalamnya ada Nyong-Nyong Ambon Blaster) dalam menjujung sportivitas mereka yang penuh dengan banyak sekali pesan moral, disesali salah di interpretasikan oleh fans fanatiknya di belahan bumi lain, yaitu di Maluku dan terkhususnya di Kota Ambon dan sekitarnya. [SA.95]

HUP HOLLAND..!!!!

» Read More...

TRADISI NANAKU

Ada suatu keunikan dari hampir seantero orang Maluku yang masih memakai tradisi ini hingga kini. Mungkin bagi orang lain yang ingin mengetahui tentang tradisi ini, dapat saya berikan beberapa contoh saja dari sekian banyak bentuk-bentuknya, sebagai generasi muda Maluku yang memberikan apresiasi tersendiri atas tradisi orang tatua (generasi terdahulu).

Tradisi “Nanaku” (menandai) yang saya maksudkan, adalah tanda-tanda, atau firasat yang ditandai dalam kaitan dengan suatu kejadian yang telah, sementara, dan bahkan yang akan terjadi nanti. Dan yang luar bisanya, tanda atau firasat yang termasuk dalam kategori tradisi Nanaku memiliki tingkat ketepatan yang akurat (sebab banyak pengalaman yang telah membuktikan itu dalam realitas hidup masyarakat Maluku pada umumnya), dan lokus yang kemudian saya lihat disini, banyak terjadi di dalam tradisi Nanaku orang Lease dan Pulau Ambon.

1. Nanaku Ayam Kukuruku di Muka Pintu
Ketika seekor ayam jantan kukuruku (Berkokok) di muka pintu (di pintu depan/teras), adalah suatu tanda bagi pemiliki rumah tersebut, bahwa dalam waktu dekat akan ada seorang tamu (kerabat di tanah rantau/orang asing) yang akan berkunjung di rumahnya. Dan hal ini masih tetap dipercayai kualitas tanda ini oleh sebagian masyarakat besar masyarakat Maluku (Lease dan yang berada di Pulau Ambon).
Sama dengan Ayam kukuruku, realitas serupa dapat di Nanaku juga dalam bentuk yang lain. Seperti kupu-kupu yang dengan sengaja hinggap di gorden jendela teras rumah mereka, atau di kamar keluarga, sudah cukup ditandai dan memberi artian bahwa dalam waktu dekat ada tamu (bisa saja keluarga dekat mereka/atau juga orang lain) yang akan berkunjung di rumah mereka.


2. Nanaku Belalang Anusang
Jika seekor belalang Anusang (yang berwarna hijau polos), yang kebetulan hinggap di dinding ruang tamu, atau di di dinding dapur, dll, dimaknai bahwa dalam waktu dekat, akan ada berkat atau rejeki yang akan dimiliki oleh keluarga tersebut. Dalam bentuk materi atau juga dalam bentuk-bentuk yang lain.
Realitas yang sama, di tandai (di nanaku) lewat telapak tangan yang tiba-tiba gatal. Bahwa tanda tersebut adalah sinyal bahwa orang tersebut akan mendapatkan uang, atau rejeki.
Namun ada sedikit klasifikasi, tergantung dari setiap orang yang menandainya, misalkan, kalau telapak tangan kiri yang terasa gatal, maka itu adalah tanda mendapatkan uang atau rejeki. Sementara telapak tangan kanan yang gatal, justru akan ada pengeluaran uang yang banyak dari sakunya; atau sebaliknya tergantung tiap-tiap orang yang sering menandainya.

3. Nanaku Mata Bagara
Ketika mata bagara (mata bergerak/kelilipan) bagi orang Maluku (orang Lease dan pulau Ambon) ditandai dalam dua sisi yang berbeda. Tergantung setiap orang yang menandainya. Misalkan mata sebelah kiri yang bagara, itu ditandai sebagai suatu kejadian duka yang akan ditemukan dalam waktu dekat dengan sanak keluarganya.
Sebaliknya untuk mata sebelah kanan, di tandai sebagai situasi yang sebaliknya, yaitu kejadian membahagiakan yang terkait dengan sanak saudara mereka.

4. Nanaku Bulan Pake Payong
Nanaku bulan pake payong (cahaya bulan terang pada waktu malam, dengan biasan cahaya seperti lingkaran yang mengitari bulan tersebut), di tandai sebagai dalam negeri/desa tersebut ada yang mau melangsungkan perkawinan dalam waktu dekat.
Dan menurut tradisi yang berlaku dalam konsep berpikir orang Lease atau orang-orang di pulau Ambon, “kawin lari” (salah satu jenis tradisi perkawinan di Maluku) selalu ditandai dengan fenomena bulan pake payong tersebut.

5. Nanaku Awan Basisik
Jika pada malam siang hari dan malam harinya, kelihatan bentuk awan bersisik maka di tandai bahwa akan ada “ikan mati” (sebutan yang menjelaskan suatu fenomena musim panen/tangkapan ikan pada jenis tertentu : misalnya ikan Tuna (cakalang) Ikan Teri (Make), dll.) dalam waktu dekat.

6. Nanaku Cicak Kete-kete
Jika suatu pembicaraan serius yang berlangsung dalam pertemuan/musyawarah keluarga atau yang lain sebagainya, dan terdengar suara cicak di dinding yang bercuat (kete-kete), di maknai dari audiens yang turut terlibat dalam suatu musyawarah, bahwa apa yang di bicarakan/atau disampaikan oleh salah seorang, dan secara kebetulan cicak kete-kete bersamaan dengan isi pesannya atau informasinya, adalah suatu kebenaran.
Untuk itu setelah cicak kete-kete, maka seluruh orang yang ada di dalam ruang tersebut spontan akan mengentuk jarinya di atas meja, atau kursi yang ada di dekat tempat duduk mereka. hal ini sebagai tanda untuk merespon suatu kebenaran berita, pesan, atau informasi tersebut.

7. Dll.

» Read More...

Video Profile Negeri Booi

Isi Kamboti

Google+ Pung

Tampa Kaki

Selamat datang di blog TRADISI MALUKU.. Semoga bermanfaat bagi anda!!